
Advertise on podcast: Grace Alone Ministry
This podcast has
72 episodes
Language
IndonesianPublisher
Grace Alone MinistryExplicit
No
Date created
2020/02/06
Latest episode
2026/04/29
Average duration
54 min.
Release period
126 days
Description
Grace Alone Ministry adalah media pelayanan multimedia rohani Kristen yang berada di Indonesia. Kami memiliki panggilan untuk melayani kerajaan Allah di bidang multimedia seperti melalui siaran radio rohani dan penyediaan materi khotbah dan seminar Kristen yang dapat diakses secara global. Follow akun ini dan social media kami; Instagram: @gracealoneministry | Youtube: Grace Alone Ministry - GRAMI
Unlock Grace Alone Ministry podcast Email contact info,
Listeners & Audience details
Email contact information
Direct podcast contact details

Listeners
Audience numbers & engagement insights

Audience details
Podcast Insights

Podcast episodes
Check latest episodes from Grace Alone Ministry podcast
Kebutaan Yang Tak Tersembuhkan (2 Korintus 4:3-4) - Pdt. Yakub Tri Handoko
2026/04/29
Pelayanan tidak selalu menyenangkan. Setiap orang yang pernah menerjunkan diri ke dalam pelayanan dengan mudah dapat mengamininya. Ada kritikan dan fitnahan. Ada pula kegagalan dan kekecewaan. Tidak jarang bahkan ada penolakan dan pertentangan.Situasi yang sama juga dialami oleh Paulus pada saat dia menulis surat 2 Korintus. Sebagian jemaat tergiur dengan para rasul palsu (11:13) yang berusaha memikat hati jemaat demi mendapatkan keuntungan tertentu (2:17). Mereka juga membanding-bandingkan Paulus dengan para penyesat itu (12:11). Ditambah dengan kondisi pelayanan Paulus yang penuh dengan penderitaan, kelemahan dan penolakan (4:7-10), Paulus terlihat “kalah” dibandingkan para rasul palsu itu.Secara khusus, apa yang terjadi pada pelayanan Paulus sekilas tidak selaras dengan konsep pelayanan yang dia sudah terangkan di pasal 2-3. Bukankah Allah selalu membawa dia pada jalan kemenangan (2:14)? Bukankah pelayanannya di dalam Roh lebih hebat daripada pelayanan Musa (3:6-13)? Bukankah Roh memberikan kemerdekaan (3:17-18)? Lalu mengapa Paulus masih menghadapi penolakan?Situasi seperti ini memang tidak mudah bagi seorang pelayan Tuhan. Banyak orang mungkin berpikiran negatif terhadap dia. Penolakan dianggap kegagalan; kegagalan dianggap sebagai petunjuk ke arah ketidakberesan pelayan. Menghadapi situasi seperti ini, seorang pelayan Tuhan tidak jarang menjadi lemah.
Eksposisi Amos 3:3-8 - Pdt. Yakub Tri Handoko
2026/04/23
Banyak orang mengira kesuksesan sebagai tanda perkenanan Tuhan. Celakanya, definisi “kesuksesan” di sini dipahami secara duniawi. Jika semua yang terlihat baik – misalnya kesehatan, penghasilan, keamanan, dan kemakmuran – ada pada diri seseorang, orang itu sedang diberkati oleh Tuhan. Allah menyertai hidupnya.Dengan konsep semacam ini, orang yang merasa dirinya diperkenan oleh Tuhan cenderung meremehkan kesalahan-kesalahan mereka. Mereka berpikir bahwa Tuhan maklum dengan semuanya itu. Buktinya, Allah tetap memberikat berkat-berkat-Nya.Benarkah semua kesuksesan itu merupakan tanda perkenanan Tuhan? Benarkah perkenanan itu membuat Tuhan mengesampingkan kesalahan mereka? Khotbah hari ini akan menyediakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini.Teks kita hari ini, yaitu Amos 3:3-8, tidak boleh dipisahkan dari bagian sebelumnya (3:1-2). Seperti yang kita sudah pelajari bersama di khotbah sebelumnya, bangsa Israel menganggap sepi ucapan penghukuman yang diberitakan oleh Amos di 2:6-16. Mereka tidak percaya pada berita itu.Mengapa mereka tidak percaya? Alasan utama adalah keadaan mereka yang sedang baik-baik saja. Di bawah pemerintahan Raja Yerobeam II, bangsa Israel memiliki kekuatan militer yang kuat. Beberapa daerah yang sempat dikuasai oleh musuh berhasil direbut kembali. Secara ekonomi mereka juga berjaya. Banyak orang kaya di Israel. Secara relijius mereka juga masih mempersembahkan kurban dan merayakan ritual-ritual penting. Tuhan tampaknya sedang memberkati mereka. Teguran yang disampaikan oleh Amos di 2:6-16 terlalu dibesar-besarkan. Jika TUHAN tidak berkenan kepada mereka, mengapa mereka dalam keadaan yang nyaman, aman dan baik-baik saja?Alasan lain adalah posisi mereka sebagai umat Allah. Mereka adalah umat tebusan yang dilepaskan secara ajaib dari tanah Mesir. Mereka dijadikan umat perjanjian. Posisi mereka di antara segala bangsa sangat unik. Tidak ada bangsa lain seperti mereka.Rasa aman yang palsu seperti itulah yang mendorong mereka untuk mengabaikan dan menentang pemberitaan Amos. Sebagai respons terhadap mereka, Amos mengingatkan bahwa posisi sebagai umat TUHAN bukan jaminan dihindarkan dari hukuman (3:1-2). Dalam perjanjian itu sudah ada aturan: ketidaktaatan akan disikapi TUHAN dengan hukuman. Keadaan bangsa Israel yang terlihat baik-baik saja sebenarnya bukan tanda perkenanan dari Tuhan. Allah tidak berkenan pada pelbagai pelanggaran yang mereka lakukan. Hukuman Allah sudah disiapkan. Mereka perlu mendengarkan dengan kesungguhan. Dalam konteks seperti ini, Amos mengucapkan berita kenabian di 3:3-8.Melalui teks hari ini kita akan belajar beberapa konsep tentang hukuman Allah. Di dalam hukuman Allah kita menemukan keadilan sekaligus kemurahan-Nya. Keseriusan-Nya dalam menegakkan keadilan sama dengan keseriusan-Nya dalam menegakkan kita di atas kasih karunia-Nya.
Don't Waste Your Talent (Matius 25:14-30) - Pdt. Yakub Tri Handoko
2023/05/17
Apa maksud Yesus naik ke surga? Mengapa Yesus perlu naik ke surga? Bukankah seandainya Yesus tinggal di dunia jauh lebih menyenangkan? Apa yang sebenarnya kita nantikan melalui Dia dan apa yang Dia rindukan?
Eksposisi Filipi 4:1 - Pdt. Yakub Tri Handoko
2022/03/16
Kekuatan suatu nasihat atau perintah dipengaruhi oleh jenis dan kualitas relasi antara pemberi nasihat atau perintah dengan penerimanya. Perintah seorang raja jelas mengandung keharusan. Tidak melakukan bisa berakibat fatal. Nasihat seorang guru kadangkala menyiratkan konsekuensi negatif jika tidak dilakukan. Begitu pula dalam relasi sehari-hari. Kita cenderung tidak mengabaikan nasihat orang yang kita tidak kenal atau tidak percayai. Sebaliknya kedekatan relasi dan kepercayaan seringkali menjadi pendorong yang kuat bagi orang lain untuk melakukan apa yang dinasihatkan. Ada daya persuasi yang kuat di dalam relasi yang erat.
Itulah yang sedang dilakukan oleh Paulus di teks kita hari ini. Dia bukan hanya memberikan sebuah perintah kepada jemaat Filipi. Dia juga mengungkapkan kualitas relasi antara dirinya dengan jemaat. Ungkapan-ungkapan ini bukan sekadar perkataan manis yang menipu atau yang hanya manis di bibir saja (lip service). Tanpa diucapkan pun jemaat Filipi pasti sudah tahu, tetapi Paulus tetap merasa perlu untuk mengekspresikannya.
Eksposisi Amos 6:12-14 - Pdt. Yakub Tri Handoko
2022/03/09
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk rasional. Kita selalu berusaha untuk melihat dan menerangkan segala sesuatu (fenomena dan/atau fakta) sebagai sebuah kesatuan yang masuk akal (logika). Otak kita tidak dirancang untuk menerima kontradiksi. Walaupun kebenaran melampaui batasan logika, tetapi tidak ada kebenaran yang menabrak logika. Walaupun pengetahuan kita tidak bisa mencerna semua fakta yang ada, kita memahami kebenaran sebagai sesuatu yang selaras dengan fakta.
Bagaimana jika seseorang mempercayai sesuatu yang bertabrakan dengan fakta dan logika? Situasi seperti ini menunjukkan bahwa persoalan utama orang tersebut bukanlah persoalan intelektual. Bukan kurangnya data. Bukan kurangnya argumentasi. Persoalan orang itu adalah persoalan spiritual – emosional. Kenyamanan perasaan dijadikan tuan. Firman Tuhan ditolak sebagai pijakan kebenaran.
Teks kita hari ini menunjukkan bahwa orang percaya juga kadangkala terjebak pada kesalahan yang sama. Apa yang mereka pikiran bertabrakan dengan logika. Apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan fakta.
Kabar Baik Pembebasan (Lukas 4:16-21) - Pdt. Yakub Tri Handoko
2022/03/02
“Kebebasan” adalah hal yang dinantikan oleh banyak orang. Secara khusus, masa pandemi sejak tahun 2020 sampai sekarang telah menempatkan banyak orang dalam “penjara.” Sebagian orang terpenjara dalam kesedihan karena kehilangan orang yang mereka kasihi. Sebagian lagi terbelenggu dalam kekecewaan dan keputusasaan karena pekerjaan dan keluarga mengalami goncangan besar. Ada pula yang terikat dengan kekuatiran menghadapi tahun yang baru ini. Akankah tahun ini menjadi lebih baik daripada dua tahun terakhir?
Bebas dari Keinginan Duniawi (Yakobus 4:4-6) - Pdt. Yakub Tri Handoko
2022/02/23
Semua manusia pasti memiliki keinginan. Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang berpribadi. Kita memiliki pikiran, perasaan, dan kehendak. Jadi, memiliki keinginan, pada dirinya sendiri, tidak keliru, bahkan tidak terelakkan.
Yang sering menjadi masalah adalah objek dan motivasi keinginan. Apa yang kita ingini? Mengapa kita mengingini itu? Seberapa besar kita menginginkannya? Jika yang kita ingini adalah keliru dan kita begitu menginginkannya, kita sedang membawa diri kita ke dalam bahaya. Hati mengalahkan akal budi. Hawa nafsu menabrak segala sesuatu.
Careless Church, Christless Church (Wahyu 3:14-22) - Pdt. Yakub Tri Handoko
2022/02/23
Seberapa puaskah Anda dengan gereja Anda saat ini? Apakah Anda menilainya berdasarkan faktor bagaimana Kristus diberitakan di atas mimbar? Bagaimana jadinya jika gereja tidak memberitakan Kristus di atas mimbar?
Musuh Kebersamaan: Ketidakpedulian (1Korintus 10:23-24) - Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.
2022/02/08
Semua orang pasti setuju bahwa moralitas bersentuhan dengan isu komunal. Maksudnya, benar atau salahnya suatu tindakan dinilai dalam kaitan dengan orang lain. Moralitas lebih luas daripada perasaan dan kenyamanan pribadi masing-masing orang.
Yang belum disepakati oleh semua orang adalah cakupan aspek komunal. Sejauh mana orang lain berpengaruh atau menentukan moralitas suatu tindakan? Tidak ada jawaban seragam untuk pertanyaan ini.
Sebagian orang menganggap pandangan mayoritas sebagai patokan kebenaran. Apa yang wajar dianggap benar. Pandangan orang sangat menentukan. Suatu tindakan bahkan seringkali dilakukan atau diaminkan hanya supaya diterima oleh banyak orang.
Sebagian orang menganggap pandangan orang lain tidak seberapa perlu untuk diperhatikan. Yang penting adalah apa yang kita rasakan. Sejauh tidak merugikan atau mengganggu orang lain, apa saja boleh saja dilakukan. Moralitas lebih bersifat personal. Batasannya cukup sederhana: orang lain jangan sampai dirugikan.
Teks kita hari ini memberi pandangan yang berbeda. Pandangan banyak orang memang tidak menentukan, tetapi bukan berarti boleh diabaikan. Moralitas sangat bersifat komunal.
Musuh Kebersamaan: Kebencian (1Yohanes 2:9-11) - Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.
2022/02/04
Bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus? Keanggotaan dalam sebuah gereja bukan indikator yang aman. Keaktifan dalam pelayanan juga bukan jaminan. Sebagian orang yang rajin beribadah di gereja atau terlibat aktif dalam pelayanan ternyata memiliki gaya hidup yang bertabrakan dengan keyakinannya.
Tidak mudah memang untuk mengetahui kesungguhan iman seseorang. Hanya Tuhan yang bisa melihat isi hati manusia secara transparan. Penilaian-Nya tidak mungkin salah.
Walaupun penilaian tanpa keliru hanya milik Allah, hal itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa menilai sama sekali. Kesungguhan iman pasti terpancar dalam tindakan. Iman bukan sekadar persetujuan konseptual atau keyakinan emosional. Iman yang benar menghasilkan buah-buah kesalehan.
Dalam teks hari ini Rasul Yohanes mengajarkan salah satu indikator yang sangat aman untuk mengukur kesungguhan iman seseorang, yaitu kasih kepada sesama. Kasih bukan hanya menjadi salah satu karakteristik, tetapi sekaligus indikator utama untuk menilai iman seseorang. Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35).
Eksposisi Filipi 3:20-21 - Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.
2022/02/01
Istilah “perspektif” (sudut pandang) tentu tidak asing bagi banyak orang. Kata ini bukan merujuk pada apa yang dilihat, tetapi lebih pada bagaimana seseorang melihat. Yang dilihat mungkin sama, tetapi pemahaman orang bisa berbeda. Faktor penentu terletak pada perspektif.
Nilai penting perspektif tidak perlu diragukan lagi. Sudut pandang menentukan penilaian. Sebagai contoh, sampah di mata banyak orang adalah barang yang tidak berguna, bahkan berbahaya. Namun, bagi para pemulung dan petugas kebersihan sampah adalah sumber nafkah bagi keluarga. Bagi beberapa pengusaha sampah bahkan bisa menjadi sumber penghasilan yang besar jika bisa didaur ulang. Apa yang tidak berguna bagi seseorang bisa menjadi berguna bagi orang yang berbeda.
Hal yang sama berlaku dalam kerohanian. Cara pandang seseorang sangat menentukan dalam banyak hal. Mereka yang melihat segala sesuatu dari perspektif bawah (kesementaraan) pasti akan menjalani hidupnya secara berbeda dengan mereka yang melihat dari perspektif atas (kekekalan). Itulah yang diajarkan oleh Paulus di teks kita hari ini.
Eksposisi Amos 6:1-7 - Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.
2022/01/28
Beberapa kali kita dikejutkan dengan berita kecelakaan maut yang terjadi di tempat wisata. Peristiwa semacam ini terdengar sangat miris dan ironis. Orang pergi ke tempat wisata untuk menikmati kesenangan dan kenyamanan, tetapi yang didapati justru kecelakaan dan kematian. Banyak orang tidak menduga. Dalam ketidaktahuan, mereka justru membawa diri ke dalam bahaya.
Yang paling menyedihkan adalah orang-orang yang sengaja menantang bahaya. Mereka sadar ada larangan dengan tujuan untuk menghindari ancaman kematian, tetapi mereka sengaja tidak mempedulikan. Merasa sok hebat dan kuat, mereka justru bersua maut. Kematian ternyata jauh lebih dekat daripada yang mereka perkirakan.
Keadaan bangsa Israel pada zaman Amos lebih mirip dengan situasi yang kedua. Merasa aman padahal semakin dekat dengan kebinasaan. Bersenang-senang sementara bahaya sebentar lagi datang.
Musuh Kebersamaan: Kebebasan (Galatia 5:13-15) - Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.
2022/01/25
Kita hidup di tengah sebuah zaman yang sangat mengagungkan kebebasan. Orang merasa berhak untuk berkata apa saja di mana saja tentang siapa saja. Orang merasa berhak melakukan apa saja tanpa peduli dengan omongan siapa saja. Semboyan “yang penting tidak mengganggu orang lain” menjadi mantra yang membenarkan segala perkara.
Apakah itu yang disebut “kebebasan yang sebenarnya”? Teks hari ini menjelaskan bahwa kebebasan bukan ketidakpedulian. Sebaliknya, kebebasan mengarahkan kita pada kebaikan. Bukan berbuat apa saja demi kenyamanan diri sendiri, tetapi berbuat apa saja demi kebaikan bersama.
Persepuluhan: Dinikmati dan Dibagi (Ulangan 14:22-29) - Pdt. Yakub Tri Handoko
2021/10/28
Topik tentang persepuluhan seringkali mendatangkan perdebatan. Ada banyak kebingungan dan keberatan. Bukan hanya terhadap teks dan penafsirannya, tetapi juga penerapannya. Ditambah dengan berbagai penyalahgunaan persepuluhan oleh rohaniwan, topik ini benar-benar menjadi isu yang sensitif. Suasana diskusi cenderung negatif.
Haruskah topik ini mendatangkan suasana negatif seperti itu? Tidak juga. Dalam teks kita hari ini tidak ada ada nuansa negatif sama sekali. Kesan utama yang ditangkap dari teks justru sukacita. Ada perayaan. Ada keramaian.
Khotbah hari ini mungkin sangat berbeda dengan pembahasan-penbahasan umum tentang persepuluhan. Harus diakui, teks hari ini sangat jarang dikhotbahkan dalam kaitan dengan persepuluhan, padahal ada banyak poin menarik yang bisa memperkaya pemahaman kita tentang topik ini.
Peduli Pada Yang Hina (Matius 25 31-46) - Pdt. Yakub Tri Handoko
2021/07/08
Yang suka membaca kisah-kisah dongeng pasti menyadari bahwa salah satu alur cerita favorit dalam berbagai dongeng adalah pembalikan keadaan melalui sebuah kebaikan yang sepele. Misalnya, seorang pemuda menolong seekor katak yang terluka dan terkurung dalam sebuah lubang kecil. Ternyata katak tersebut adalah seorang puteri raja. Si pemuda akhirnya diangkat menjadi menantu raja. Kira-kira seperti itu jalan ceritanya. Sebuah perbuatan baik yang sepele bisa mengubahkan kehidupan seseorang.
Apa yang kita anggap sepele mungkin tidak sepele bagi orang lain. Dalam pengaturan Allah yang berdaulat, sebuah kebaikan kecil bisa berdampak besar. Pembalikan kehidupan mungkin saja terjadi dari sebuah tindakan yang kecil.
Teks kita hari ini memang bukan sebuah dongeng, tetapi sama-sama mengajarkan pentingnya perbuatan baik, sekecil apapun itu. Apa yang diajarkan memang bukan pembalikan keadaan, tetapi tetap ada unsur kejutan. Apa yang terlihat remeh di mata kita ternyata tidak selalu demikian di mata Tuhan. Kebaikan kepada orang yang kecil menunjukkan kebesaran hati dari yang melakukannya.
Podcast reviews
Read Grace Alone Ministry podcast reviews
Podcast sponsorship advertising
Start advertising on Grace Alone Ministry relevant audience podcasts
You may also like to advertise on these Podcasts

4.913551954
Wholesaling Inc with Brent Daniels
Find distressed properties for pennies on the dollar and turn them for huge profits!

4.7106572000
FantasyPros - Fantasy Football Podcast
iHeartPodcasts

4.827571696
Earn Your Happy
Lori Harder | YAP Media

4.6652342197
The Charlie Kirk Show
Charlie Kirk

4.6137741968
The Rubin Report
Dave Rubin

4.818382000
The Cabral Concept
Dr. Stephen Cabral

4.7278012000
The Matt Walsh Show
The Daily Wire

4.9247521434
Unashamed with the Robertson Family
Tread Lively

4.735971298
The Bonfire with Big Jay Oakerson and Robert Kelly
SiriusXM

4.959761998
Legal AF by MeidasTouch
MeidasTouch Network