1517276600
INI KOPER

Advertise on podcast: INI KOPER

This podcast has
399 episodes
Language
Indonesian
Explicit
No
Date created
2020/06/07
Latest episode
2026/09/26
Average duration
13 min.
Release period
4 days

Description

INIKOPER percaya berbagi pengetahuan dan cerita apa saja, pasti bermanfaat bagi komunitas perubahan. Perubahan selalu dimulai dari diri sendiri, organisasi dan pada akhir sistim. Jadikan bumi lebih baik setiap hari.

Unlock INI KOPER podcast Email contact info,
Listeners & Audience details

Email contact information

Direct podcast contact details

Listeners

Audience numbers & engagement insights

Audience details

Podcast Insights

Podcast episodes

Check latest episodes from INI KOPER podcast


#1036 Nalar, Rasa dan Inovasi Sosial
2026/09/26
Banyak proyek sosial gagah berani hancur bukan karena kekurangan uang, melainkan karena keangkuhan para perancangnya. Mereka datang ke desa membawa proposal tebal dan merasa menjadi pahlawan penolong masyarakat. Hasilnya bisa ditebak: fasilitas mahal mangkrak dan warga kembali ke pola hidup semula. Di sinilah kita perlu membongkar cara berpikir lama yang terlampau teknokratis. Perubahan nyata di tingkat tapak tidak lahir dari rumus matematis. Ia tumbuh dari persilangan antara keberanian berinovasi dan kedalaman empati kemanusiaan. Mengawinkan Design Thinking dan Kecerdasan Emosional bukanlah teori berbusa-busa di ruang seminar. Ini adalah perangkat kerja praktis untuk merajut kembali martabat warga yang lama terabaikan. Mari kita lihat bagaimana ketiga nalar ini bekerja nyata di lapangan.
#1035 Design Thinking dan Kecerdasan Emosional
2026/09/22
Ketika kita berbicara tentang kerja-kerja sosial dan perbaikan ekosistem masyarakat, kita sering kali dihadapkan pada godaan untuk menyelesaikan masalah rumit hanya dengan pendekatan teknokratis dan target kuantitatif. Namun, pengalaman mengajarkan kita bahwa program terbaik di atas kertas sering kali layu di lapangan karena kehilangan unsur manusiawinya.  Misi podcast kali  untuk membedah kembali cara kita merancang intervensi sosial melalui perkawinan dua kekuatan besar: metode penalaran inovasi yang berpusat pada manusia (Design Thinking) dan kedewasaan batiniah kita sebagai fasilitator melalui Kecerdasan Emosional. Inovasi tanpa kepekaan rasa akan berujung pada arogansi teknis yang mengabaikan kearifan lokal. Sebaliknya, empati yang meluap-luap tanpa pisau analisis metodologis yang tajam hanya akan berhenti pada sentimen belas kasihan yang tidak menghasilkan dampak terukur. Di sinilah letak urgensi perjalanan belajar kita: menempatkan akal budi dan kepekaan nurani pada satu tarikan napas agar ikhtiar perubahan kita memiliki akar yang kokoh di tengah komunitas dan daya tahan menghadapi tantangan zaman. Mari kita buka podcast ini bukan sekadar sebagai pelatihan teori teknis, melainkan sebagai sebuah ruang refleksi bersama untuk melihat bagaimana kedua instrumen ini menyatu menjadi sebuah kesatuan nalar dan rasa yang padu pada slide berikutnya.
#1034 Merebut Kembali Otonomi dan Imajinasi Manusia
2026/09/20
Menolak tunduk pada tirani pasar adalah langkah awal memerdekakan jiwa kita. Kita harus berani menjadi sosok yang tidak berguna bagi mesin keserakahan modal. Di atas reruntuhan kepatuhan itulah martabat kemanusiaan kita kembali tegak berdiri. Zaman modern memaksa kita menukar waktu demi ilusi digital semu. Jiwa kita diperas habis demi melipatgandakan rekening para taipan rakus. Putuskan rantai penjara tak kasat mata itu sekarang juga. Rebut kembali keheningan batin dari bisingnya notifikasi layar ponsel Anda. Rawat akal sehat dan kehangatan cinta bersama kawan seperjuangan. Lawan kebiadaban sistem ini dengan hidup merdeka dan bersahaja.
#1033 Ruang Liiminal bagi Perakit Ekosistem Perubahan Sosial
2026/09/20
Pasar Kolaboraya 2026 dirancang spesial.  Spesial bertajuk Deep Dive.  Deep DIve di Ruang Liminal. Ruang di Antara. Ruang yang nyaman melakukan refleksi personal, refleksi organisasi bahkan refleksi komunitas.  Untuk apa? Untuk menemukan energi baru untuk merakit perubahan jangka panjang.  Perubahan yang lebih personal dari mulai visi, misi, kapasitas dan pembelajaran. Silakan simak konsepnya.
#1032 GIFT: Rahasia di Balik Kado
2026/08/29
Sebuah kado sejatinya bukanlah sekadar benda mati yang terbungkus rapi, melainkan sepotong jiwa, martabat, dan kepercayaan yang disodorkan untuk meruntuhkan sekat antarmanusia. Di balik kesederhanaan tindakan memberi, menerima, dan membalas, terajut sebuah jaring tak kasat mata yang mengubah dua orang asing menjadi saudara dan menyingkirkan kecurigaan dengan ketulusan. Di tengah peradaban modern yang kian dingin oleh kalkulasi untung-rugi, kedermawanan sosial adalah napas kehidupan yang mengingatkan kita bahwa kekayaan sejati tidak diukur dari apa yang berhasil kita genggam sendiri, melainkan dari seberapa banyak kehangatan yang sanggup kita alirkan kepada sesama.
#1031 Gift Economy: Iuran Energi untuk Ekosistem Perubahan
2026/08/29
Perubahan sosial yang sejati dan abadi tidak akan pernah lahir dari selembar proposal proyek yang disiram kucuran dana hibah, melainkan dari keberanian kita untuk beranjak dari mentalitas penonton bayaran menuju kesadaran "iuran energi". Tatkala kita rela menyumbangkan sejumput pikiran, meluangkan waktu, membuka pintu jejaring, dan menaruh ketulusan hati demi cita-cita bersama tanpa melulu bertanya "dapat honor berapa", saat itulah modal sosial dan daya lentur bangsa ini bangkit kembali persis seperti DNA gotong royong para leluhur kita. Mari kita pahami bersama bahwa iuran energi bukanlah beban sedekah di kala senggang, melainkan investasi peradaban yang paling sakti; sebab ketika kita merawat ekosistem kehidupan bersama dengan ketulusan kolektif, keselamatan dan martabat hidup kita sendirilah yang sejatinya sedang kita selamatkan.
#1030 Panduan Menulis bagi Pendamping Perhutanan Sosial
2026/08/28
Beberapa hari lalu, Dody Hartadi Prasetya, seorang inovator sosial dan penyuluh kehutanan di Alor, Nusa Tenggara Timur berkabar lewat pesan pendek.  Ia ingin mendorong kawan-kawan penyuluh menuliskan pengalamannya.  Kemudian, ia ingin menyusunnya menjadi sebuah buku.  Gagasam ini ditangkap oleh atasannya.  Ia meminta saya mengulang tentang cara menulis esai yang populer, ringkas dan powerful. Podcast kali didedikasikan untuk para pendamping di tapak. Selamat bekerja dan sukses selalu.
#1029 Jadilah Tukang Kebun pada Gerakan Iklim
2026/08/21
Menjadi "tukang kebun" berarti memfasilitasi gerakan iklim dengan merawat lingkungan tumbuh, bukan mengontrol hasil. Fasilitator menghadirkan ruang aman psikologis agar rasa cemas ekologis berubah menjadi kekuatan kolektif. Pendekatan ini membangun kepemilikan penuh dan rasa saling percaya di kalangan orang muda. Pendampingan berbasis aset berfokus pada potensi unik yang sudah dimiliki setiap individu. Melalui penciptaan kemenangan kecil (small wins), orang muda merasa aman untuk berinovasi tanpa takut gagal. Hal ini membuat gerakan iklim menjadi lebih inklusif dan membumi. Keberhasilan fasilitator diukur dari kemandirian komunitas saat peran pendamping mulai dikurangi (fading out). Kepemimpinan organik akan tumbuh secara alami dari dalam ekosistem orang muda itu sendiri. Pada akhirnya, menanam harapan adalah tentang mempercayakan masa depan bumi kepada generasi baru.
#1028 System Thinking 2.0: Bahkan Anak SD pun Bisa!
2026/08/21
Dunia hari ini rasanya makin ruwet. Masalah datang bertubi-tubi tanpa permisi. Kita sering bingung harus mulai dari mana. Coba lihat di sekeliling kita. Masalah banjir dan macet tak kunjung usai. Harga bahan pokok juga naik-turun seperti wahana komedi putar. Di media sosial, orang saling caci hanya karena beda pandangan. Semua orang merasa paling benar dan punya solusi paling hebat. Tapi anehnya, makin banyak solusi dibikin, makin banyak masalah baru bermunculan. Mengapa bisa begitu? Derek Cabrera dan Laura Cabrera menemukan jawabannya. Dua peneliti dari Cornell University ini menyebut ada yang salah dengan cara berpikir kita. Sederhana sekali: cara berpikir kita tidak cocok dengan cara kerja dunia nyata. Dunia nyata ini sifatnya kompleks, saling terhubung, dan terus berubah. Sedangkan otak kita sering kali malas dan ingin yang serba instan. Apa jawabanya: silakan simap podcast ini?
#1027 Belajar Sprint Strategy
2026/08/20
Metode Design Sprint (dikembangkan oleh Jake Knapp, John Zeratsky, dan Braden Kowitz dari Google Ventures) menawarkan jalan keluar dari jebakan wacana ini. Kerangka kerja 5 hari yang terstruktur—Senin hingga Jumat—memungkinkan tim untuk memangkas debat berbulan-bulan menjadi eksperimen konkret dalam hitungan hari. Mari kita belajar bersama.
#1026 Merakit Kolaborasi Raya untuk Kemerdekaan
2026/08/16
Kemerdekaan Indonesia tak pernah sungguh-sungguh dirawat oleh satu tangan perkasa di atas panggung sejarah, melainkan dirakit oleh jutaan ikhtiar yang saling bertaut di balik layar—bagaikan miselium yang menyalurkan kehidupan di kedalaman tanah tanpa pernah menuntut tepuk tangan. Ketika zaman baru runtuh diterpa badai krisis dan metafora mesin birokrasi tak lagi sanggup menjawab tantangan, kita dipanggil untuk kembali pada hakikat kebangsaan kita: sebuah "Kolaborasi Raya." Ia bukanlah sekadar persekutuan formalitas, melainkan keberanian etis untuk meruntuhkan tembok ego sistemik  dan mempercayai bahwa ketika petani, ilmuwan, masyarakat adat, dan pemuda saling mengulurkan simpul jaringan kebaikan, Indonesia tidak sedang bertaruh pada pahlawan tunggal, melainkan sedang mengaitkan takdirnya sebagai sebuah ekosistem kehidupan yang tak akan pernah bisa dipatahkan.
#1025 Kolaborasi Lintas Batas
2026/08/15
Di tengah era interdependensi global yang kian kompleks, tidak ada satu pun organisasi—sehebat apa pun korporasinya atau sekuat apa pun pemerintahannya—yang mampu menyelesaikan krisis sistemik secara sendirian. Tantangan abad ke-21, mulai dari krisis iklim, kelangkaan air bersih, hingga ketimpangan sosial, tidak pernah mengenali batas geografis maupun sekat-sekat sektoral. Mempertahankan ego sektoral dan pola kerja terisolasi (silo mentality) di masa kini adalah sebuah kekeliruan fatal, sebab masalah yang kita hadapi bersifat saling terhubung dan berdampak secara langsung pada seluruh jaring kehidupan. Oleh karena itu, pilar utama dalam meretas masa depan yang berkelanjutan adalah keberanian untuk Berkolaborasi Lintas Batas (Collaborating Across Boundaries). Kolaborasi sejati melampaui sekadar kerja sama transaksional atau seremoni diplomatis; ia menuntut kesediaan untuk meruntuhkan tembok kecurigaan masa lalu dan membangun aliansi yang tidak biasa (unconventional allies) antara sektor privat, pemerintah, serta organisasi masyarakat sipil. Ketika seluruh elemen sistem hadir dalam satu ruang dialog, mengesampingkan prasangka, dan belajar melihat realitas dari kacamata pihak lain, kecerdasan kolektif akan terbangun untuk merumuskan solusi mendasar yang tidak bisa dicapai oleh satu pihak saja. Pada akhirnya, kolaborasi lintas batas bukanlah sekadar pilihan strategis yang manjur, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial bagi peradaban manusia. Pergeseran dari mentalitas kompetisi zero-sum menuju tindakan menciptakan bersama (co-creating) mensyaratkan kepemimpinan yang berorientasi pada keterbukaan, kerendahan hati, dan nilai kemanusiaan. Hanya dengan merajut jaringan kerja sama yang berlandaskan rasa percaya dan tanggung jawab bersama terhadap bumi, kita mampu mengubah ancaman krisis global menjadi gelombang inovasi berkelanjutan bagi generasi mendatang.
#1024 Mengapa Gambut Penting bagi Kita
2026/08/12
Di balik tenangnya rawa-rawa Indonesia, tersimpan salah satu benteng pertahanan iklim terpenting di bumi: ekosistem gambut tropis. Lahan basah alami ini terbentuk selama puluhan ribu tahun dengan laju penambahan yang sangat perlahan, yakni hanya 1 hingga 2 mm per tahun, namun mampu mengunci miliaran ton karbon terestrial global. Sayangnya, intervensi manusia seperti pembuatan saluran drainase tanpa kendali dapat mengeringkan bentang alam ini secara masif, memicu penurunan tanah (subsidence) hingga 5 cm per tahun dan mengubah surga keanekaragaman hayati ini menjadi rawan kebakaran hutan yang dahsyat. Ketimpangan antara lamanya proses pembentukan dan cepatnya laju kerusakan menuntut tindakan nyata sebelum ekosistem yang tak tergantikan ini sirna secara permanen. Sebagai tanggapan atas krisis tersebut, Pemerintah Indonesia menghadirkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) sebagai cetak biru tata kelola jangka panjang berdurasi 30 tahun. RPPEG bukan sekadar dokumen administrasi di atas kertas, melainkan panduan strategis yang membagi ruang gambut secara tegas antara Fungsi Lindung untuk menjaga kubah air dan cadangan karbon, serta Fungsi Budidaya yang ramah lingkungan. Operasionalisasinya di tingkat tapak digerakkan melalui pilar pemulihan 3R: Rewetting (pembasahan kembali melalui sekat kanal), Revegetation (penanaman kembali vegetasi asli), dan Livelihood Revitalization (pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal tanpa bakar). Melalui pendekatan komprehensif ini, pemulihan ekologis dan peningkatan kesejahteraan warga berjalan secara harmonis. Pada akhirnya, memahami dan mengawal implementasi RPPEG adalah bagian dari komitmen kita bersama untuk menjaga stabilitas iklim global dan keberlanjutan masa depan. Kebijakan ini menjembatani target komitmen iklim nasional dengan aksi nyata di tingkat tapak, memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat menghirup udara bersih dan terbebas dari bencana asap berulang. Melindungi lahan gambut berarti melindungi kehidupan; dan melalui RPPEG, kita sedang meletakkan fondasi yang kokoh untuk tatanan lingkungan hidup Indonesia yang tangguh, hijau, dan berkelanjutan.
#1023 Cara Optimis Menyelamatkan Bumi
2026/08/12
Ancaman krisis iklim global telah menggeser fokus wacana dunia dari sekadar merumuskan target menuju tantangan mengeksekusinya di lapangan. Dalam gagasan The New Global Possible yang diusung oleh Ani Dasgupta, persoalan utama manusia hari ini bukanlah ketiadaan teknologi atau kesepakatan diplomasi, melainkan jurang implementasi (implementation gap) yang menganga lebar. Selama bertahun-tahun, komitmen ambisius seperti Perjanjian Paris sering kali terhenti di panggung konferensi tanpa diimbangi tindakan nyata yang terkoordinasi. Oleh karena itu, dunia memerlukan paradigma baru yang tidak lagi berfokus pada sekadar menentukan apa target yang ingin dicapai (what), melainkan menguasai seni dan sains tentang bagaimana menggerakkannya (how). Kunci untuk menutup celah tersebut adalah kemampuan mengorkestrasi perubahan sistemik lintas sektor melalui kolaborasi radikal. Mengatasi krisis lingkungan menuntut penyelarasan yang harmonis antara diplomasi multilateral, inovasi teknologi yang menciptakan transparansi radikal, aksi korporasi yang ditopang regulasi tegas, serta penghormatan terhadap keadilan sosial dan hak atas tanah masyarakat adat. Tanpa pengintegrasian elemen-elemen ini ke dalam satu ekosistem yang saling mempercayai dan menopang, berbagai solusi teknis maupun kucuran dana skala besar hanya akan menjadi tindakan parsial yang gagal memberikan dampak berkelanjutan. Pada akhirnya, The New Global Possible menawarkan optimisme radikal yang berpijak pada realitas (stubborn optimism), sekaligus membongkar mitos usang bahwa aksi lingkungan merusak pertumbuhan ekonomi. Pembangunan berkelanjutan, dekarbonisasi energi, dan penataan kota yang inklusif justru terbukti menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di abad ke-21. Dengan menempatkan manusia, keadilan, dan kelestarian alam di pusat kebijakan nasional maupun global, masa depan bumi yang aman dan sejahtera bukanlah sekadar impian, melainkan realitas baru yang sangat mungkin untuk diwujudkan bersama.
#1022 Paradoks Perhutanan Sosial
2026/08/11
Ada paradoks besar yang menyelimuti hutan Indonesia: kawasan hutan membentang amat luas dengan hak kelola sekitar 8 juta hektar yang sudah dipegang oleh lebih dari 1 juta kepala keluarga, namun kesejahteraan warga desa hutan tak kunjung melompat naik. Penyebab utamanya bersumber dari jebakan berpikir ekonomi neoklasik konvensional yang mereduksi hutan sekadar sebagai pengeruk komoditas mentah dan pemacu angka pertumbuhan PDB semata. Akibatnya, transaksi fisik memang terjadi di lapangan, tetapi seni serta prinsip pengambilan keputusan warga di tingkat tapak tidak pernah dibangun, membuat petani hutan terus terjebak dalam rantai pasok ekstraktif yang memiskinkan. "Panduan Umum Ekonomika Perhutanan Sosial" hadir membongkar kebuntuan struktural ini dengan menawarkan pergeseran radikal dari sekadar Ekonomi menuju Ekonomika. Melalui pemaparan yang bernas, Podcast ini  mengajak Anda menyelami mengapa keputusan warga merawat lingkungan adalah wujud kepatuhan pada prinsip keselamatan bersama (safety-first), bagaimana metrik kesejahteraan palsu PDB harus diganti dengan indikator kualitas hidup serta kesehatan kanopi, hingga bagaimana solusi kelembagaan seperti Koperasi Mondragon, Hutan Wakaf, dan integrasi sirkular lebah kelulut dengan kopi agroforestri mampu menjadi jawaban nyata di lapangan. Masa depan kehutanan Indonesia tidak lagi berada di tangan korporasi ekstraktif, melainkan di tangan masyarakat desa hutan yang mandiri, berdaulat, dan berdaya atas ruang hidupnya sendiri. Hanya dalam hitungan menit, audio ini memberikan kompas navigasi yang utuh untuk menghubungkan teori ekonomika heterodoks dunia dengan realitas ekonomika moral Nusantara. Pasang headphone Anda, tekan tombol play, dan mari dengarkan bagaimana sebuah gagasan dapat merajut kembali takdir manusia dan hutannya menuju Indonesia Emas 2045!

Podcast reviews

Read INI KOPER podcast reviews


0 out of 5
0 reviews

Podcast sponsorship advertising

Start advertising on INI KOPER relevant audience podcasts


What do you want to promote?