1550720346
Celetuk Bahasa Tempo

Advertise on podcast: Celetuk Bahasa Tempo

Categories
Country
United States
This podcast has
65 episodes
Language
Indonesian
Publisher
Podcast Tempo
Explicit
No
Date created
2021/01/26
Latest episode
2022/06/24
Average duration
8 min.
Release period
7 days

Description

Selamat bergabung di Celetuk Bahasa Tempo bersama Uu Suhardi, siniar mingguan yang membahas apa pun seputar bahasa Indonesia. Siniar atau podcast ini akan membawa kamu untuk merenungi kembali, “Apakah kita benar-benar sudah memahami bahasa Indonesia?” email: [email protected]

Unlock Celetuk Bahasa Tempo podcast Email contact info,
Listeners & Audience details

Email contact information

Direct podcast contact details

Listeners

Audience numbers & engagement insights

Audience details

Podcast Insights

Podcast episodes

Check latest episodes from Celetuk Bahasa Tempo podcast


Diperkosa Setan
2022/06/24
Judul-judul film bisa menyimpan jebakan sensasi bahasa. Pada pertengahan 1990-an, film Indonesia pernah punya judul seperti Gairah Malam, Limbah Asmara, dan Ranjang yang Ternoda. Lalu, tahun 2000-an, sebagian judul film kontemporer mengorbankan unsur artistik, sehingga kita menemukan judul semacam Tali Pocong Perawan, Suster Keramas, Hantu Binal Jembatan Semanggi, dan Diperkosa Setan. --- **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Eric Sasono berjudul “Diperkosa Setan” di majalah Tempo edisi 29 Maret 2010. **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Oknum
2022/06/17
Kata “oknum” acap ditemukan dalam berita “negatif” yang menyangkut pejabat atau aparat negara. Sangat sulit menemukan penggunaan “oknum” untuk kalangan warga sipil atau warga biasa, misalnya petani, buruh, dan mahasiswa. - - - **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Jebakan “Meng-i” dan “Meng-kan”
2022/06/10
Dalam penggunaannya pada kalimat, konfiks “meng-kan” dan “meng-i” kadang dipertukarkan. Padahal, keduanya menghasilkan makna yang sangat berbeda, bahkan bisa bertolak belakang. Coba saja cermati perbedaan: membawahi dan membawahkan, memenangkan dan memenangi, meneladani dan meneladankan, dan sejenisnya. --- --- --- **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Imbuhan “Ke-an” Sila-sila Pancasila
2022/06/03
Kata berimbuhan “ke-an” pada sila-sila dalam Pancasila mengandung makna yang membingungkan. Misalnya kata “ketuhanan” dan “kerakyatan”. Mengapa harus “ketuhanan”? Mengapa bukan “Tuhan” saja? Mengapa “kerakyatan”, bukan “rakyat”? --- **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Berthold Damshauser berjudul “Bahasa Pancasila” di majalah Tempo edisi 8 Agustus 2011. **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Hiperbola dalam Sepak Bola
2022/05/27
Berbeda dengan gaya penulisan berita pada umumnya, berita olahraga–khususnya sepak bola–sering menggunakan gaya bahasa hiperbola. Misalnya “gol cantik”, “algojo penalti”, “bunuh diri”, “sundulan maut”, “tendangan geledek”, “menjebol gawang”, “melibas lawan”, dan “memberikan mimpi buruk”. --- **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Bahasa Umpatan
2022/05/20
Di Indonesia, bahasa umpatan atau makian lebih sering menggunakan nama-nama hewan. Itu berbeda dengan negara luar. Orang yang berbahasa Inggris, misalnya, ketika mengumpat jarang memakai nama hewan. Kalaupun ya, sifatnya lebih untuk melecehkan gender. --- **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Bahasa Aparat: Siap 86!
2022/05/13
Kata-kata “siap”, “ndan”, “siap 86!”, “meluncur ke TKP”, dan “mohon izin” merupakan contoh bahasa aparat keamanan yang kini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bila dirunut lebih dalam, sebelum era reformasi, istilah khas yang digunakan polisi dan tentara tersebut belum banyak dipakai warga sipil. --- **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Rohman Budijanto berjudul “Bahasa Aparat Keamanan”, yang terbit di majalah Tempo edisi 18 Juli 2016. **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Diamankan Polisi
2022/05/06
Penggunaan kata "diamankan" jika dimaksudkan sebagai penangkapan atau penahanan sebaiknya dihindari dalam tulisan jurnalistik. Penghalusan makna kata (eufemisme) semacam ini bisa mengaburkan makna sebenarnya. --- **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kontraksi Kata
2022/04/29
Kata juga bisa mengalami kontraksi. Dalam hal ini, kontraksi adalah proses atau hasil pemendekan suatu bentuk kebahasaan. Bahasa Indonesia sering terkontraksi mungkin karena terdiri atas banyak suku kata (multisilabis). “Satu”, “dua”, “tiga”, “tidak”, misalnya, sering terkontraksi menjadi satu suku kata (monosilabis): “tu”, “wa”, “ga”, “tak”. Perkara kontraksi, Indonesia pernah melayangkan protes kepada Malaysia karena mereka mengontraksikan “Indonesia” sebagai “Indon”. “Indon” merupakan sebutan yang menyiratkan pelecehan rasial terhadap orang Indonesia yang tinggal di Malaysia. --- **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Bambang Sugeng berjudul “Kata yang Terkontraksi”, yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Oktober 2019. **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kata Bermakna Ganda
2022/04/22
Seperti bahasa pada umumnya, bahasa Indonesia memiliki kata-kata bermakna ganda. Ada homonim, homofon, dan homograf, misalnya. Namun, dalam penggunaannya, kata bermakna ganda sangat jarang menimbulkan kesalahpahaman. Tak akan timbul kebingungan pada pengguna bahasa karena selalu ada konteks untuk kata. --- **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Melafalkan Singkatan Asing dan Akronim
2022/04/15
Dalam dunia pengisian suara atau voice over, sangat penting mengetahui cara melafalkan setiap kata dengan tepat. Sering kita mendengar ketidakkonsistenan pengisi suara saat melafalkan singkatan asing: CPO, DMO, WHO, IPO, dan lainnya. Cara pelafalan suatu kata seharusnya tidak bergantung pada kelaziman belaka. --- **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Naik Haji
2022/04/08
Istilah “naik haji” adalah istilah asli Nusantara, murni dari Indonesia, dan hanya dipakai oleh orang Indonesia. Istilah ini lahir dari khazanah kebudayaan Islam di Nusantara. --- **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Ahmadul Faqih Mahfudz berjudul “Hamzah Naik Haji”, yang terbit di majalah Tempo edisi 12 Agustus 2019. **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

Podcast reviews

Read Celetuk Bahasa Tempo podcast reviews


0 out of 5
0 reviews

Podcast sponsorship advertising

Start advertising on Celetuk Bahasa Tempo relevant audience podcasts


What do you want to promote?