Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta

Advertise on podcast: Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta

Rating
5
from
2 reviews
This podcast has
2489 episodes
Language
Explicit
No
Date created
2020/09/17
Latest episode
2026/02/04
Average duration
7 min.
Release period
1 days

Description

Penuntun Saat Teduh Sinode Gereja Kristen Jakarta Tersedia dalam bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin

Unlock Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta podcast Email contact info,
Listeners & Audience details

Email contact information

Direct podcast contact details

Listeners

Audience numbers & engagement insights

Audience details

Podcast Insights

Podcast episodes

Check latest episodes from Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta podcast


5-2-2026 - 律法主义与反律法主义 (PST GKJ Bahasa Mandarin)
2026/02/04
路加福音15:24-32 15:24 因为我这个儿子、是死而复活、失而又得的。他们就快乐起来。 15:25 那时、大儿子正在田里.他回来离家不远、听见作乐跳舞的声音。 15:26 便叫过一个仆人来、问是甚么事。 15:27 仆人说、你兄弟来了.你父亲、因为得他无灾无病的回来、把肥牛犊宰了。 15:28 大儿子却生气、不肯进去.他父亲就出来劝他。 15:29 他对父亲说、我服事你这多年、从来没有违背过你的命.你并没有给我一只山羊羔, 叫我和朋友、一同快乐. 15:30 但你这个儿子、和娼妓吞尽了你的产业、他一来了、你倒为他宰了肥牛犊。 15:31 父亲对他说、儿阿、你常和我同在、我一切所有的、都是你的。 15:32 只是你这个兄弟、是死而复活、失而又得的、所以我们理当欢喜快乐。 律法主义和反律法主义是人类对待规则和惩罚的两种态度,是获得最大的自由的愿望与尽可能遵守规则的态度之间的一种拉锯战。律法主义者是指那些以准确且完美无瑕的方式遵守规则的人。这种态度常常导致人们为了确保规则得到执行而牺牲良知。相反的,反律法主义者不相信也不愿意遵守任何规则,将享乐和自由视为人生的最高价值。这两种态度都引发问题。律法主义消除了人性里的同理心,把某人变成像机器人和屠夫一样对待违规者。反律法主义导致了一种鲁莽、充满混乱、道德败坏的生活。 在我们今天所思考的这段经文中,在比喻中的两个孩子代表了这两种态度。最小的孩子被描述为一个渴望自由的人。父亲还在世时, 他就向父亲索要遗产, 然后他就去大肆挥霍, 并且花光了父亲的所有财产。他代表了反律法主义的态度, 不愿遵守规则。与之相反的是, 长子则代表了一种律法主义的态度。他严格服从父亲的命令, 并觉得自己理当因服从而获得奖赏。当他满身罪孽的弟弟受到了欢乐的接纳时, 他非常生气。因此, 这个比喻不仅讲述了关于迷失的小儿子, 也讲述了关于迷失的长子。小儿子在自由中迷失, 长子在顺从中迷失。两人都离开了家,父亲主动出去找这两个孩子。父亲渴望他们再次享受充满快乐的亲密关系。长子被要求服从父亲, 不是因为规则和奖赏, 而是因为关系中的快乐 (第31节). 最小的孩子被恢复了为了享受真正的自由,作为获得了第二次机会的孩子(32节)。 与天父建立充满恩典和喜乐的亲密关系,这就是上帝对我们每个人的意愿。这种关系消除了律法主义的服从,使服从能以喜乐和充满爱心的进行,就像满有慈爱的天父不失怜悯之心。这种亲密关系也消除了盲目追求自由的反律法主义的态度。意识到天父的慈悲与恩典,能改变人心的态度,以便人心中涌现的爱是源于宽恕真正自由的喜乐的爱。因此,让我们意识到我们所得到的宽恕和怜悯是多么巨大。记住,真正的喜乐不是在遵守规则的伟大之处或在毁坏生命的自由可以找到的,而只在于与天父建立亲密的关系。阿门。 “与天父亲密的关系使我们意识到自己是祂深爱和珍视的孩子。 这种亲密关系带来喜乐、自由和真诚的顺服。” 作者 : 椰嘉达基督徒会堂铁桥堂会 – 蔡国钻传道 翻译员:赖利南 默想的问题: 1. 律法主义和反律法主义态度会造成什么影响? 2. 为什么上帝希望祂的儿女享受与祂亲密的关系,从而有能力改变律法主义和反律法主义的态度?学会了这个真理之后,你的承诺是什么?
more
5-2-2026 - Legalistis Vs Antinomian (PST GKJ Bahasa Indonesia)
2026/02/04
Nats Alkitab : Lukas 15:24-32 Penulis : G.I. Swannius Bong Legalistis dan antinomian adalah dua sikap manusia terhadap aturan dan hukuman, sebuah tarik-menarik antara keinginan meraih kebebasan sebesar-besarnya dan sikap menaati aturan setaat-taatnya. Kaum legalistis adalah mereka yang menaati aturan secara baku dan tidak bercacat. Tidak jarang sikap ini mengorbankan hati nurani demi memastikan aturan dijalankan. Sebaliknya, antinomian adalah mereka yang tidak percaya dan tidak mau tunduk pada aturan apa pun, menjadikan kesenangan dan kebebasan sebagai nilai hidup tertinggi. Kedua sikap ini sama-sama melahirkan persoalan. Legalistis menghilangkan sisi kemanusiaan yang berempati, menjadikan seseorang seperti robot dan penjagal bagi pelanggar aturan. Antinomian menghasilkan kehidupan yang sembrono, penuh kekacauan, serta rusak secara moral dan etika. Dalam nas yang kita renungkan hari ini, kedua anak dalam perumpamaan mewakili dua sikap tersebut. Anak bungsu digambarkan sebagai pribadi yang haus akan kebebasan. Ia meminta warisan ketika ayahnya masih hidup, pergi berfoya-foya, dan menghabiskan seluruh harta bapanya. Ia mewakili sikap antinomian yang enggan hidup dalam aturan. Sebaliknya, anak sulung mewakili sikap legalistis. Ia sangat taat kepada perintah bapanya dan merasa berhak atas upah karena kepatuhannya. Ia marah ketika adiknya yang penuh pelanggaran diterima kembali dengan sukacita. Karena itu, perumpamaan ini tidak hanya berbicara tentang anak bungsu yang terhilang, tetapi juga tentang anak sulung yang terhilang. Anak bungsu terhilang dalam kebebasannya, anak sulung terhilang dalam kepatuhannya. Keduanya sama-sama meninggalkan rumah, dan Sang Bapa secara aktif keluar mencari kedua anak itu. Sang Bapa rindu mereka kembali menikmati relasi intim yang penuh sukacita. Anak sulung diajak menaati Bapa bukan karena aturan dan upah, melainkan karena sukacita dalam relasi (ay. 31). Anak bungsu dipulihkan untuk menikmati kebebasan sejati sebagai anak yang diberi kesempatan kedua (ay. 32). Relasi intim dengan Bapa yang penuh anugerah dan sukacita itulah kerinduan Allah bagi setiap kita. Relasi ini menyingkirkan ketaatan yang legalistis, sehingga ketaatan dilakukan dengan sukacita dan penuh kasih, tanpa kehilangan belas kasih seperti Bapa yang penuh kasih. Keintiman ini juga menyingkirkan sikap antinomian yang mengejar kebebasan tanpa acuan. Kesadaran akan belas kasih dan anugerah Bapa yang begitu besar sanggup mengubah sikap hati, sehingga kasih yang muncul adalah kasih yang lahir dari pengampunan dan sukacita kebebasan sejati. Oleh sebab itu, marilah kita menyadari betapa besar pengampunan dan belas kasih yang telah kita terima. Ingatlah bahwa sukacita sejati tidak ditemukan dalam kehebatan menaati aturan atau dalam kebebasan yang merusak hidup, melainkan hanya dalam relasi yang intim dengan Bapa. Amin. “Keintiman dengan Bapa menyadarkan kita bahwa kita anak dikasihi dan dicintai dengan mendalam. Kedalaman itu yang membawa sukacita, kebebasan dan ketaatan yang otentik” Pertanyaan Untuk Direnungkan: 1. Apa dampak merusak dari sikap legalistis dan antinomian? 2. Mengapa Tuhan menginginkan anak-anak-Nya menikmati relasi intim dengan-Nya sehingga mampu mengubahkan sikap legalistis dan antinomian? Apa komitmen anda setelah belajar kebenaran ini?
more
4-2-2026 - Awalnya Terpaksa (PST GKJ Bahasa Indonesia)
2026/02/03
Nats Alkitab : Markus 15:21 & Roma 16:13 Penulis : G.I. Swannius Bong Dalam pelayanan kepada kaum muda, tidak jarang saya harus bertindak seolah-olah “memaksa” mereka untuk terlibat dalam pelayanan. Hal ini dilakukan karena saya melihat bahwa anak-anak muda tersebut memiliki sikap hati yang baik, potensi, dan kemampuan yang besar. Akan sangat disayangkan jika mereka tidak dilibatkan dalam melayani Tuhan. Tidak sedikit dari mereka yang pada awalnya melayani dengan rasa terpaksa. Namun seiring berjalannya waktu, dengan dasar pengenalan yang semakin dalam kepada Tuhan, mereka mulai mengerti bahwa mereka perlu terus bertumbuh dan berubah menjadi murid Kristus yang lebih baik. Perubahan ini terjadi bukan semata-mata karena pengalaman terjun langsung dalam pelayanan atau karena sudah “mencicipi” nikmatnya melayani, melainkan karena iman kepada Injil Kristus yang bertumbuh seiring dengan firman Tuhan yang mereka dengar dan yang menyentuh hidup mereka. Mereka yang semula terpaksa kini bukan hanya aktif melayani, tetapi juga mampu memberkati dan membimbing lebih banyak orang. Dalam nas hari ini, kita menemukan salah satu tokoh yang dikenal dalam peristiwa penyaliban Kristus, yaitu Simon dari Kirene. Ia diminta oleh tentara Romawi untuk membantu Yesus memikul salib-Nya. Alkitab mencatat bahwa mereka “memaksa” Simon dari Kirene untuk melakukan hal tersebut. Simon adalah seorang yang baru datang dari luar kota dan tentu tidak siap terlibat dalam situasi yang menakutkan dan berbahaya itu. Namun, ia dipaksa masuk ke dalam momen terbesar dalam karya keselamatan Mesias bagi manusia. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti apa yang ada di dalam pikiran Simon ketika ia harus memikul salib Kristus. Namun yang jelas, ketika ia melihat Kristus yang menderita dan memandang wajah-Nya yang penuh kasih, di sanalah titik awal perubahan hidupnya terjadi. Injil Markus menyebutkan nama kedua anaknya, Aleksander dan Rufus. Banyak penafsir sepakat bahwa keterangan ini ditambahkan karena jemaat pada waktu itu mengenal keluarga Simon. Hal ini diperkuat dalam Roma 16:13, ketika Paulus menyebut nama Rufus, yang diyakini sebagai orang yang sama dengan Rufus dalam Injil Markus. Bahkan Paulus menyebut ibu Rufus sebagai seorang yang juga telah menjadi ibu baginya. Hal ini menunjukkan bahwa Simon dari Kirene yang pada awalnya melayani dengan terpaksa, akhirnya mengalami dan mempercayai karya keselamatan Kristus, sehingga imannya berdampak bagi seluruh hidupnya. Ia membawa seluruh keluarganya kepada Tuhan; istrinya menjadi pelayan Tuhan, dan anak-anaknya hidup sebagai umat pilihan Allah. Demikian pula ketika Tuhan memanggil kita untuk terlibat dalam pelayanan kasih. Sering kali mental kita menjadi ciut dan kita enggan melangkah. Tidak jarang kita menolak karena merasa tidak sanggup dan lemah. Oleh sebab itu, Tuhan terkadang mengizinkan atau menciptakan situasi tertentu yang membuat kita seolah-olah “terpaksa” melayani Dia. Tuhan mengetahui bahwa penolakan kita sering kali bukan karena tidak ada kerinduan, melainkan karena ketakutan, mental yang lemah, dan perasaan tidak mampu. Melalui proses tersebut, Tuhan mendewasakan mental anak-anak-Nya. Ketika dalam perjalanan melayani kita mengalami kasih Tuhan, rasa terpaksa itu perlahan berubah menjadi rasa syukur. Bahkan bukan hanya rasa syukur, tetapi juga kemampuan untuk terus melayani dan memberkati keluarga serta orang-orang terdekat kita melalui hidup yang dipersembahkan bagi Tuhan (GI Swannius- GKJ Jembatan Besi) “Menyatakan kasih melalui pelayanan akan berdampak besar sekitar kita, karena itu jika awalnya kita mungkin merasa terpaksa melakukannya, mari lah saat ini kita kerjakan dengan sukacita untuk tanggung jawab yang mulia itu” Pertanyaan Untuk Direnungkan: 1. Apa yang membuat pelayanan kasih yang awalnya terpaksa menjadi penuh syukur dan berdampak? 2. Apa komitmen saya agar dapat menjadi pribadi yang semakin berhasrat dalam menunjukkan kasih ?
more
3-2-2026 - 充滿自由的愛 (PST GKJ Bahasa Mandarin)
2026/02/02
約翰一書4:17-18 4:17 這樣, 愛在我們裡面得以完全, 我們就可以在審判的日子, 坦然無懼. 因為祂如何, 我們在這世上也如何。 4:18 愛裡沒有懼怕. 愛既完全, 就把懼怕除去. 因為懼怕裡含著刑罰. 懼怕的人在愛裡未得完全。 試想一下有一位朋友生活在充滿壓力的環境中面臨付出的義務。付出的價值被用來衡量對基督的信仰。不願意在經濟上為教會活動做出貢獻的人, 被瞧不起並被貼上吝嗇的標籤。宗教領袖們不斷以威脅和恐嚇的語氣呼籲奉獻的責任包括十分之一在内。這樣的經歷持續了數年, 因此造成了長期的心理創傷。那麼問題何在? 在於命令的奉獻來證明愛還是在於自律的奉獻? 我不這麼認為。這命令並沒有錯, 因為我們每個人都需要明確而堅定的態度。對教會和對他人表達愛的命令反而有助於我們將生命導向上帝的旨意。自律的奉獻也沒有錯, 因為我們都是粗心大意而健忘的人。自律能幫助我們堅持不懈地忠心做好這件事。那麼問題出在哪裡呢? 出在基於恐懼和刑罰的心態實踐奉獻。 在我們今天所讀的經文中, 使徒約翰表明了愛是信徒最大的自由和美好, 以此證明上帝的愛在我們裡面得以完全了(第 17上節)。約翰嚴格强調, 完全的愛可以除去懼怕。從本節中, 我們得知三點作為享受真正自由的基礎。第一點, 上帝的愛透過基督在十字架上救贖我們免受死亡的刑罰的完美工作顯明出來, 使我們坦然無懼地面對審判的日子 (第17下節).在基督裡不再懼怕死亡的刑罰。上帝的愛戰勝了人類最懼怕的死亡刑罰的根源。因此, 在災難, 疾病或危險時期, 即使情況令人感到威脅, 我們也不害怕, 因為我們有首要的保證, 那就是戰勝永恆的懲罰。 第二點, 我們坦然無懼地像基督在世上活著(第17下下節)。賜予我們的新身份並沒有束縛我們, 反而釋放了我們。藉著這身份我們活出上帝兒女的身份, 有權隨時就近天父,在禱告和敬拜中享受與祂親密的關係, 領受基督復活的大能來榮耀祂, 以及成為上帝國度的承受者。基督賜給我們的身份是多麼美好! 第三點, 我們獲得了戰勝世上一切恐懼的力量,並享受充滿和平喜樂的自由(第18節)。我們實踐愛的基礎不再是壓力, 威脅或約束性的命令, 因為這樣的基礎實際上會消除愛。我們愛他人的根基在於基督使我們在末日的審判中得著釋放, 並賜給我們新的身份。因此, 讓我們意識到營造一個安全平靜的環境, 一個充滿愛的榜樣的環境,而不是一個讓愛成為令人恐懼和充滿懲罰環境的責任的重要性。 “我們確實需要命令和自律來表達愛。然而,其基礎並非對懲罰的恐懼,而是戰勝了我們老我的愛, 以及將我們改變成新我的能力.” 作者 : 椰嘉達基督徒會堂鐵橋堂會 – 蔡國鑽傳道 翻譯 : 黃瓊楓 默想的問題 : 1. 為什麼愛不能因為害怕懲罰而產生呢? 2. 我該如何建立充滿自由的愛?
more
3-2-2026 - Kasih Yang Penuh Kebebasan (PST GKJ Bahasa Indonesia)
2026/02/02
Nats Alkitab : 1 Yohanes 4:17-18 Penulis : G.I. Swannius Bong Bayangkan berada dalam situasi seorang teman yang hidup dalam lingkungan penuh tekanan terkait kewajiban memberi. Nilai pemberian dijadikan ukuran iman kepada Kristus. Jika seseorang tidak bersedia berkontribusi secara finansial dalam kegiatan gereja, ia dipandang rendah dan dicap pelit. Para pemuka agama terus menyuarakan kewajiban memberi, termasuk persepuluhan, dengan nada ancaman dan ketakutan. Pengalaman ini dialami bertahun-tahun hingga menimbulkan trauma jangka panjang. Lalu apa persoalannya? Apakah masalahnya terletak pada perintah memberi sebagai bukti kasih atau pada disiplin dalam memberi? Saya rasa bukan. Tidak ada yang salah dengan perintah tersebut, karena setiap kita membutuhkan kejelasan dan ketegasan dalam bersikap. Perintah untuk menyatakan kasih kepada gereja dan sesama justru menolong kita mengarahkan hidup kepada kehendak Tuhan. Tidak ada pula yang keliru dengan disiplin memberi, sebab kita adalah pribadi yang mudah lalai dan lupa. Disiplin menolong kita untuk terus setia melakukannya. Lalu di mana letak masalahnya? Masalahnya adalah ketika pemberian dilakukan karena ketakutan dan penghukuman. Dalam nas yang kita baca hari ini, Rasul Yohanes menyatakan bahwa mengasihi adalah sebuah kebebasan dan keindahan terbesar bagi orang percaya, sebagai bukti bahwa kasih Allah telah menjadi sempurna di dalam kita (ay. 17a). Yohanes dengan tegas menegaskan bahwa kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Dari bagian ini, kita menemukan tiga kebebasan yang menjadi dasar untuk menikmati kebebasan sejati. Pertama, kasih Allah dinyatakan melalui karya sempurna Kristus di kayu salib yang telah menebus dan membebaskan kita dari hukuman maut, sehingga kita dapat menghadapi hari penghakiman dengan penuh keberanian (ay. 17b). Di dalam Kristus tidak ada lagi ketakutan akan hukuman maut yang menanti. Kasih Tuhan telah mengalahkan hukuman maut yang menjadi sumber ketakutan terdalam manusia. Oleh karena itu, dalam bencana, sakit, atau marabahaya, sekalipun situasi terasa mengancam, kita tidak digentarkan karena kita memiliki jaminan utama, yaitu kemenangan atas hukuman kekal. Kedua, kita memiliki keberanian untuk hidup sama seperti Kristus hidup di dunia ini (ay. 17c). Identitas baru yang diberikan kepada kita tidak membuat kita terbelenggu, melainkan justru membebaskan. Melalui identitas ini, kita hidup sebagai anak-anak Allah yang berhak datang kepada Bapa kapan pun, menikmati relasi intim dengan-Nya dalam doa dan ibadah, menerima kuasa kebangkitan Kristus untuk hidup memuliakan-Nya, serta menjadi ahli waris Kerajaan Allah. Betapa indah identitas yang diberikan Kristus kepada kita. Ketiga, kita menerima kuasa untuk menang atas segala ketakutan di dunia ini dan menikmati kebebasan yang penuh damai dan sukacita (ay. 18). Dasar kita melakukan kasih bukan lagi tekanan, ancaman, atau perintah yang mengikat, sebab dasar seperti itu justru menghilangkan kasih. Dasar kita mengasihi adalah karena Kristus telah membebaskan kita dari penghakiman akhir dan memberikan identitas yang baru. Oleh karena itu, marilah kita menyadari pentingnya membangun lingkungan yang aman dan meneduhkan, lingkungan yang dipenuhi teladan kasih, bukan lingkungan yang menjadikan kasih sebagai kewajiban yang menakutkan dan sarat dengan penghukuman. “Kita memang perlu perintah dan disiplin untuk menyatakan kasih. Namun dasarnya bukan ketakutan akan hukuman melainkan kasih yang telah menang dan mengalahkan diri kita yang lama dan kuasa mengubah menjadi diri yang baru ” Pertanyaan Untuk Direnungkan: 1. Mengapa mengasihi tidak boleh datang karena ketakutan akan hukuman? 2. Bagaimana saya membangun kasih yang penuh kebebasan ?
more
2-2-2026 - 要求自己必須表達愛 (PST GKJ Bahasa Mandarin)
2026/02/01
撒母耳記上 18:1-4 18:1 大衛對掃羅說完了話、約拿單的心、與大衛的心、深相契合.約拿單愛大衛、 如同愛自己的性命。 18:2 那日掃羅留住大衛、不容他再回父家。 18:3 約拿單愛大衛如同愛自己的性命、就與他結盟。 18:4 約拿單從身上脫下外袍、給了大衛、又將戰衣、刀、弓、腰帶、都給了他。 每個人都有朋友。同事、同學、童年小朋友、玩伴、閒聊的朋友,以及人生伴侶。然而,在當今快節奏、競爭激烈的世界裡,許多友誼都是在好處、利益、競爭和追求人脈關係之上建立的。 聖經中有一個建立在純潔真摯的愛之上的友誼的例子,那就是約拿單和大衛之間的友誼。大衛剛剛戰勝歌利亞, 正在與以色列王掃羅也是約拿單的父親交談時。“大衛對掃羅說完了話, 約拿單的心, 與大衛的心, 深相契合. 約拿單愛大衛, 如同愛自己的性命.”在撒母耳記上18章第1節和18章第3節中的 “如同愛自己的性命” 這句話重複出現了兩次。這證實了大衛和約拿單之間的友誼是建立在愛的根基上; 愛他如同愛自己. 希伯來語中的“愛”這個字源於字根 אָהַב (’ahav),意思是真誠地愛,疼惜和忠誠地承諾委身.愛在聖經的意義不僅僅是一種溫柔的情感, 而是一種無論在什麼情況下都堅定不移, 忠貞不渝的決定。這種愛是付諸行動的愛, 而不僅僅是口頭上的愛。 約拿單並不把大衛看為競爭對手,而是視他為摯友,因為上帝將他帶到了他的生命中。甚至作為掃羅王的兒子約拿單,以色列王國的王位繼承人,他也願意將自己身上穿的外袍送給了大衛、又將戰衣、刀、弓、腰帶、都給了他。約拿單送給大衛的這些都不是普通的禮物。而對於王儲而言,這意味著將放棄作為王位繼承人的尊榮, 權力和權利。然而,約拿單沒有反抗上帝的計劃。他承認並降服於上帝揀選大衛作下一任君王. 這意味著約拿單必須自願放棄他作為王儲的權利。約拿單對大衛沒有嫉妒,沒有生氣, 也沒有要報復之心,反而愛大衛如同愛自己一樣。真摯的友誼不是競爭,而是互相幫助和扶持。 這樣的愛反映了上帝的真愛, 而不是基於利益的人類之愛。 作 者:椰嘉達基督徒會堂順德堂會- Dwi Agustina Arta Riyadi傳道 翻譯員:張賽瓊 默想的問題: 1. 在我的友誼交情中,我通常是索取還是付出?為什麼? 2. 這周我該如何能像約拿但那樣,向朋友或弟兄姐妹表達真摯的愛?
more
2-2-2026 - Mengharuskan Diri Untuk Menyatakan Kasih (PST GKJ Bahasa Indonesia)
2026/02/01
Nats Alkitab : 1 Samuel 18:1-4 Penulis : G.I. Dwi Agustina Arta Riyadi Semua orang pasti memiliki teman. Teman kerja, teman sekolah, teman kecil, teman main, teman nongkrong dan teman hidup. Namun, di dunia yang serba cepat dan penuh persaingan, tidak sedikit pertemanan yang dibangun berdasarkan kepentingan, keuntungan, persaingan dan demi mendapat koneksi. Alkitab memberikan contoh pertemanan yang dibangun dengan kasih yang murni dan tulus yaitu antara pertemanan Yonatan dan Daud. Ketika Daud baru saja mengalahkan Goliat dan berbicara dengan Saul Raja Israel dan juga ayahnya Yonatan. "Jiwa Yonatan berpadu dengan jiwa Daud dan Yonatan mengasihi dia (Daud) seperti jiwanya sendiri." kata mengasihi seperti dirinya sendiri diulang sebanyak 2 kali dalam 1 Sam 18:1 dan 18:3. Hal ini menegaskan bahwa pertemanan antara Daud dan Yonatan dibangun berdasarkan kasih - yang mengasihi seperti untuk dirinya sendiri. Kata “kasih” dalam bahasa Ibrani berasal dari akar kata אָהַב (’ahav), yang berarti mengasihi dengan tulus, menyayangi, dan berkomitmen dengan kesetiaan. Kasih dalam pengertian Alkitab bukanlah sekadar perasaan yang lembut, melainkan keputusan untuk berpegang teguh dan setia kepada seseorang, apa pun keadaannya. Kasih seperti ini adalah kasih yang bertindak, bukan hanya kata-kata. Yonatan tidak melihat Daud sebagai saingan, tetapi sebagai sahabat yang dikasihi karena Allah menghadirkan dia dalam hidupnya. Bahkan sebagai putra mahkota anak dari raja Saul, Yonathan sebagai ahli waris takhta Kerajaan Israel bersedia memberikan jubah yang ia pakai, baju perang, pedang, panahnya dan ikat pinggangnya kepada Daud (1 Sam 18:4). Tindakan Yonatan yang memberikan jubah, baju perang, pedang, panah, dan ikat pinggang kepada Daud bukan sekadar hadiah biasa. Bagi seorang putra mahkota, itu berarti menyerahkan tanda kehormatan, kekuasaan, dan hak sebagai pewaris takhta. Namun, Yonatan tidak menentang rencana Allah. Ia mengakui dan tunduk bahwa Tuhan telah memilih Daud menjadi raja berikutnya. Itu berarti Yonatan harus rela melepaskan haknya sebagai putra mahkota. Yonatan tidak iri, tidak marah, tidak dendam kepada Daud, justru ia mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. Pertemanan yang tulus tidak bersaing, tapi saling menolong dan menguatkan. Kasih seperti ini mencerminkan kasih yang tulus dari Allah, bukan kasih berdasarkan kepentingan manusia. Pertanyaan Untuk Direnungkan: 1. Apakah dalam persahabatan saya, saya lebih sering menuntut atau memberi? Mengapa? 2. Bagaimana saya dapat menunjukkan kasih yang tulus seperti Yonatan kepada teman atau saudara saya dalam minggu ini?
more
1-2-2026 - 愛: 是自由或必須? (PST GKJ Bahasa Mandarin)
2026/01/31
約翰一書 4:19-5:3 ; 約翰一書 4:19-21 4:19 我們愛、因為神先愛我們。 4:20 人若說、我愛神、卻恨他的弟兄、就是說謊話的. 不愛他所看見的弟兄、就不能愛沒有看見的神。 4:21 愛神的、也當愛弟兄、這是我們從神所受的命令。 約翰一書 5:1-3 5:1 凡信耶穌是基督的、都是從神而生.凡愛生他之神的、也必愛從神生的。 5:2 我們若愛神、又遵守祂的誡命、從此就知道我們愛神的兒女。 5:3 我們遵守神的誡命、這就是愛祂了. 並且祂的誡命不是難守的。 一位女士來到一位主的僕處, 傾訴了她難以對傷害過她的丈夫表達愛意的掙扎。她的丈夫屢次傷害她。她說她很難遵行上帝的話語來重新愛她的丈夫。她提出了一個對於我們作為信徒的觀念和屬靈信仰至關重要的問題。她問道: “我是否有自由選擇愛我丈夫的權利? 還是我被命令必須愛我的丈夫, 寬恕他並接納他?” 她接著說: “如果我可以自由選擇愛與不愛的話, 坦白說我覺得很自由。然而我確實很難做到 (甚至不可能做到)。反之, 如果我被命令去愛他的話, 我會感到被强迫,不是真心實意地去愛他.” 在今天的經文中, 我們看到使徒約翰深刻地談到了愛對於信徒生命的意義。然而, 如果快速瀏覽一下, 他似乎也陳述了兩件看似矛盾的事情. 他說愛裡沒有懼怕 (第18節)。這意味著, 由於害怕懲罰, 或者換句話說, 由於恐懼的脅迫, 愛可能就不會出現。但另一方面, 在今天的經文中, 使徒約翰也陳述說, 愛是命令, 這意味著愛是強制性的 (4:21,5:2-3)。問題是, 這兩者是否矛盾? 我們如何理解這個真理? 第一點, 信徒心中之所以有愛, 是因為我們的身分已被上帝改變。使徒約翰說, 我們愛是因為神先愛我們 (4:19)。接下去使徒約翰也說, 凡信耶穌是基督的, 都是從神而生, 也必愛從神生的人(5:1-2)。伴隨著身份的改變是性格, 態度和降服程度的改變。就像魚類會順從水中的生活的規則一樣,不是因為被迫, 而是因為其天性和需要性; 一種在必須性之中的自由。同樣,愛他人是新生命的本質, 是一種必然性的自由. 第二點, 愛他人是我們愛看不見之上帝的證據 (4:20下節)。的確, 如果愛他人只是基於情感的自由, 那麼就不可能有愛的意願和真誠。但是, 如果還沒接受上帝的愛, 也沒有決定去愛上帝的話, 那麼愛那位看不見的上帝的唯一證據就是去愛那些看得見的人。如果沒有愛的真實證據, 那麼我們的信心就從未存在過; 它只是謊言和欺騙 (4:20上節), 這意味著我們仍然因罪而沉淪。第三點, 使徒約翰也安慰我們說, 愛的誡命並非難事 (5:3)。這意味著, 當我們愛人如己時, 上帝會賜給我們力量, 幫助和平安, 使我們有能力執行愛的誡命。除此之外,這條誡命並不難實行, 因為基督已經充分證明了祂對我們的愛, 並賜給我們充滿愛的新生命。 去愛他人是出於自由還是出於必須的乃是我們信仰中一個悖論。這證明我們是生活在基督的誡命之下或基督的至高無上之下, 不再僅僅被迫地過宗教生活, 乃是有一種能夠改變我們的身份, 我們的內心和我們的生活的力量, 並將對祂誡命的順服轉化為極大的信心和喜樂的證據。所以, 愛是信徒必須擁有的自由,一個充分自由而必須執行的責任, 是信心和愛上帝的證據。阿門。 “在基督裡的愛不是出於強迫, 而是源自於被上帝改變的身份的渴望.” 作者 : 椰嘉達基督徒會堂鐵橋堂會 – 蔡國鑽傳道 翻譯 : 黃瓊楓 默想的問題 : 1. 為什麼愛上帝既是必需的又是自由的呢? 2. 我該如何才能想要愛上帝, 而不是被強迫?
more
1-2-2026 - Kasih : Kebebasan Atau Keharusan? (PST GKJ Bahasa Indonesia)
2026/01/31
Nats Alkitab : 1 Yohanes 4:19-5:3 Penulis : G.I. Swannius Bong Seorang ibu datang kepada seorang hamba Tuhan. Ia menceritakan pergumulannya perihal menyatakan kasih kepada suaminya yang telah menyakiti dirinya. Suaminya menyakiti dirinya berulang kali. Ia menceritakan bahwa ia sangat sulit menaati Firman Tuhan dengan mengasihi suaminya kembali. Ia mengajukan sebuah pertanyaan yang penting bagi konsep dan spiritualitas kita sebagai orang-orang percaya. ia bertanya “Apakah saya bebas untuk memilih mengasihi suami saya? atau saya diperintahkan harus mengasihi suami saya dengan mengampuni dan menerima dirinya kembali?” Ia melanjutkan dengan mengatakan “Jika saya diberikan kebebasan untuk mau mengasihi atau tidak, jujur saya merasa merdeka. Tetapi saya sulit melakukannya (bahkan tidak akan mungkin melakukannya). Sebaliknya, jika saya diperintahkan harus mengasihi dia, saya merasa terpaksa melakukannya. Saya tidak tulus melakukannya.” Konteks nas hari ini, kita temukan bahwa rasul Yohanes berbicara begitu mendalam tentang arti kasih bagi hidup orang percaya. Namun jika dibaca sepintas, ia juga seolah-olah menyatakan dua hal yang terlihat bertentangan. Ia menyatakan bahwa dalam kasih tidak ada ketakutan (ay. 18). Artinya kasih itu boleh tidak muncul karena takut hukuman atau dengan kata lain dengan keterpaksaan yang menakutkan. Tetapi disisi lain, dalam nas hari ini, rasul Yohanes juga menyatakan bahwa kasih merupakan sebuah perintah yang artinya keharusan (4:21, 5:2-3). Pertanyaan apakah kedua hal itu bertentangan? Bagaimana kita memahami kebenaran ini? Pertama. Kasih dalam diri seorang percaya ada karena identitas kita yang telah diubahkan oleh Tuhan. Rasul Yohanes katakan kita mengasihi karena Allah terlebih dahulu Allah mengasihi kita (4:19). Selanjutnya, rasul Yohanes juga mengatakan bahwa setiap orang percaya Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah, akan mengasihi orang yang lahir dari Allah (5:1-2). Identitas yang berubah akan disertai karakter, sikap hati, ketundukan yang berubah. Seperti ikan akan tunduk pada aturan untuk hidup dalam air, bukan karena terpaksa, tetapi natur dan kebutuhannya memang demikian; sebuah kebebasan dalam keharusan. Demikian juga dalam mengasihi sesama itu adalah natur hidup baru dalam keharusan yang membebaskan. Kedua, mengasihi sesama merupakan bukti dari kita mengasihi Allah yang tidak terlihat (4:20b). Memang betul jika acuan mengasihi sesama berdasarkan kebebasan dari perasaan semata, tidak mungkin ada kemauan dan ketulusan untuk mengasihi. Tetapi jika tidak sudah menerima kasih Allah dan memutuskan mengasihi Allah, maka bukti satu-satunya menunjukkan kasih kepada Allah tak terlihat adalah dengan mengasihi sesama yang terlihat. Jika tidak ada bukti nyata dalam kasih; maka kita iman kita tidak pernah ada; hanya kebohongan dan dusta (4:20a) artinya kita masih dalam kebinasaan oleh dosa. Ketiga, rasul Yohanes juga memberikan sebuah penghiburan bahwa perintah untuk mengasihi itu tidak berat (5:3). Artinya dalam mengasihi sesama, Tuhan memberikan kekuatan dan pertolongan serta damai sejahtera bagi kita sehingga kita akan dimampukan. Selain itu, perintah itu tidak berat, karena Kristus sudah terlebih membuktikan kasih-Nya kepada kita dengan berlimpah-limpah dan memberikan natur baru yang penuh kasih kepada kita. Mengasihi sebagai kebebasan atau keharusan adalah sebuah paradoks dalam iman percaya kita. Sebuah bukti bahwa kita hidup dalam pemerintah Kristus atau supremasi Kristus yang tidak lagi sekedar menjalankan kehidupan agamawi yang dipaksakan, tetapi kuasa yang mampu mengubahkan identitas kita, hati kita dan hidup kita serta membawa ketaatan pada perintah-Nya menjadi sebuah bukti iman dan sukacita yang besar. Jadi mengasihi adalah kebebasan yang harus sebagai orang percaya dan sekaligus keharusan yang penuh kebebasan sebagai bukti iman dan kasih kepada Tuhan. Amin.
more
31-1-2026 - 有教導性的關係 (PST GKJ Bahasa Mandarin)
2026/01/30
申命記31:7-8 31:7 摩西召了約書亞來, 在以色列眾人眼前對他說, 你當剛強壯膽, 因為你要和這百姓一同進入耶和華向他們列祖起誓應許所賜之地, 你也要使他們承受那地為業。 31:8 耶和華必在你前面行、他必與你同在、必不撇下你、也不丟棄你、不要懼怕、也不要驚惶。 在現今的世界,許多人很難給下一代留出位置空間;無論是在家庭、工作、事奉甚至在社會中;覺得很難給下一代提供成長、表達意見和扮演角色。與造成這種情況有幾個原因: 害怕失去地位或影響力;對“尚未準備好”或“缺乏經驗”的年輕一代缺乏信任;不願意需要耐心和謙卑指導陪伴的過程;自私和自命不凡。 然而,在聖經中將位置讓給下一代是一種順服和智慧的表現。摩西和約書亞之間的關係是美好人際關係的典範;是提供了空間,教導,信任,並八給予了信心模範的關係。當上帝任命約書亞為他的繼任者時,摩西並沒有排斥約書亞和生氣。相反,他在以色列眾人面前肯定並堅固了約書亞。“你當剛強壯膽…”(申命記31:7)。因為摩西知道約書亞的任務非常艱巨沈重,他要帶領的是會常常抱怨、固執且硬著頸項難以服從的以色列國民。摩西已經帶領他們約40年之久。 摩西也鼓勵和安慰約書亞, 告訴他不會孤身一人帶領以色列民前往應許之地. “耶和華必在你前面行, 祂必與你同在, 必不撇下你, 也不丟棄你, 不要懼怕, 也不要驚惶.”(申命記31:8) “耶和華必在你前面行”意思是上帝已經預備了道路, 安排好了一切. “祂必與你同在”意味著上帝不僅在我們前面, 但也在我們裡面和我們的四周圍同在.“祂必不撇下你, 也不丟棄你.”意思是無論在什麼情況下, 上帝都不會放棄我們, 即使我們失敗了, 祂也不會遠離我們. “不要懼怕, 也不要驚惶”意思是沒有理由害怕和放棄。摩西和約書亞之間的關係表明了教導 (提供空間)不僅僅是給予建議, 也是引導認識及仰賴上帝。 好像摩西對約書亞一樣,我們也被呼籲去教導, 鼓勉, 堅固我們周圍的人,讓他們以堅定的心靈和活潑的信心,勇敢地邁向上帝的呼召。 作 者:椰嘉達基督徒會堂順德堂會- Dwi Agustina Arta Riyadi傳道 翻譯員:張賽瓊 默想的問題: 1. 在與他人的關係中,我是否經常鼓勵和支持他們,還是常常恐嚇和打擊他們?為什麼? 2. 我是否像摩西一樣,成為他人的信心榜樣;尤其是對那些剛剛認識上帝的人?我應該做些什麼?
more
31-1-2026 - Relasi Yang Mendidik (PST GKJ Bahasa Indonesia)
2026/01/30
Nats Alkitab : Ulangan 31:7-8 Penulis : G.I. Dwi Agustina Arta Riyadi Dunia kita sekarang, banyak orang sulit untuk memberikan tempat kepada generasi berikutnya - baik dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan bahkan dalam masyarakat - merasa sulit memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk bertumbuh, berpendapat dan mengambil peran. Ada beberapa alasan berkaitan dengan hal ini: takut kehilangan posisi atau pengaruh; kurang kepercayaan kepada generasi muda "belum siap" "belum berpengalaman"; Tidak mau berproses dalam pendampingan yang membutuhkan kesabaran dan kerendahan hatian; Ego dan kebanggaan pribadi. Namun dalam Alkitab memberi tempat kepada generasi berikutnya adalah bentuk ketaatan dan kebijaksanaan. Relasi antara Musa dan Yosua menunjukkan contoh relasi yang sangat indah - relasi yang memberi tempat, mendidik, mempercayai dan memberi teladan iman. Saat Tuhan menetapkan Yosua sebagai penerus, Musa tidak menolak Yosua dan marah. Justru ia menguatkan dan meneguhkan Yosua di depan seluruh orang Israel. "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu..." (Ul 31:7). Sebab Musa tahu tugas Yosua sangat berat untuk memimpin bangsa Israel yang sering bersungut-sungut, keras kepala dan sulit taat. Musa sudah kurang lebih 40 tahun memimpin mereka. Musa juga berikan penguatan dan penghiburan kepada Yosua, bahwa ia tidak akan berjalan sendirian untuk memimpin bangsa Israel ke tanah perjanjian. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; jangan takut dan janganlah patah hati." (Ul 31:8)"TUHAN, Dialah yang akan berjalan di depanmu" maknanya Tuhan sudah lebih dahulu menyiapkan jalan dan mengatur segalanya. "Ia sendiri akan menyertai engkau" maknanya Tuhan bukannya hanya berada di depan, tapi juga di dalam dan di sekitar kita. "Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." maknanya Tuhan tidak akan menyerah kepada kita apa pun keadaannya dan tidak akan menjauh walaupun kita gagal. "Jangan takut dan jangan patah hati" maknanya maka tidak ada alasan untuk takut dan menyerah. Relasi Musa dan Yosua menunjukkan bahwa mendidik (memberi tempat) bukan hanya soal memberi nasihat, tetapi menuntun untuk mengenal dan mengandalkan Tuhan. Seperti Musa kepada Yosua, kita pun dipanggil untuk mendidik, menguatkan dan meneguhkan orang-orang di sekitar kita agar mereka berani melangkah dalam panggilan Tuhan dengan hati yang teguh dan iman yang hidup. Pertanyaan Untuk Direnungkan: 1. Dalam relasi dengan sesama, apakah saya lebih sering memberi semangat dan penguatan atau justru menakut-nakuti dan melemahkan hati mereka? Mengapa? 2. Apakah saya, seperti Musa sudah menjadi teladan iman bagi orang lain - khususnya bagi mereka yang baru belajar mengenal Tuhan? Apa yang seharusnya saya lakukan?
more
30-1-2026 - 真摯的關係 (PST GKJ Bahasa Mandarin)
2026/01/29
撒母耳記上 18:1-4 18:1 大衛對掃羅說完了話、約拿單的心、與大衛的心、深相契合.約拿單愛大衛、 如同愛自己的性命。 18:2 那日掃羅留住大衛、不容他再回父家。 18:3 約拿單愛大衛如同愛自己的性命、就與他結盟。 18:4 約拿單從身上脫下外袍、給了大衛、又將戰衣、刀、弓、腰帶、都給了他。 每個人都有朋友。同事、同學、童年小朋友、玩伴、閒聊的朋友,以及人生伴侶。然而,在當今快節奏、競爭激烈的世界裡,許多友誼都是在好處、利益、競爭和追求人脈關係之上建立的。 聖經中有一個建立在純潔真摯的愛之上的友誼的例子,那就是約拿單和大衛之間的友誼。大衛剛剛戰勝歌利亞, 正在與以色列王掃羅也是約拿單的父親交談時。“大衛對掃羅說完了話, 約拿單的心, 與大衛的心, 深相契合. 約拿單愛大衛, 如同愛自己的性命.”在撒母耳記上18章第1節和18章第3節中的 “如同愛自己的性命” 這句話重複出現了兩次。這證實了大衛和約拿單之間的友誼是建立在愛的根基上; 愛他如同愛自己. 希伯來語中的“愛”這個字源於字根 אָהַב (’ahav),意思是真誠地愛,疼惜和忠誠地承諾委身.愛在聖經的意義不僅僅是一種溫柔的情感, 而是一種無論在什麼情況下都堅定不移, 忠貞不渝的決定。這種愛是付諸行動的愛, 而不僅僅是口頭上的愛。 約拿單並不把大衛看為競爭對手,而是視他為摯友,因為上帝將他帶到了他的生命中。甚至作為掃羅王的兒子約拿單,以色列王國的王位繼承人,他也願意將自己身上穿的外袍送給了大衛、又將戰衣、刀、弓、腰帶、都給了他。約拿單送給大衛的這些都不是普通的禮物。而對於王儲而言,這意味著將放棄作為王位繼承人的尊榮, 權力和權利。然而,約拿單沒有反抗上帝的計劃。他承認並降服於上帝揀選大衛作下一任君王. 這意味著約拿單必須自願放棄他作為王儲的權利。約拿單對大衛沒有嫉妒,沒有生氣, 也沒有要報復之心,反而愛大衛如同愛自己一樣。真摯的友誼不是競爭,而是互相幫助和扶持。 這樣的愛反映了上帝的真愛, 而不是基於利益的人類之愛。 作 者:椰嘉達基督徒會堂順德堂會- Dwi Agustina Arta Riyadi傳道 翻譯員:張賽瓊 默想的問題: 1. 在我的友誼交情中,我通常是索取還是付出?為什麼? 2. 這周我該如何能像約拿但那樣,向朋友或弟兄姐妹表達真摯的愛?
more
30-1-2026 - Relasi Yang Tulus (PST GKJ Bahasa Indonesia)
2026/01/29
Nats Alkitab : 1 Samuel 18:1-4 Penulis : G.I. Dwi Agustina Arta Riyadi Semua orang pasti memiliki teman. Teman kerja, teman sekolah, teman kecil, teman main, teman nongkrong dan teman hidup. Namun, di dunia yang serba cepat dan penuh persaingan, tidak sedikit pertemanan yang dibangun berdasarkan kepentingan, keuntungan, persaingan dan demi mendapat koneksi. Alkitab memberikan contoh pertemanan yang dibangun dengan kasih yang murni dan tulus yaitu antara pertemanan Yonatan dan Daud. Ketika Daud baru saja mengalahkan Goliat dan berbicara dengan Saul Raja Israel dan juga ayahnya Yonatan. "Jiwa Yonatan berpadu dengan jiwa Daud dan Yonatan mengasihi dia (Daud) seperti jiwanya sendiri." kata mengasihi seperti dirinya sendiri diulang sebanyak 2 kali dalam 1 Sam 18:1 dan 18:3. Hal ini menegaskan bahwa pertemanan antara Daud dan Yonatan dibangun berdasarkan kasih - yang mengasihi seperti untuk dirinya sendiri. Kata “kasih” dalam bahasa Ibrani berasal dari akar kata אָהַב (’ahav), yang berarti mengasihi dengan tulus, menyayangi, dan berkomitmen dengan kesetiaan. Kasih dalam pengertian Alkitab bukanlah sekadar perasaan yang lembut, melainkan keputusan untuk berpegang teguh dan setia kepada seseorang, apa pun keadaannya. Kasih seperti ini adalah kasih yang bertindak, bukan hanya kata-kata. Yonatan tidak melihat Daud sebagai saingan, tetapi sebagai sahabat yang dikasihi karena Allah menghadirkan dia dalam hidupnya. Bahkan sebagai putra mahkota anak dari raja Saul, Yonathan sebagai ahli waris takhta Kerajaan Israel bersedia memberikan jubah yang ia pakai, baju perang, pedang, panahnya dan ikat pinggangnya kepada Daud (1 Sam 18:4). Tindakan Yonatan yang memberikan jubah, baju perang, pedang, panah, dan ikat pinggang kepada Daud bukan sekadar hadiah biasa. Bagi seorang putra mahkota, itu berarti menyerahkan tanda kehormatan, kekuasaan, dan hak sebagai pewaris takhta. Namun, Yonatan tidak menentang rencana Allah. Ia mengakui dan tunduk bahwa Tuhan telah memilih Daud menjadi raja berikutnya. Itu berarti Yonatan harus rela melepaskan haknya sebagai putra mahkota. Yonatan tidak iri, tidak marah, tidak dendam kepada Daud, justru ia mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. Pertemanan yang tulus tidak bersaing, tapi saling menolong dan menguatkan. Kasih seperti ini mencerminkan kasih yang tulus dari Allah, bukan kasih berdasarkan kepentingan manusia. Pertanyaan Untuk Direnungkan: 1. Apakah dalam persahabatan saya, saya lebih sering menuntut atau memberi? Mengapa? 2. Bagaimana saya dapat menunjukkan kasih yang tulus seperti Yonatan kepada teman atau saudara saya dalam minggu ini?
more
29-1-2026 - 具有影響力的關係 (PST GKJ Bahasa Mandarin)
2026/01/28
路得記 1:16 1:16 路得說、不要催我回去不跟隨妳、妳往那裡去、我也往那裡去. 妳在哪裡住宿、我也在那裡住宿.妳的國就是我的國、妳的神就是我的神. 如果我們經常在社交媒體上看到學習的技巧, 我們可能會更瞭解如何有效地學習, 並受到激勵去遵循這些技巧。同樣, 對於信心的模範, 我們看到的越多, 就越有興趣去效法它們。 路得原是摩押人, 摩押人敬拜的偶像是基抹 (列王紀上11:7; 民數記21:29). 然而, 透過與拿俄米的關係, 路得看到了認識真神的家庭的生活方式. 拿俄米沒有用很多的言辭講道, 但她的生活就是最好的見證. 在悲傷和失落中, 她仍然祈禱, 依舊繼續持守信心, 仍舊愛她的兒媳 (路得記1:6)。當拿俄米決定返回猶大地伯利恒時, 她並沒有強迫路得同行。反而拿俄米摧促路得回到她自己的族人和她所信奉的神那裡去 (路得記 1:8)。然而, 就是在那個時刻, 路得顯露出她已成長的信心。路得說: “不要催我回去不跟隨妳…妳的國就是我的國,妳的神就是我的神.”(路得記1:16) 這些話不僅是她對婆家的愛的表達, 也是她信仰的告白。路得離開了她的過去, 放棄了她拜的偶像, 選擇相信以色列的上帝。 真正的信心總是伴隨著與放棄舊事物, 全心全意跟隨上帝的決定. 路得跟隨拿俄米回去的原因並非盼望有經濟上或個人的利益. 因為拿俄米自己也說過: “我沒有什麼可以給你了.”(路得記1:11) 路得和拿俄米之間的關係明顯帶來美好的影響. 拿俄米不僅是路得的家婆, 也是信心的榜樣, 引領路得認識了上帝. 路得證明了以愛和對上帝的信心為根基的生活可以改變他人的心. 拿俄米是信心的活榜樣, 路得成為因愛讓她敢於邁出信心腳步的見證人. 我們每個人的生活中都有 “路得”和“拿俄米”: 有時我們會被呼籲成為拿俄米, 透過信心和愛的榜樣帶來好的影響. 有時我們就像路得一樣向信心更成熟的人學習。 具有影響力的關係不僅對彼此有益處, 並且互相幫助能更加認識上帝。 作 者:椰嘉達基督徒會堂順德堂會- Dwi Agustina Arta Riyadi傳道 翻譯員:張賽瓊 默想的問題: 1. 我建立的人際關係是在幫助他人更親近上帝, 還是使他們更遠離祂呢?為什麼? 2. 在我生命中, 有哪些像“拿俄米”一樣的人幫助我更認識並親近上帝?
more
29-1-2026 - Relasi Yang Membawa Pengaruh (PST GKJ Bahasa Indonesia)
2026/01/28
Nats Alkitab : Rut 1:16 Penulis : G.I. Dwi Agustina Arta Riyadi Jika kita sering melihat tips belajar di media sosial, kita mungkin akan lebih banyak tahu tentang cara belajar yang efektif bagaimana dan termotivasi untuk mengikuti tipsnya. Demikian juga dengan teladan iman, semakin sering kita melihat semakin membuat tertarik mempelajarinya. Rut berasal dari bangsa Moab, penyembah berhala Kamos (1 Raj. 11:7; Bil. 21:29). Namun, melalui relasinya dengan Naomi, Rut melihat cara hidup keluarga yang mengenal Allah yang sejati. Naomi tidak berkhotbah dengan banyak kata, tetapi hidupnya menjadi kesaksian. Ia tetap berdoa, tetap memegang iman, dan tetap mengasihi menantunya di tengah kesedihan dan kehilangan (Rut 1:5). Ketika Naomi memutuskan kembali ke Betlehem, ia tidak memaksa Rut ikut. Bahkan, Naomi mendorong Rut untuk kembali kepada bangsanya dan kepada allahnya (Rut 1:8). Namun, pada saat itulah terlihat bahwa iman Rut telah bertumbuh. Kata Rut "Janganlah mendesak aku meninggalkan engkau dan pulang....bangsamu adalah bangsaku dan Allahmu adalah Allahku." Rut 1:16 Perkataan itu bukan sekadar pernyataan kasih kepada mertuanya, tetapi pengakuan iman, Rut meninggalkan masa lalunya, meninggalkan berhalanya, dan memilih untuk percaya kepada Allah Israel. Iman yang sejati selalu disertai keputusan untuk meninggalkan yang lama dan mengikuti Allah dengan sepenuh hati. Rut tidak mengikuti Naomi karena harapan ekonomi atau keuntungan pribadi. Naomi sendiri sudah berkata: “Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan kepadamu.” (Rut 1:11). Relasi antara Rut dan Naomi menunjukkan relasi yang membawa pengaruh baik. Naomi bukan hanya ibu mertua bagi Rut, tetapi juga teladan iman yang membawa Rut mengenal Tuhan. Rut menunjukkan bahwa hidup yang berakar dalam kasih dan iman kepada Allah mampu mengubahkan hati orang lain. Naomi menjadi teladan iman yang hidup, dan Rut menjadi bukti dari kasih yang berani mengambil langkah iman. Kita semua punya "Rut" dan "Naomi" dalam hidup kita: Kadang kita dipanggil menjadi Naomi, memberi pengaruh yang baik melalui teladan iman dan kasih. Kadang kita seperti Rut belajar dari orang-orang yang lebih dewasa dalam iman. Relasi yang membawa pengaruh bukan hanya saling menguntungkan tetapi saling menolong untuk semakin mengenal Tuhan. Pertanyaan Untuk Direnungkan: 1. Apakah relasi yang saya bangun selama ini menolong orang lain semakin mengenal Tuhan atau justru menjauh dari-Nya? Mengapa? 2. Siapa "Naomi" dalam hidup saya untuk menolong saya semakin mengenal Tuhan?
more

Podcast reviews

Read Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta podcast reviews


5 out of 5
2 reviews

Podcast sponsorship advertising

Start advertising on Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta & sponsor relevant audience podcasts


What do you want to promote?

Ad Format

Campaign Budget

Business Details