1513867138
Suara BangPay

Advertise on podcast: Suara BangPay

Categories
Country
Indonesia
This podcast has
38 episodes
Language
Indonesian
Explicit
No
Date created
2020/05/18
Latest episode
2021/09/13
Average duration
6 min.
Release period
2 days

Description

Voice of Pay Jarot Sujarwo. Sesekali riuh tak jarang sunyi tanpa gemuruh

Unlock Suara BangPay podcast Email contact info,
Listeners & Audience details

Email contact information

Direct podcast contact details

Listeners

Audience numbers & engagement insights

Audience details

Podcast Insights

Podcast episodes

Check latest episodes from Suara BangPay podcast


Jadi Seniman
2021/09/13
Sejak kecil jika ditanya cita-cita saya suka menjawab, ingin jadi seniman. Saya tak terlalu ingat alasannya kenapa, bisa jadi karena saya punya paman (almarhum) yang sejak saya kecil sering memutar kaset Iwan Fals. Di kamar paman juga terpajang poster Iwan Fals. Rasa-rasanya ini keren. Seniman. Saya pengen.
Islamic Trip ke Vietnam Eps 29: Terima Kasih Vietnam
2021/09/05
Bang Yusof sudah memperkenalkan saya dengan sebagian lelaki Melayu Champa dari kampung Chau Doc, Provinsi An Giang, Vietnam. Di kedai kopi, seusai sholat fardhu di masjid, ada banyak percakapan yang mengalir begitu saja dari orang-orang berwajah polos ini. Bang Yusof sudah membacakan kitab Arab Melayu yang menceritakan asal usul nenek moyang mereka. Ia juga sudah membawa saya berkeliling Chau Doc. Menelusuri masjid demi masjid. Kampung demi kampung. Usai sholat subuh di hari terakhir, Bang Yusof juga mengajak saya berlama-lama di masjid. Terhidang kopi khas Vietnam. Beberapa lelaki, sebagian sudah berumur, duduk melingkar. Berbicara bahasa Vietnam yang tak saya mengerti.
Islamic Trip ke Vietnam Eps 28: Sejarah di Tangan Pemenang
2021/09/05
Dari teras rumah kami masuk ke ruang tamu. Cukup luas. Di sudut-sudutnya tergantung gamis perempuan yang lumayan banyak. Saya tanya ke Bang Yusof, apakah pakaian itu dijual? Ia membenarkan. Diceritakan pula kepada saya bahwa istrinya yang menjahit semua pakaian tersebut. Selanjutnya bang Yusof mengambil sebuah kitab, membukanya, dan mulai membaca. Kitab itu bertuliskan huruf Arab, tapi pengucapannya Melayu. Waktu SMA saya pernah dapat pelajaran seperti ini. Orang-orang di Jawa menyebutnya Arab Jawi. Dari apa yang dibaca bang Yusof akhirnya saya mengetahui bahwa orang-orang Muslim yang ada di daerah Chau Doc ini berasal dari Trengganu. Kakek moyang mereka merantau ke daerah ini. Mendakwahkan Islam dan mencari penghidupan yang baru.
Islamic Trip ke Vietnam Eps 27: Ajaran Nabi
2021/09/05
Hari berikutnya saya benar-benar menghabiskan waktu dengan Bang Yusof. Dimulai dari sarapan di rumahnya. Sambil menyantap hidangan khas Vietnam (sayur seperti ditumis) dimakan bersama roti atau bisa juga nasi. Percakapan pertama tentang makanan. Ya, di makanan yang dihidangkan, ada setumpuk garam disediakan di piring kecil. Garam ini bukan untuk mengoreksi rasa sayur, andai sayur tersebut kurang asin, melainkan dicocol dengan jemari lalu diemut. Garam ini dicicipi sebelum aktivitas makan dimulai. Dan nanti kembali dimakan setelah aktivitas makan utama selesai. “Ini yang diajarkan Nabi,” kata bang Yusof.
Islamic Trip ke Vietnam Eps 26: Tahlilan
2021/09/05
Bang Yusof memberitahu bahwa di dekat sini ada penginapan sederhana. Saya bisa menginap di sana selanjutnya untuk beberapa hari tinggal di Chau Doc bang Yusuf bisa menemani. Saya setuju. Saya sampaikan akan menghabiskan tiga malam di Chau Doc. “Malam ini ada acara membaca tahlil. Ada orang kampong sebelah yang wafat. Nanti saya jemput, kita pergi sama-sama.” Saya tidak bisa menolak. Lagipula, ini yang saya cari. Bertemu banyak orang lokal. Mendengar banyak cerita. Sholat Ashar tadi sudah jamak ketika sholat zuhur. Saya manfaatkan waktu untuk istirahat. Maklum, habis melakukan perjalanan panjang sejak dini hari dengan durasi tidur yang sangat pendek malam sebelumnya.
islamic Trip ke Vietnam Eps 25: Bang Yusof Orang Melayu Champa
2021/09/05
Sekarang fokus saya ke lelaki berbahasa Melayu. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Yusof. Bang Yusof. Ia bertanya agak detil tentang diri saya. Dari mana? Kenapa bisa sampai di tempat ini? Apakah ada tujuan khusus? Tinggal berapa lama di sini? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Sembari saya menjawab sembari bang Yusof menjelaskan ke orang-orang dengan Bahasa Vietnam. Sebagian dari mereka mengangguk-angguk. Sebagian bertanya balik. Sebagian terlihat asik menikmati kopi. Saya ceritakan sudah mengetahui tempat ini dari internet. Jadi ketika berkesempatan menjejakkan kaki di Saigon, saya ikhtiarkan untuk sampai di sini. Saya juga dalam proses belajar Islam mendalam dan bisa berjumpa dengan saudara sesame muslim di sini tentu saja membuat gairah keislaman saya menyala-nyala Meskipun bang Yusof bisa berbahasa Melayu tetapi belum tentu ia bisa memahami seluruh kalimat yang saya sampaikan. Terbukti beberapa kali ia meminta saya mengulangi. Bukan karena tidak mendengar tetapi memang tidak mengerti. However Bang Yusof begitu antusias.
Islamic Trip ke Vietnam Eps 24: Berpisah dengan Nguyen
2021/09/05
Persis di sebelah Masjid ada kedai kopi. Nguyen bilang bahwa mereka akan menunggu di kedai kopi sembari membiarkan saya masuk. Sholat zuhur. Seperti masjid sebelumnya, warna hijau juga dominan di sini. Bulan sabit dan bintang menghiasi kubah. Sekali lagi, nyaris tak beda dengan bangunan masjid di Indonesia. Di kiri kanan halaman terdapat deretan bangku dari semen. Saya mantap masuk ke dalam. Menuju tempat wudhu. Bersyukur penuh haru. Ada banyak orang yang sudah bersiap berjamaah. Laki-laki saja. Tak saya lihat perempuan. Sebagian besar jamaah lelaki ini berpakaian gamis terusan. Satu dua orang memakai sarung. Peci putih. Rata-rata berusia lanjut. Kemana anak mudanya? Pertanyaan ini hanya saya lontarkan dalam hati.
islamic Trip ke Vietnam Eps 23: Masjid Jamiul Azhar
2021/09/05
Saya merasakan suasana yang jauh berbeda. Saigon – An Giang. Ini bukan sekadar perbedaan antara kota dan desa seperti yang kerap kita jumpa di berbagai pelosok dunia. Kota dengan berbagai simbol kemodernannya. Hiruk pikuk. Sibuk. Desa dengan sunyi senyapnya. Santai. Khusuk dengan aktivitas keseharian yang relatif menenangkan. Atau, kota dengan keberlimpahan harta yang terlihat secara zahir. Desa dengan berbagai macam potret kemelaratan. Ciri khas kehidupan di sistem sekuler kapitalistik. Tapi Saigon – An Giang berbeda. Ada warna spiritualitas yang begitu kentara. Ruang-ruang publik yang carut marut dan dipenuhi berbagai simbol palu dan arit, tiba-tiba berubah dengan pemandangan lelaki bersarung dan sebuah bangunan berkubah dengan warna putih hijau dominan. Simbol bulan dan bintang. Masjid. Muslim. Islam.
islamic Trip ke Vietnam Eps 22: Akhirnya Sampai
2021/09/05
anjang sungai ini sekitar 4,345 KM membentang dari hulunya di Tibet dan bermuara di laut dari delta Vietnam. Melewati beberapa negara, sebut saja Cina, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Namanya sungai Mekong. Seperti sungai dimanapun berada, selalu ada cerita peradaban juga dinamikanya. Dalam perjalanan menuju Povinsi An Giang, kami dua kali melewati Sungai. Harus naik kapal penyeberangan (seperti Fery). Situasinya tak terlalu beda jauh dengan Sungai Kapuas di Pontianak. Jadi tak terlalu mengherankan bagi saya.
Islamic Trip ke Vietnam Eps 21: Tentang Pemahaman
2021/09/03
Kedai kopi tempat kami singgah jangan pernah diduga seperti kedai-kedai kopi modern di perkotaan. Ini hanya pondok sederhana. Seperti bangunan setengah jadi yang terbuat dari kayu. Atap seng, rangka bangunan dengan dinding yang tidak full. Tak seperti kedai kebanyakan. Tak banyak kursi dan meja di sana. Hanya dua atau tiga. Sisanya beberapa Hammock yang digantung di beberapa sudut. Seorang paruh baya datang. Menawarkan mau minum apa. Pilihannya hanya dua (menurut Nguyen), kopi panas atau kopi dingin. Saya pilih kopi panas. Order selesai, Nguyen dan teman-temannya langsung menyerbu Hammock yang tersedia. Saya ikut-ikutan. Lumayan juga. Rebahan sambil terombang-ambing pelan. Otak kepala saya masih dipenuhi dengan doktrin negara yang keluar dari moncong Toa.
Islamic Trip ke Vietnam Eps 20: Corong-corong Toa
2021/09/03
Awalnya Nguyen memang sempat bilang bahwa akan mengajak temannya untuk mengantar saya ke Provinsi An Giang. Tapi saya tak menduga kalau temannya itu ternyata banyak sekali. Kalau saya tidak salah ada lima atau enam sepeda motor. Berarti ada 11 orang atau 12 orang dengan saya. “Sebenarnya kalian ini mau ke mana?” tanya saya. “Kami mau camping,” Nguyen mengaku selain mengantar saya, ia dan teman-temannya akan menginap di daerah lain (saya lupa nama tempatnya).
islamic Trip ke Vietnam Eps 19: Kenapa Kera Tidak Punah
2021/09/02
Dulu, sekitar tahun 2008an saya punya beberapa teman yang mengaku tak bertuhan. Sebagian besar dari mereka dari Barat. Saat terjadi dialog dengan orang-orang ini sebagian besar dapat dipahami. Meskipun untuk berbicara Inggris saya tak terlalu fasih, tapi mendengar orang cakap Inggris bisa lah saya memahami. Tapi kali ini saya berhadapan dengan Nguyen, seorang atheist yang harus berjuang sekuat tenaga untuk memberikan saya pemahaman bahwa Tuhan itu tidak ada. Bahasa Inggrisnya centang perenang. Beberapa kali ia menyebut tentang keunggulan ilmu pengetahuan. Beberapa kali ia menyebut tentang bodohnya orang-orang yang beragama. Tapi saya tidak terlalu clear dengan penjelasannya.

Podcast reviews

Read Suara BangPay podcast reviews


0 out of 5
0 reviews

Podcast sponsorship advertising

Start advertising on Suara BangPay relevant audience podcasts


What do you want to promote?