1546450551
Khazanah Ta'lim

Advertise on podcast: Khazanah Ta'lim

This podcast has
20 episodes
Language
Indonesian
Explicit
No
Date created
2020/12/25
Latest episode
2023/12/18
Average duration
10 min.
Release period
93 days

Description

Peningkatan kerohanian, intelektual (kecerdasan), dan moral, serta kemajuan Islam di masa yang akan datang bergantung pada peran yang dilakukan oleh kaum perempuan. Ruang ini diharapkan menjadi tempat untuk para perempuan meningkatkan khazanah/pengetahuannya tentang Islam.

Unlock Khazanah Ta'lim podcast Email contact info,
Listeners & Audience details

Email contact information

Direct podcast contact details

Listeners

Audience numbers & engagement insights

Audience details

Podcast Insights

Podcast episodes

Check latest episodes from Khazanah Ta'lim podcast


Mengenali Dosa Itu Sulit - Khazanah Ta'lim 11 & 14 Desember 2023
2023/12/18
*MENGENALI DOSA ITU SULIT* “Ada *tiga macam nafs (jiwa): Nafs ammaarah, nafs lawwaamah, nafs muthmainnah.* Keadaan yang pertama *(nafs ammarah) adalah shummum-bukmun (tuli dan bisu). Sedikit pun dia tidak tahu dan tidak merasakan ke arah mana dia sedang menuju.* Kemana saja amarah (dorongan) itu membawanya, ke sanalah dia pergi. Setelah itu, *ketika ada karunia Allah Ta’ala, maka tampilah kondisi lawwaamah dalam bentuk makrifat tahap awal. Dan [manusia] mulai dapat membedakan antara dosa dan kebaikan. *Dia membenci dosa, namun tidak memiliki daya dan kekuatan untuk melakukan [kebaikan].* Terus menerus terjadi semacam pertempuran antara kebaikan dengan setan. Sampai-sampai, terkadang dia menang, dan terkadang dia kalah. Akan tetapi *perlahan-lahan akan muncul kondisi yang bercorak muthmainnah (tentram)*. *Maka disitu [manusia] tidak hanya sekedar membenci dosa-dosa, melainkan dia berhasil meraih kemenangan dalam peperangan melawan dosa tersebut.* Dan manusia terlepas dari dosa-dosa, serta yang memancar tanpa kendali dari dalam dirinya hanyalah kebaikan-kebaikan. *Untuk mencapai derajat ketentraman (nafs Muthmainnah) adalah mutlak untuk terlebih dahulu menciptakan kondisi lawwaamah dan mengenali dosa. Mengenali dosa pada hakikatnya adalah suatu pekerjaan yang sangat besar (sulit).* Barangsiapa yang tidak mengenalinya maka pada diri para nabi pun tidak ada obat untuknya. *Pintu kebaikan yang pertama akan terbuka dari situ, yakni pertama-tama memahami kehidupan kotor yang dimiliki sendiri. Kemudian meninggalkan kelompok (tempat) yang kotor serta persahabatan-persahabatan yang buruk, lalu menghargai kelompok (tempat) yang baik.* Dia hendaknya bersikap seperti ini, yakni apabila dikatakan kepadanya agar berobat ke tabib (dokter) tertentu, maka dia harus menetap di tempat tabib itu. Dan apa pun yang dianjurkan oleh tabib tersebut harus siap dia amalkan. Lihatlah, apabila orang sakit datang kepada tabib, dia bukannya berdebat dengan sang tabib, melainkan wajib baginya untuk menceritakan perihal sakit yang dia alami. Dan apa pun yang diperintahkan sang tabib akan dia amalkan. Dari itu dia akan memperoleh manfaat (faedah). Apabila dia mulai mengkritik (mencela) pengobatan itu maka bagaimana mungkin akan timbul manfaat?” (Malfuzat, jilid V, halaman 94-95). 🌸 Khazanah Ta'lim, 11 & 14 Desember 2023 🌸
#10 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Mukjizat Al-Qur'an (hal. 385-393)
2022/04/28
Beberapa dari mukjizat dan nubuatan Kitab Suci Al- Quran bersifat sedemikian rupa sehingga hal-hal itu tetap menjadi suatu hal yang mengagumkan manusia sekarang ini dan suatu hal yang tidak bisa disangkal. Mukjizat tanda penghukuman yang diperlihatkan kepada golongan kafir pada masa itu, pada saat ini pun bisa kita saksikan karena hal itu merupakan konsekwensi sewajarnya dari suatu premis (dasar fikiran) yang pasti dan tidak bisa dibantah siapa pun. Premis yang pertama adalah bahwa tanda-tanda tersebut dituntut oleh golongan kafir ketika Yang Mulia Rasulullahs.a.w. beserta sahabat-sahabat beliau sedang dianiaya golongan kafir dengan berbagai macam cara di Mekah. Saat itu Islam berada dalam keadaan sangat lemah sehingga golongan kafir di Mekah mengolok-olokkan umat Muslim dan mengatakan: ‘Jika kalian memang benar, lalu mengapa kalian menderita demikian rupa di tangan kami dan Tuhan yang kalian sembah nyatanya tidak menolong kalian, serta mengapa jumlah kalian demikian sedikit sehingga mudah dihancurkan? Kalau kalian memang benar, lalu mengapa kami tidak dihukum?’ Apa yang disampaikan kepada orang-orang kafir itu sebagai jawaban ada terdapat di berbagai tempat dalam Al-Quran dan hal itu menjadi premis kedua sebagai pengakuan dari keagungan nubuatan ini.
#9 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Keselarasan Al-Qur'an dengan Fitrat Manusia (Hal. 382-385)
2022/04/26
Dari semua Kitab yang diwahyukan yang ada sekarang, hanya Al-Quran saja yang sejalan dengan fitrat manusia. Akidahnya demikian sempurna dan pasti sehingga bukti- bukti nyata yang ada menjadi saksi akan kebenarannya. Perintah-perintah yang terkandung di dalamnya didasarkan atas kebenaran. Ajaran yang dikemukakannya bebas sama sekali dari segala bentuk politheisme, bid’ah dan penyembahan mahluk lainnya. Kitab ini menggiring manusia ke arah manifestasi Ketauhidan dan Keagungan Ilahi serta kesempurnaan dari Yang Maha Terpuji. Di dalamnya penuh dengan norma-norma Ketauhidan Ilahi serta luput dari daripada kekurangan, kelemahan atau sifat tidak sempurna dari Sang Maha Pencipta. Kitab ini tidak semata-mata memaksakan suatu akidah hanya berdasar kekuasaan semata, tetapi memberikan alasan atas kebenaran dari ajarannya tersebut. Kitab tersebut menjelaskan setiap arah tujuan yang harus dicapai dengan bukti-bukti dan argumentasi. Ia memberikan dasar pertimbangan dari kebenaran setiap prinsip sehingga fikiran manusia menjadi pasti dan memahaminya secara sempurna. Ia menangkal semua kelemahan yang mempengaruhi akidah, amal dan perkataan manusia serta memberikan penalaran yang cemerlang. Ia membawa ajaran sopan santun sebagai pengetahuan yang dibutuhkan bagi setiap manusia. Kitab ini menangkal dengan tegas setiap bentuk kefasikan. Ajarannya itu demikian lurus, tegas dan pasti seolah-olah menjadi cermin dari hukum alam. Ia menjadi matahari yang mencerahkan wawasan kalbu. Prinsip-prinsip penalaran manusia dikemukakannya secara rinci dan kekurangannya diperbaiki. Adapun Kitab-kitab lain yang katanya diwahyukan pada saat ini kalis dari segala berkat sifat-sifat sempurna ini dan mengandung berbagai konsepsi yang salah tentang Wujud dan sifat-sifat Ilahi.”
#8 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Sifat Komprehensivitas Al-Qur'an (hal. 379-382)
2022/04/26
“Kesucian dan kesempurnaan ajaran Kitab Suci Al- Quran memberi kehidupan bagi setiap sendi masyarakat manusia. Al-Quran tidak ada menekankan penanganan satu sisi saja. Terkadang Al-Quran menyuruh kepada kesabaran dan pengampunan dalam hal-hal tertentu, tetapi juga bisa menentukan hukuman bagi para pelanggar jika dianggap perlu. Sesungguhnya Al-Quran itu merupakan gambaran dari hukum alam Ilahi yang ada di sekeliling kita. Kitab ini sepenuhnya masuk akal dimana firman Tuhan dan hasil kinerja Tuhan adalah bersesuaian satu dengan lainnya. Sebagaimana hasil karya Tuhan itu nampak di alam, maka Kitab Allah Yang sempurna ini juga sejalan dengan hasil kinerja tersebut. Kita sendiri ada melihat dalam kinerja Tuhan bahwa tidak selamanya selalu harus ada pengampunan dan kesabaran semata karena nyatanya Dia juga menghukum para pendosa dengan berbagai bentuk bala. Hukuman demikian ada juga termaktub dalam Kitab-kitab sebelumnya.”
#7 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Keunggulan Al-Qur'an (bag. f, hal. 372-379)
2022/04/26
Aku pernah muda dan sekarang ini sudah tua, namun semua orang menyaksikan bahwa aku tidak pernah mempedulikan masalah-masalah duniawi dan hanya tertarik kepada masalah keimanan saja. Aku telah menemukan firman amat suci dan penuh dengan marifat keruhanian yang diberi nama Al-Quran. Kitab ini tidak mempertuhan seorang manusia dan tidak melecehkan Tuhan dengan cara mengecualikan ruh dan raga dari hasil ciptaan-Nya. Kitab Suci Al-Quran membawa berkat dalam hati manusia yang menjadikannya menganut suatu agama yang benar serta menjadikan dirinya sebagai pewaris dari rahmat Ilahi. Setelah berhasil menemukan Nur demikian, bagaimana mungkin kami kembali kepada kegelapan dan setelah memperoleh mata bagaimana mungkin kami menjadi buta?” (Sanatan Dharm, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 474, London, 1984).
#6 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Keunggulan Al-Qur'an (bag. e, hal. 369-371)
2022/04/26
“Inilah yang dimaksud sebagai kekayaan yang menurut nubuatan akan dibagi-bagikan oleh Al-Masih yang Dijanjikan sehingga manusia akan puas karenanya. Nubuatan tersebut tidak ada mengartikan bahwa Al-Masih yang Dijanjikan akan mengumpulkan harta-benda material karena telah dinyatakan bahwa: ‘Sesungguhnya harta bendamu dan anak-anakmu hanyalah suatu cobaan’ (QS.64 At-Taghabun:16) , sehingga jika Al-Masih yang Dijanjikan memang benar membagi-bagikan harta di antara umatnya berarti ia sengaja memberikan cobaan kepada mereka.”
#5 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Keunggulan Al-Qur'an (bag. d, Hal. 364-369)
2022/04/26
“Salah satu penyebab utama dari tersesat dan menyelewengnya manusia di abad ini adalah karena di mata mereka kebesaran Al-Quran dianggap sudah tidak lagi berlaku. Ada sekelompok Muslim yang menjadi pengikut dari aliran filosofi yang menyesatkan. Mereka memutuskan semua permasalahan hanya berdasar logika saja. Mereka menyatakan bahwa hakim tertinggi yang tersedia bagi manusia untuk penyelesaian setiap permasalahan adalah logika. Ketika mereka menemukan bahwa eksistensi malaikat Jibrail serta para malaikat lainnya sebagaimana dikemukakan dalam Kitab-kitab agama, disamping eksistensi surga dan neraka seperti yang diutarakan Al-Quran ternyata tidak bisa dibuktikan oleh logika maka mereka lalu menolaknya dan beralih mencari-cari penafsiran lain yang bersifat daif. Mereka menafsirkan adanya malaikat hanya sebagai suatu kekuatan sedangkan wahyu sebagai kemampuan persepsi dari fikiran manusia. Adapun surga dan neraka mereka tafsirkan sebagai siksaan atau keselesaan ruhaniah saja.”
#4 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Keunggulan Al-Qur'an (bag. c, hal. 361-364)
2022/04/26
Apa pun yang terbentuk melalui kekuasaan Allah s.w.t. yang sempurna, apakah itu merupakan bagian dari ciptaan seluruhnya atau pun sebuah Kitab Suci yang secara harfiah diwahyukan oleh-Nya, semuanya membawa sifat bahwa tidak ada wujud lainnya yang mempunyai kemampuan menghasilkan padanannya. Hal ini dibuktikan dengan dua cara, pertama adalah melalui metoda deduksi. Tuhan itu Maha Esa dan tanpa sekutu dalam Wujud, sifat dan kinerja-Nya, karena jika dimungkinkan adanya serikat dengan Dia dalam ciptaan, firman atau pun tindakan, maka akan dimungkinkan munculnya padanan dalam sifat-sifat serta adanya Tuhan lain. Semua yang dianggap memiliki sifat-sifat Ilahi akan menjadi Tuhan dan yang hanya memiliki sebagian dari sifat-sifat Ilahi tersebut akan menjadi sekutu-Nya berkaitan dengan sifat berkaitan, dimana semua ini lalu menjadi suatu hal yang tidak masuk akal. Dengan demikian jelaslah bahwa Tuhan itu Maha Esa tanpa sekutu dalam segala sifat-sifat, firman dan tindakan- Nya dan Wujud-Nya itu bebas dari segala inkonsistensi yang akan mengharuskan adanya seseorang untuk menjadi sekutu- Nya.
#3 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV): Keunggulan Al-Qur'an (bag. b, hal. 358-361)
2022/04/26
“Kitab Suci Al-Quran merupakan mutiara yang langka. Bagian luarnya adalah Nur, bagian dalamnya juga Nur, begitu pula bagian atas dan bawahnya adalah Nur semata serta Nur disetiap kata di dalamnya. Kitab ini merupakan taman ruhani yang rangkaian buahnya mudah dijangkau dan melalui mana mengalir banyak sungai. Semua bentuk kemaslahatan bisa ditemukan di dalamnya dan setiap obor penunjuk jalan dinyalakan daripadanya. Nur Kitab ini telah menembus hatiku dan aku tidak akan mungkin memperolehnya dengan cara lain. Jika tidak ada Al-Quran maka aku tidak akan menemukan kegembiraan hidup. Keindahannya jauh melampaui kecantikan seratus ribu Nabi Yusuf. Aku amat cenderung kepadanya dan meresapkan rahmatnya ke dalam hati. Kitab ini telah menghidupkan aku sebagaimana laiknya sebuah embrio dihidupi dan betapa indah pengaruhnya atas kalbuku. Kecantikannya telah menarik keluar jiwaku. Dalam sebuah kashaf dikemukakan kepadaku bahwa taman kesucian itu diairi oleh Al-Quran yang merupakan gelombang samudra air kehidupan. Barangsiapa yang meminum daripadanya akan menjadi hidup dan membawa kehidupan kepada manusia lainnya.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 545-546, London, 1984)
#2 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Keunggulan Al-Qur'an (bag. a, Hal. 354-358)
2022/04/26
Aku ingin menyampaikan kepada semuanya bahwa Al-Quran adalah Kitab yang bisa memenuhi semua kebutuhan tersebut. Melalui Kitab ini manusia akan ditarik ke arah Tuhan dan hatinya akan menjadi beku terhadap kecintaan kepada dunia. Dengan mengikuti Kitab tersebut maka Tuhan yang tersembunyi di balik yang paling tersembunyi, akan memanifestasikan Wujud- Nya dan memperlihatkan kekuatan yang tidak dipahami orang luar dan memberitahukan tentang eksistensi Diri-Nya dengan penegasan: ‘Aku ini ada.’
#1 INTI AJARAN ISLAM (BAB IV) : Tujuan Kitab Suci (Hal. 351-354)
2022/04/26
Kami menjadi saksi dan memaklumkan di hadapan seluruh dunia bahwa kami telah menemukan dalam Kitab Suci Al-Qur'an realitas yang bisa membimbing manusia kepada Tuhan. Kami telah mendengar suara Tuhan dan telah menyaksikan tanda-tanda keperkasaan Tangan-Nya yang telah mewahyukan Al-Qur'an. Kami beriman bahwa dia adalah Tuhan yang sebenarnya serta Tuhan seru sekalian alam. Hati kami dipenuhi keyakinan ini sebagaimana layaknya samudera yang terisi air. Karena itu kami menyeru semua orang kepada agama dan kepada Nur ini berdasarkan wawasan kami. Kami telah menemukan Nur Haqiqi yang telah mengusir kegelapan dan mewujudkan semua hati menjadi sunyi terhadap segala sesuatu kecuali Allah SWT. Inilah jalan satu-satunya yang bisa menuntun manusia keluar dari cengkraman nafsu dan kegelapan ego sebagaimana ular yang meninggalkan selongsong kulit tuanya. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; Ruhani Khazain, Vol. 13, Hal. 65, London,1984)
Ta'lim Days #08 : Meraih Kedamaian Hati Melalui Shalat (Part 4)
2021/03/04
“Shalat yang hakiki itu dapat diraih melalui doa. Meminta kepada wujud lain selain Allah Ta’ala sungguh bertentangan dengan ghairat dan kehormatan seorang mukmin sejati. Sebelum seseorang meminta kepada Allah Ta’ala dengan kerendahan hati yang sempurna dan hanya meminta kepada- Nya, maka ia tidak layak disebut sebagai mukmin dan muslim sejati. Hakikat Islam ialah bahwa segala kemampuan lahir dan batin tunduk di hadapan Allah Ta’ala” (Hadhrat Masih Mau’ud as)

Podcast reviews

Read Khazanah Ta'lim podcast reviews


0 out of 5
0 reviews

Podcast sponsorship advertising

Start advertising on Khazanah Ta'lim relevant audience podcasts


What do you want to promote?