
Advertise on podcast: Kunci Kesuksesan Untuk Merubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan.
Rating
5from
This podcast has
19 episodes
Language
IndonesianPublisher
Eric Kanadi (Kunci Kesuksesan)Explicit
No
Date created
2020/03/15
Latest episode
2021/08/23
Average duration
5 min.
Release period
48 days
Description
"Mengena banget!" - Tissa Biani “Inspiratif! Buku yang dapat memandu dalam perjalanan menuju kesuksesan Anda. —Merry Riana “Positif! Pembahasannya sangat lengkap, tidak hanya dari segi mental, tetapi juga emosi. Good job! —Tom Mc Ifle "Gambar diri yang positif adalah sebuah kunci utama untuk bisa mengubah banyak hal dari yang kurang baik menjadi lebih baik" - Intan Avantie -------- Mungkin topik ini belum pernah Anda dengar sebelumnya. Namun, bukankan kita perlu mendengar rahasia-rahasia yang belum pernah kita dengar?
Unlock Kunci Kesuksesan Untuk Merubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan. podcast Email contact info,
Listeners & Audience details
Email contact information
Direct podcast contact details

Listeners
Audience numbers & engagement insights

Audience details
Podcast Insights

Podcast episodes
Check latest episodes from Kunci Kesuksesan Untuk Merubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan. podcast
Apa Itu Kunci Kesukseksan? Bahas IQ, EQ dan SQ! Buku Kunci Kesuksesan Eric Kanadi
2021/08/23
Pendahuluan
Sadarkah Anda bahwa di sekeliling kita ada banyak sekali kunci kesuksesan? Jumlahnya tidak ter- hingga. Satu kunci kesuksesan dapat membuat
Anda menjadi orang yang sangat sukses. Satu kunci kesuksesan dapat mengantar Anda menjadi orang yang amat berhasil.
#18. Anda Yang Sekarang Berbeda Dengan Anda Tahun Lalu! Lupakan Masa Lalu, Mulai Yang Baru, Tunjukan Diri Anda Yang Baru Kepada Dunia!
2020/03/24
Pergaulan
Seseorang yang sering di-bully dalam pergaulan dapat membentuk gambar diri negatif.
Bullying ada banyak ragam, mulai dari tekanan ujaran hingga perundungan fisik. Seseorang yang selalu me- nerima perlakuan berbentuk kebencian lama-lama akan mengendapkan ujaran negatif itu dalam pikirannya.
Ketika seorang anak hidup dalam ejekan, hinaan, menjadi korban gosip, disisihkan, dilecehkan karena kekurangan fisiknya, dipermalukan di depan umum hingga mengalami ketakutan akut, dan hilang percaya diri, bisa dibayangkan gambaran diri seperti apa yang akan dibuatnya.
“Aku memang jelek.”
“Aku memang pantas dihina.” “Aku tidak punya bakat.”
“Aku memang suka disuruh-suruh.”
Lama-kelamaan hinaan itu akan diterimanya sebagai kebenaran. Semua hal buruk yang dia terima dianggapnya sebagai kewajaran. Kesalahan orang lain dia terima sebagai akibat kekurangan dirinya. Dia pun tumbuh menjadi dewasa namun rapuh dan memiliki konsep diri negatif.
Kegagalan Masa Lalu Mengikat Masa Depan Kita
Para pengusaha sirkus sudah lama tahu rahasia mem- buat gajah agar tetap jinak dan mudah dikendalikan, yaitu dengan mengikat kakinya dengan seutas tali sejak mereka berusia beberapa bulan dan masih lemah. Bagi gajah dewasa, seutas tali sebenarnya tidak dapat menahan kekuatan fisiknya. Hanya dengan sekali langkah, tali akan terputus. Bahkan, pohon tempat tali itu diikatkan juga akan tercabut. Karenanya, para pelatih gajah mulai mengikat kaki gajah sejak mereka masih kecil, kanak-kanak, dan lemah. Pada waktu itu, apabila mereka berusaha mendobrak tali, mereka justru akan kesakitan. Mengapa? Karena tenaganya masih kurang kuat untuk menjebol tali pengikatnya.
Tali pengikat itu lama-lama akan membentuk gambar diri gajah berupa “saya adalah seekor gajah yang selamanya tidak bisa melepaskan tali ini”. Pengalaman kakinya diikat akan membentuk pola pikir bahwa dia tidak bisa mela- wan tali itu sehingga sekeras apa pun mencoba, yang terlintas di pikirannya hanyalah rasa sakit.
Kelak ketika gajah ini tumbuh dewasa, berbadan raksasa, dan memiliki gading yang runcing, gambar diri seperti itu akan tetap ada dan melekat dalam pikirannya. Akibatnya, dia tetap tidak mau susah-susah mendobrak tali yang mengikat kakinya meskipun sudah memiliki kekuatan yang cukup besar untuk memutus ratusan tali sekaligus dalam satu sentakan.
Kegagalan kita di masa lalu dapat mengikat kita seperti seutas tali yang mengikat si gajah.
Seorang lulusan SMK mesin akhirnya menghapus rencananya untuk membuka bengkel bubut besi karena beberapa kali ditipu pelanggan. Aku tidak cocok buka bisnis, katanya.
Seorang anak muda berhenti melamar pekerjaan karena lima kali mendaftar di perusahaan, tak satu pun yang membalas.
Itulah gambaran diri yang terbentuk dari beberapa kegagalan masa lalu. Pengalaman buruk itu seperti tali kekang yang mengikat kaki-kaki gajah. Mereka gagal sekali dua kali dan menganggap bahwa kali ketiga pasti juga akan gagal.
Anda dapat belajar percaya diri dan membangun gambaran diri yang lebih positif dari sosok Jack Ma. Pendiri dan CEO Alibaba Group ini pun sama seperti Anda, pernah gagal dan berkali-kali ditolak.
#17. Ayah & Ibu: Penentu Utama Yang Membentuk Gambar Diri Seseorang. Sebanyak 80% Gambar Diri Seseorang Dibentuk Pada Usia 0–5 Tahun.
2020/03/24
Orangtua
Orangtua berperan paling besar dalam membentuk gambar diri seseorang. Merekalah yang paling banyak berinteraksi dengan diri kita dalam masa-masa pem- bentukan kepribadian. Ingat! Sebanyak 80% gambar diri seseorang dibentuk pada usia 0–5 tahun. Jika seorang anak pada usia tersebut sering menerima kritikan, kurang kasih sayang, kurang pujian, dimarahi secara berlebihan, dibanding-bandingkan dengan kakak adiknya, dan merasa tertolak, gambar diri anak tersebut bisa terluka. Sekali saja mereka memberikan label diri negatif pada seorang anak, maka anak tersebut akan menyerapnya dan membawa gambar diri itu hingga dewasa, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Perkataan-perkataan negatif dari orangtua sangatlah memengaruhi gambar diri seorang anak. Contoh perkataan negatif yang sering diucapkan orangtua adalah:
“Kamu sangat bodoh. Anak sial!”
“Kamu nakal sekali. Kalau sudah besar kamu pasti gagal.” “Kenapa kamu tidak pintar seperti adikmu?”
“Nilai kamu paling buruk di sekolah. Bikin orangtua malu saja!”
“Memang dasar anak tidak tahu diri!” “Bodoh banget, matematika saja tidak bisa!”
“Papa Mama tidak mau urusan lagi sama kamu. Kamu nakal!”
“Di antara semua anak Papa, kakakmu yang paling gan- teng dan kamu paling jelek.”
Jika pada usia pertumbuhan anak menerima perkataan- perkataan pedas seperti di atas, gambar dirinya bisa rusak. Dia akan merasa tertolak, minder, dan kurang percaya diri. Walaupun terdengar sepele, perkataan negatif dapat memengaruhi karier pekerjaannya saat beranjak dewasa.
Jika Anda pernah menerima perkataan itu dan merasa memiliki gambar diri negatif, jangan khawatir! Gambar diri negatif bisa diubah. Ada solusi untuk menyembuhkannya di akhir bab ini.
#16. Ayah & Ibu, Pergaulan dan Kegagalan Masa Lalu Menentukan Gambar Diri Anda. Kupas Gambar Dirimu, Buang Yang Negatif Jadi Positif.
2020/03/24
BAGAIMANA GAMBAR DIRI NEGATIF TERBENTUK?
Sebelum kita melacak bagaimana sebuah gambar diri terbentuk, seperti apakah gambaran diri Anda?
Apakah Anda melihat diri Anda sebagai orang yang dilahirkan untuk gagal, berantakan, di bawah rata-rata, dan tak memiliki kesempatan untuk berhasil dalam hidup ini?
Ingat! Cara Anda memandang diri sendiri sama dengan cara orang lain memandang diri Anda. Mungkin tidak semua orang, namun kebanyakan orang akan memandang Anda sama seperti cara Anda memandang diri Anda sendiri.
Jika Anda selalu memandang diri negatif, orang di sekitar Anda juga akan cenderung melihat Anda sebagai orang yang negatif. Jika Anda memandang diri sebagai seorang yang lemah, begitulah umumnya orang-orang di sekitar Anda memandang diri Anda.
Sangat susah bagi orang lain untuk melihat diri Anda secara positif jika Anda tidak memandang diri Anda demikian. Biasanya, hanya orang-orang tertentu, seperti pelatih, pemimpin, mentor, atau sahabat baik yang dapat melihat masa depan Anda secara optimis di tengah rasa pesimis Anda terhadap diri sendiri.
Cara pandang Anda terhadap diri sendiri adalah cara musuh-musuh Anda memandang diri Anda.
Dari situ, kita bisa menarik sebuah benang merah yang dapat diurai dengan jelas sehingga terlihat ujung- ujungnya. Ketika seseorang memandang diri kita secara negatif, misalnya dengan lirikan sinis, gaya bicara nyinyir, atau sikap yang mengibas-ngibas supaya kita segera pergi, maka bisa jadi itu karena kita terlebih dulu memandang diri sendiri secara buruk. Maka, kadang-kadang sumber masalahnya memang ada di dalam diri sendiri, bukan karena kedengkian, kesalahan, atau kekurangajaran orang lain.
Mungkin Anda bertanya, “Mengapa saya memandang diri sendiri secara negatif? Dari mana gambar diri negatif itu datang?”
Apakah Anda pernah diperlakukan buruk oleh kedua orangtua Anda? Apakah orangtua Anda jarang memuji Anda saat kecil? Apakah Anda pernah dihajar oleh ayah Anda?
Pernahkah teman-teman satu kelas tidak mengajak Anda ke pesta ulang tahun? Apakah tidak seorang pun yang sudi duduk di samping Anda waktu di sekolah? Pernahkah seseorang menolak dan menghina pendapat Anda ketika Anda memberikan masukan?
Ingat! Jika diizinkan, perlakuan buruk orang-orang sekitar dapat merusak gambar diri kita. Namun, jangan khawatir. Anda tidak sendirian. Ada begitu banyak orang di Bumi ini yang punya penilaian buruk terhadap dirinya sendiri.
Munculnya citra diri tidak terjadi tiba-tiba dan terbentuk begitu saja. Gambar diri telah diproses dan dibentuk saat seseorang baru lahir hingga berusia lima tahun. Pada masa-masa ini, 80% kehidupannya membentuk citra diri seperti pahatan tembikar yang semakin terlihat bentuknya, entah indah atau berantakan. Selanjutnya pada usia 5–25 tahun, citra diri itu diperkuat lewat berbagai momen perjalanan hidup. Jika pada masa kecil sudah tertanam benih citra diri negatif, benih ini akan bertumbuh, membesar, dan kadang-kadang mengakar kuat ketika seseorang telah mencapai usia 25 tahun ke atas.
Jadi, kembali ke pertanyaan semula. Bagaimana gambar diri itu dibentuk? Proses gambar diri terbentuk secara perlahan seperti kecambah yang dimulai saat kita masih kecil. Pembentuk gambaran diri minimal tiga sumber, yaitu:
1. Orang Tua
2. Pergaulan
3. Kegagalan Masa Lalu
Ikuti terus untuk mengupas lebih dalam.
#15. Saatnya Orang Indonesia Berkarya Tidak Kalah Dari Orang Bule. Buang Pikiran Yang Salah Sebab "Apa Yang Ada Dalam Pikiran Kita Dapat Menjadi Nyata Dalam Pekerjaan Sehari-Hari"
2020/03/24
Apa yang ada dalam pikiran kita dapat menjadi nyata dalam pekerjaan sehari-hari
Contohnya, banyak orang Indonesia yang berpikir bahwa orang bule selalu lebih pintar, lebih sukses, dan lebih kaya dari orang Indonesia. Orang Indonesia selalu merasa kalah bersaing, baik karya maupun rupa, dari orang bule, baik bule Amerika maupun Eropa, sehingga dari sini muncul istilah mental inlander.
Akibat penilaian subjektif seperti ini, pekerjaan yang orang Indonesia tekuni sehari-hari sering kali kalah dari orang bule.
Pola pikir yang mengatakan bahwa orang bule lebih pintar dari orang Indonesia membatasi rakyat Indonesia untuk menghasilkan karya yang dapat mengalahkan hasil karya negara bagian barat.
Jika pola pikir ini tidak diubah, seberapa disiplin pun orang tersebut bekerja, akan sangat susah untuk mengalahkan
penghasilan orang bule. Padahal, banyak orang Indonesia yang pintar, kreatif, dan tidak kalah dari orang bule. Namun, karena pola pikir yang salah, sampai saat ini sangat sedikit atau hampir tidak ada orang Indonesia yang masuk top 10 orang terkaya dunia.
Jika kita berpikir orang Indonesia tidak bisa mengalahkan penghasilan orang bule, itulah yang akan terjadi dalam hidup kita. Cara untuk membuat penghasilan kita lebih dari orang bule bukanlah dengan bekerja sepuluh kali lipat lebih keras, melainkan dengan membuang kebohongan- kebohongan yang ada dalam pikiran kita.
#14. Sikap Anda menentukan ketinggian Anda. Namun, apa yang membuat Anda dapat bersikap baik?
2020/03/24
Sikap Anda menentukan ketinggian Anda. Namun, apa yang membuat Anda dapat bersikap baik?
Dalam kehidupan bisnis, cara kita bersikap terhadap orang lain menentukan level kesuksesan kita. Kita sering mendengar para ahli bisnis mengatakan “Your attitude will determine your altitude”, yang dalam bahasa Indonesia- nya “Sikap Anda menentukan seberapa tinggi kesukses- an Anda”.
Ya, orang yang ingin berhubungan bisnis dengan orang yang memiliki sikap kurang baik memang jarang. Kita lebih suka berbisnis atau membeli barang dari orang yang bersikap baik, memiliki karakter menyenangkan, dan penuh kasih. Masalahnya, bagaimana cara untuk dapat bersikap baik kepada orang lain?
Mengapa di sekeliling kita ada orang-orang yang me- numpahkan kritik dan kata-kata keras kepada orang lain? Mengapa ada orang yang walaupun niatnya baik, selalu memperlakukan orang lain dengan buruk? Sebenarnya, manusia memperlakukan orang lain sama seperti dia memperlakukan dirinya sendiri.
Orang yang suka mengkritik orang lain adalah orang yang suka mengkritik dirinya sendiri. Orang yang menuntut ekspektasi sangat tinggi hingga tidak realistis terhadap orang lain adalah orang yang juga menuntut ekspektasi “gila” terhadap dirinya sendiri. Orang yang benci kepada orang lain adalah orang yang juga benci kepada kehidupannya sendiri. Kita tidak bisa bersikap baik kepada orang lain jika kita tidak bersikap baik kepada diri kita sendiri. Kita tidak dapat berlaku kasih kepada orang lain jika kita tidak berlaku kasih kepada diri kita sendiri. Kita tidak dapat memberikan kepada orang lain sesuatu yang kita sendiri tidak punya.
Mengapa sebagian orang berbuat jahat dan berperilaku buruk kepada orang lain? Itu karena mereka memiliki gambar diri yang terluka. Mereka melihat dirinya sebagai orang yang gagal, orang yang tidak bisa apa-apa, dan benci pada kehidupannya. Mereka tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Akibatnya, mereka sering menghukum dirinya sendiri karena ekspektasi-ekspektasinya yang tidak tercapai. Akhirnya, mereka pun memperlakukan orang lain dengan buruk untuk melampiaskan apa yang ada dalam dirinya.
Banyak orang yang sadar bahwa dirinya bersikap kurang baik, namun tidak tahu harus berbuat apa. Banyak orang yang sadar bahwa dirinya harus berubah, namun susah untuk berubah. Banyak orang yang ingin berniat baik, namun selalu gagal. Mereka tahu bahwa sikapnya sangat menentukan tingkat kesuksesan pekerjaannya. Bersikap baik kepada orang lain sangat susah dilakukan jika kita memiliki gambar diri negatif. Bagaimana mungkin kita dapat memperlakukan orang lain dengan baik jika kita memperlakukan diri sendiri dengan buruk?
Jika selama ini Anda selalu bersikap buruk terhadap orang lain walaupun niat Anda baik, mungkinkah Anda juga memperlakukan diri sendiri dengan buruk? Apakah Anda memandang diri sendiri secara negatif? Jika ya, mari kita sama-sama membuang gambar diri negatif itu dan mulai membangun gambar diri yang positif dan sehat dalam diri kita.
Ingat! Seberapa tinggi kita akan terbang ditentukan oleh sikap kita terhadap orang lain, dan sikap kita terhadap orang lain otomatis akan berubah baik dimulai dari gambar diri yang sehat.
#13. Albert Einstein Dikeluarkan Dari Sekolah Karena: Terlalu Bodoh atau Terlalu Pintar? Rahasia Gambar Diri Albert Einstein!
2020/03/24
Menyebut nama Albert Einstein sama artinya mengeja nama orang paling cerdas sedunia. Tahukah Anda bahwa masa kecil si Einstein tidak seindah namanya saat ini?
Einstein lebih sering membolos untuk pelajaran yang tidak disukainya. Dia hanya rajin saat pelajaran matematika dan sains. Selebihnya, dia suka musik dan berlayar.
Ujungnya, pihak sekolah angkat tangan. Einstein dikeluarkan dari sekolah dan diminta mencari tempat belajar lain. Para guru tidak sanggup mendidiknya dan harus memberi tahu ibu Einstein bahwa anaknya terlalu bodoh dan terpaksa dikeluarkan.
“Mengapa saya harus pindah sekolah?” tanya Einstein kepada ibunya.
“Karena sekolah itu tidak mampu dan tidak cocok untuk mendidik anak cerdas sepertimu,” kata ibunya membangun gambar diri positif untuk si Einstein.
Perkataan ibu Einstein sangatlah bijaksana dan menanamkan gambar diri yang sehat pada diri Einstein. Einstein tidak melihat dirinya sebagai orang bodoh, tetapi sebagai orang pintar bahkan sangat pintar hingga harus pindah ke sekolah lain. Saat beranjak dewasa, Einstein terus meroket dan dikenal sebagai fisikawan terbesar abad ke-20. Gambar dirinya yang sehat menggerakkan Einstein untuk menciptakan hal-hal besar. Teori relativitasnya telah mengubah dan memberikan sumbangan besar untuk menjawab misteri alam semesta, melengkapi deretan teori yang disumbangkan ilmuwan lain, seperti Thomas Alva Edison dan Darwin.
Pelajaran penting apa yang Anda peroleh dari sukses Einstein? Ibunya menanamkan gambar diri sehat yang sangat kuat pada diri Einstein. Lantas, gambaran diri itu menarik Einstein menjadi seperti yang dia pikirkan tentang dirinya. Gambar dirinya yang sehat berkata, “Saya adalah Einstein. Saya adalah orang yang pintar, bahkan sangat pintar hingga harus pindah sekolah.” Pikiran itulah yang benar-benar terjadi dalam kehidupannya.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah gambaran diri yang sehat itu terbentuk dalam kepala Anda? Jika belum, ambil waktu lima menit untuk merancangnya sebelum melanjut- kan membaca buku ini.
#12. Mengapa Bill Gates Dapat Sukses? Apakah Rahasia Donald Trump Menjadi Presiden? Ternyata Orang Sukses Di Dunia Ini Mempunyai Satu Hal Yang Sama.
2020/03/22
Mengapa Bill Gates bisa memiliki kekayaan yang fenomenal? Demikian pula Mark si pencipta Facebook bisa menghasilkan media sosial yang pasti ditengok miliaran orang setiap menitnya? Jawabannya, karena mereka memasang tesmostatnya dengan sangat tinggi. Hal itu hanya bisa terjadi ketika Bill Gates dan Mark terlebih dahulu memiliki gambar diri yang positif sebelum melangkah.
Jadi, jangan Anda balik bahwa gambar diri yang baik dari Bill Gates muncul setelah mereka sukses. Sama sekali tidak begitu. Mereka menciptakan lebih dulu gambaran diri yang sehat jauh sebelum meraih ketenaran dan kekayaan seperti sekarang. Gambar diri sukses itulah yang menjadi jalan tol bagi mereka menuju titik kemakmuran.
Suatu ketika Donald Trump pernah marah pada sebuah kantor berita. Pasalnya, salah seorang wartawannya menulis sebuah berita yang mengatakan bahwa ia ada- lah seorang millionaire (USD). Donald Trump segera me- nuntut surat kabar itu dan berkata, “Saya bukan millionaire. Saya billionaire! (USD).”
Donald Trump selalu melihat dirinya sebagai billionaire. Ia memiliki gambar diri positif yang sangat kuat. Trump tidak membiarkan orang lain ataupun kritikan menurunkan rasa percaya dirinya. Terbukti, orang ini sukses luar biasa dan menjadi presiden Amerika Serikat. Walaupun perjalanan bisnisnya penuh gonjang-ganjing dan sem- pat turun, keuangan Trump selalu kembali naik ke level billionaire. Apa rahasianya? Rahasianya, “termostat ke- uangan” Trump sudah di-set di angka billionaire, bukan millionaire.
Sebaliknya, jika “termostat keuangan” seseorang di-set di angka jutawan, sangat susah bagi orang tersebut untuk menjadi miliarder. Mungkin orang ini sangat pintar dan bekerja keras setiap hari. Mungkin keuangannya bisa mencapai Rp50.000.000 atau Rp500.000.000. Namun, akan sangat susah baginya menembus 1 M atau 100 M jika termostat keuangannya tidak dinaikkan menjadi miliarder. Lalu, adakah power yang mampu meningkatkan termostat keuangan kita ke level yang lebih tinggi? Ada, yaitu dengan memulai dari gambar diri yang sehat.
#11. Bagaimana Penghasilan 3 Juta Bisa Naik Menjadi 30 Juta Tiap Bulan? Rahasia Termostat Keuangan Dalam Hidup Ini.
2020/03/21
Termostat Keuangan Itu Ada!
Cara kerja gambar diri ini menyerupai termostat yang ada pada pendingin ruangan (AC). Termostat berfungsi untuk mengontrol suhu ruangan. Apabila kita mengatur suhu dalam ruangan berada di angka 20oC, termostat akan memerintah mesin AC untuk bekerja sekuat tenaga mendinginkan ruangan hingga suhu ruangan tersebut berubah menjadi 20oC. Jika sudah tercapai, mesin AC tidak akan terus mendinginkan ruangan hingga 16oC sebab sudah diatur hanya pada suhu 20oC.
Sekarang, coba Anda buka pintu atau jendela, dan diamkan beberapa saat. Biarkan suhu udara luar masuk dan menghangatkan ruangan. Apa yang terjadi? Suhu dalam ruangan akan merangkak naik, mungkin menjadi 25oC. Bahkan bisa lebih, bergantung apakah Anda tinggal di Dubai atau Pegunungan Menoreh. Nah, termostat akan
memaksa AC untuk berembus lebih keras sampai suhu di dalam ruangan kembali ke angka 20oC. Pendingin ruangan terus berusaha kembali ke setelan termostat untuk menstabilkan suhu menjadi 20oC, namun tidak mencapai 16oC.
Jika kita lihat realitas dalam kehidupan ini, setiap orang mempunyai “termostat keuangan” dalam hati dan pikir- annya. Sayang, orang yang memiliki gambar diri negatif memasang termostat keuangannya pada angka yang cenderung lebih rendah dibanding seharusnya.
Katakanlah orang dengan gambar diri negatif ini mengatur “termostat keuangannya” pada angka mak- simal Rp3.000.000 tiap bulan. Ia berkata, “Saya bisa mendapatkan penghasilan tiga juta rupiah tiap bulan, tetapi tidak mungkin bagi saya untuk mendapatkan peng- hasilan lebih dari tiga juta rupiah tiap bulan.” Maka, sama seperti fungsi termostat AC, orang ini akan bekerja terus sekuat tenaga hingga angka tiga juta itu tercapai. Jika pada minggu pertama ia baru mendapatkan lima ratus ribu rupiah, “termostat keuangannya” akan terus memicu orang ini untuk berpikir dan bekerja keras hingga angka tiga juta rupiah tercapai. Jika mendekati akhir bulan orang ini berhasil mendapatkan Rp2.900.000, “termostat keuangan” akan memerintahkan orang ini untuk lebih santai sebab target Rp3.000.000 hampir tercapai. Yak, dan betul, ternyata orang ini berhasil mencapai Rp3.000.000 pada akhir bulan!
Karena “termostat keuangan” orang ini hanya di-set pada angka Rp3.000.000, orang ini sulit sekali mencapai penghasilan Rp30.000.000 tiap bulan. Termostat keuang- an orang ini akan menggerakkannya untuk memikirkan rencana dan strategi bisnis yang dapat membawanya ke angka Rp3.000.000, tetapi bukan ke angka Rp30.000.000.
Keadaan ekonomi yang sedang tidak baik bisa jadi membuat penghasilan orang ini turun menjadi Rp2.000.000. Penurunan ini langsung mengirimkan sinyal ke “termostat keuangan” untuk segera memikirkan strategi baru dan bekerja lebih keras untuk kembali mencapai angka Rp3.000.000, tetapi tetap bukan Rp30.000.000.
Bagaimana caranya agar “termostat keuangan” orang ini bisa naik dari Rp3.000.000 menjadi Rp30.000.000 tiap bulan? Mudah sekali. Bukan dengan bekerja lebih keras, melainkan dengan mengubah termostat keuangannya. Orang ini perlu membuang kebohongan dalam pikiran- nya yang mengatakan “saya tidak mungkin mempunyai penghasilan lebih dari Rp3.000.000 tiap bulan” dan memelihara pola pikir baru yang mengatakan “Tuhan bisa membuat penghasilanku lebih dari Rp3.000.000 tiap bulan. Tuhan bisa membuat penghasilanku Rp30.000.000 atau lebih dari itu.” (Catatan: Saya mengawali dengan “Tuhan” sebab percaya bahwa semua penghasilan yang kita dapatkan berasal dari sang Pencipta).
Jika termostat keuangan Anda sudah dinaikkan ke angka Rp30.000.000, temostat keuangan itu akan memungkinkan dan menggerakkan Anda untuk mencapai angka tersebut. Sebaliknya, seseorang yang menang lotre 1 miliar rupiah namun termostat keuangannya hanya 1 juta rupiah, maka dalam waktu singkat keuangannya bisa turun menjadi 1 juta rupiah.
#10. Akibat Terlalu Banyak Nonton Sinetron: Mengapa Orang Indonesia Takut Menjadi Orang Sukses?
2020/03/21
MENGAPA GAMBAR DIRI YANG SEHAT BERKAITAN DENGAN TINGKAT KESUKSESAN SESEORANG?
Persepsi buruk kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain dapat menghambat perjalanan seseorang untuk berhasil. Sebagai contoh, mengapa sebagian rakyat Indonesia susah berhasil dalam sisi keuangan?
Sebut saja ada seorang wanita Indonesia bernama Annisa. Annisa adalah seorang yang baik, rajin bekerja, dan taat beragama. Setiap pagi Annisa bangun untuk beribadah dan bersiap menjalankan bisnisnya. Persis kebiasaan orang Indonesia kebanyakan.
Anehnya, dengan kebiasaan baiknya itu, bisnisnya tidak pernah mencapai hasil maksimal. Dibilang gagal tidak, dibilang berhasil juga tidak.
Setelah selesai bekerja, Annisa selalu istirahat di rumah sambil menonton sinetron Indonesia. Akhirnya, Annisa sadar bahwa penyebab bisnisnya tidak bisa maksimal adalah karena persepsinya yang salah terhadap orang kaya.
Sebagian besar sinetron Indonesia sering menggunakan orang kaya sebagai pemeran jahat atau pemain antagonis. Dalam dunia sinetron Indonesia, orang kaya selalu menyiksa orang lain dan berbuat jahat dengan semena- mena. Annisa yang setiap hari menyaksikan sinetron Indonesia mulai membentuk persepsi bahwa orang kaya adalah orang jahat. Dia berpikir bahwa semua orang kaya itu jahat. Artinya, tidak ada orang kaya yang baik. Secara tidak sadar Annisa menyimpan pemikiran “Saya beragama. Saya ingin menjadi orang baik. Saya tidak mau menjadi orang jahat. Oleh sebab itu, saya tidak boleh menjadi orang kaya karena saya bisa menjadi jahat!”
Anda sudah menemukan benang merahnya? Ternyata persepsi salah inilah yang menghambat bisnis Annisa sehingga dia tidak bisa mencapai hasil maksimal. Annisa merasa dirinya akan menjadi jahat jika bisnisnya semakin sukses. Persepsi ini sangat memengaruhi pikiran bawah sadarnya. Penelitian menunjukkan bahwa 80% keputusan dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar, bukan pikiran sadar.
Tanpa disadari, Annisa sering mengambil keputusan- keputusan bisnis yang mengarahkan dirinya untuk tidak menjadi terlalu kaya. Persepsinya yang salah mencegah Annisa untuk menjadi orang sukses.
Bagaimana solusinya? Annisa harus membuang kebo- hongan dalam pikirannya yang mengatakan bahwa “se- mua orang kaya adalah orang jahat” dan menggantinya dengan “saya bisa menjadi orang yang sukses, saleh, dan beragama”. Dengan demikian, kebohongan yang ada dalam pikirannya tidak lagi menghalanginya untuk menjadi orang yang sangat sukses. Annisa pun tidak takut lagi menjadi orang sukses sebab sadar bahwa tidak semua orang sukses adalah orang jahat. Setelah itu, bisnis Annisa mulai berkembang dengan dahsyat.
Sangatlah penting bagi kita untuk menyadari semua ke- bohongan dan persepsi yang tidak benar dalam pikiran kita, khususnya tentang gambar diri kita. Jika tidak di- benahi, hal itu dapat memengaruhi keputusan-keputusan bisnis yang akan kita ambil. Jika kita membuang semua akar pikiran yang salah dan memasukkan pikiran yang benar, perjalanan bisnis kita akan lebih lancar dan menyenangkan.
#9. Menembus Ketidak Mustahilan: Berlari 1500M Dibawah 4 Menit Adalah Hal Yang Mustahil, Sampai Satu Orang Ini Berhasil Melakukanya.
2020/03/21
Sir Roger Gilbert Bannister CH CBE FRCP (23 Maret 1929– 3 Maret 2018), kenalkah Anda dengan sosok ini? Nama dia tidak sefamiliar atlet Muhammad Ali atau Maradona. Namun, di dunia olahraga lari, dia adalah legenda.
Bannister adalah seorang atlet jarak menengah sekaligus dokter ahli saraf Inggris yang berlari menembus waktu psikologis di bawah empat menit. Artinya, persepsi orang saat itu adalah tidak mungkin ada pelari yang sanggup memecahkan rekor di bawah angka itu.
Pada Olimpiade 1952 di Helsinki, Bannister mencetak rekor Inggris di cabang lari 1500 meter. Prestasi ini memperkuat tekadnya untuk menjadi atlet pertama yang menyelesaikan lari dalam waktu kurang dari empat menit. Dia mencapai prestasi ini pada 6 Mei 1954 di lintasan Road Iffley di Oxford. Ketika penyiar Norris McWhirter menyatakan, “Waktunya tiga ...”, sorak-sorai kerumunan penonton meledak ketika melihat catatan waktu Bannister yang sebenarnya, yaitu 3 menit dan 59,4 detik. Dia telah mencapai rekor ini dengan pelatihan minimal sambil berlatih sebagai dokter junior.
Pecahlah anggapan orang bahwa tak mungkin berlari 1500 meter dalam waktu kurang dari 4 menit. Hal yang luar biasa, rekor Bannister hanya bertahan 46 hari. Atlet lari pun “mudah” untuk menjebol rekor baru itu.
Anda pernah meragukan diri Anda sendiri? Menilai diri Anda tidak sehebat kapasitas Anda? Tengoklah keberhasilan orang lain.
“Kalau orang lain bisa, saya juga bisa!” Itulah pola pikir yang perlu kita miliki. Maka, ketika Anda ingin berhasil, mau melangkah maju, ubah pola pikir Anda dan lihat diri Anda sebagai hasil karya Tuhan yang sangat sempurna. Masterpiece-Nya. Tidak ada negative self-image. Kalau orang lain berhasil, Anda pun bisa.
Karena itu, dalam bab ini, saya ajak Anda untuk berfokus membahas tiga hal, yaitu:
• Mengapa gambar diri yang sehat berkaitan dengan
tingkat kesuksesan seseorang?
• Mengapa seseorang dapat memiliki gambar diri
negatif?
• Bagaimana cara membentuk gambar diri yang sehat
jika gambar diri sudah rusak?
Kita bahas lebih detail bagian per bagian berikut ini.
#8. Bagaimana Puncak Everest Pertama Kali Ditaklukan? Menjebol Gambar Diri, Menghancurkan Kebohongan, Menaklukan Puncak Everest dan Melakukan Keajaiban.
2020/03/19
Gambar diri adalah faktor yang menentukan tingkat kesuksesan Anda. Sebelum Edmund Hillary dan Tenzing Norgay menaklukkan Puncak Everest tahun 1953, tidak ada seorang pun yang percaya bahwa puncak gunung tertinggi di dunia ini bisa dipanjat sampai titik yang paling tinggi. Mengapa? Ya, karena tantangan untuk sampai di puncak benar-benar membuat merinding. Selain karena ketinggi- annya yang teramat sangat, mendekati jangkauan mak- simal pesawat terbang, medan menuju puncak Gunung Everest bersalju, licin, berbahaya, berjurang-jurang, dan hanya mengandung sedikit oksigen. Oleh karena itu, izin mendaki Gunung Everest bagaikan membeli one-way ticket. Pernah menonton film “Everest”? Mereka berhasil mendaki sampai ke puncak, tetapi beberapa anggota tim yang terlibat dalam pendakian tidak berhasil turun dengan selamat.
Setelah penaklukan gunung tersebut, mendaki dan mengibarkan bendera di Puncak Everest tiba-tiba menjadi sesuatu yang tidak lagi luar biasa. Terbukti, banyak orang yang berhasil menembus rute sampai puncak gunung yang tertinggi. Bahkan, salah satu orang Indonesia ada yang sudah berhasil mencapai puncaknya. Mengapa? Karena mental kita terbuka setelah melihat atau mendengar keberhasilan orang lain.
Jebol-lah persepsi orang bahwa puncak bersalju abadi itu tertutup untuk manusia. Ya, selama ini orang selalu melihat memanjat Gunung Everest adalah hal mustahil. Mereka melihat dirinya sendiri sebagai seorang yang tidak mungkin bisa memanjat gunung itu. Namun, ketika ada satu orang yang berhasil memanjatnya, gambar diri pun berubah. Mereka melihat dirinya bukan lagi sebagai orang yang tidak mampu menaklukkan gunung itu, tetapi sebagai manusia yang mampu menaklukkannya.
“Kalau orang lain bisa, berarti saya bisa!” dan gambar diri mereka pun berubah. Kini, mendaki Gunung Everest adalah wisata petualangan yang sangat memikat. Asalkan Anda cukup uang dan sehat secara fisik, tidak mustahil untuk mendaki sampai Puncak Everest.
Melihat keberhasilan orang lain bisa menjadi salah satu cara mengembalikan self-image negatif dan membentuknya menjadi positif. Selain penaklukan Everest, ada lagi cerita lain.
Sir Roger Gilbert Bannister CH CBE FRCP (23 Maret 1929– 3 Maret 2018), kenalkah Anda dengan sosok ini? Nama dia tidak sefamiliar atlet Muhammad Ali atau Maradona. Namun, di dunia olahraga lari, dia adalah legenda.
Bannister adalah seorang atlet jarak menengah sekaligus dokter ahli saraf Inggris yang berlari menembus waktu psikologis di bawah empat menit. Artinya, persepsi orang saat itu adalah tidak mungkin ada pelari yang sanggup memecahkan rekor di bawah angka itu.
Podcast reviews
Read Kunci Kesuksesan Untuk Merubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan. podcast reviews
Podcast sponsorship advertising
Start advertising on Kunci Kesuksesan Untuk Merubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan. relevant audience podcasts
You may also like to advertise on these Podcasts

4.4371061566
The Megyn Kelly Show
SiriusXM

4.888901269
Fearless with Jason Whitlock
Blaze Podcast Network

4.8118931000
Mind Pump: Raw Fitness Truth
Sal Di Stefano, Adam Schafer, Justin Andrews, Doug Egge

4.8102131585
Tara Brach
Tara Brach

4.541561215
Something You Should Know
Mike Carruthers | OmniCast Media

4.513841343
Strictly Anonymous Confessions
Kathy Kay

4.8292781897
Fantasy Footballers - Fantasy Football Podcast
Fantasy Football

4.62382612
Football Weekly
The Guardian

4.45387666
Two Judgey Girls
Two Judgey Girls

3.8258501152
The Viall Files
Nick Viall