Radio Rodja 756 AM

Advertise on podcast: Radio Rodja 756 AM

Rating
4
from
8 reviews
This podcast has
10 episodes
Language
Explicit
No
Date created
2010/08/18
Last published
2022/06/27
Average duration
59 min.
Release period
2 days

Description

Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba Allah dengan cara-cara yang benar.

Podcast episodes

Check latest episodes from Radio Rodja 756 AM podcast

Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Niat Shalat
2022/06/27
Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Niat Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 27 Dzul Qa’dah 1443 H / 27 Juni 2022 M. Download kajian sebelumnya: Tempat Yang Dilarang Untuk Shalat Kajian Tentang Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Niat Shalat Hukum melafalkan niat Sebagaimana kita tahu bahwa niat dalam shalat itu tempatnya di hati sebagaimana niat dalam ibadah-ibadah yang lainnya. Kita juga sudah menyinggung bahwa tidak ada syariat melafalkan niat dalam shalat, misalnya dengan menyebutkan: أصلي فرض الصبح ركعتين مستقبل القبلة أداء/مأموما لله تعالى Menyebutkan niat seperti ini dengan lisan kita tidak disyariatkan, tidak ada tuntunannya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ribuan kali shalat di dalam hidup beliau, tapi tidak pernah sekalipun terdengar beliau melafalkan niatnya. Begitu pula dengan para sahabatnya yang berjumlah ratusan ribu, tidak sekalipun dari mereka dinukil ada yang melafalkan niat dalam shalatnya. Oleh karenanya ikutilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau dalam meninggalkan melafalkan niat dalam shalat kita. Niat cukup dalam hati kita. Sebelum shalat kita hadirkan kesadaran dalam hati bahwa kita akan shalat subuh misalnya. Sangat mudah. Dengan demikian kita akan terhindar dari was-was. Banyak orang-orang yang mempersulit di dalam masalah niat ini yang akhirnya mereka terjatuh dalam was-was di dalam shalatnya. Padahal syariat Islam tidaklah datang dengan sesuatu yang menyulitkan manusia. Syariat Islam mudah dilakukan oleh siapapun. Orang awam, bahkan yang paling awam sekalipun akan mudah melakukan syariat Islam ini. Hukum mengganti niat shalat Bolehkan seseorang mengganti niat ketika dalam shalatnya. Misalnya sudah niat shalat subuh, di tengah-tengah shalat dia ingin mengganti niat itu menjadi shalat sunnah mutlak. Dia sudah takbir shalat untuk subuh kemudian ingat belum shalat sunnah fajar. Bolehkah dia menggantinya menjadi shalat sunnah fajar? Jawabannya adalah ada banyak keadaan pada masalah ini, yaitu: Pertama, apabila seseorang mengubah niatnya dari shalat fardhu ke shalat sunnah mutlak (shalat sunnah yang tidak terikat oleh waktu dan sebab). Adapun contoh shalat sunnah yang terikat dengan waktu adalah seperti shalat dhuha, shalat malam, shalat qabliyah, shalat ba’diyah, shalat witir. Ada shalat yang terikat dengan sebab. Misalnya shalat tahiyatul masjid, shalat wudhu, shalat thawaf, dan seterusnya. Poin yang harus kita garis bawahi di sini adalah tidak boleh seseorang mengubah niatnya tanpa ada hajat/kebutuhan/desakan keadaan. Karena kalau seseorang dibolehkan mengubah niat secara mutlak walaupun tidak ada sebab, maka nantinya shalat akan menjadi permainan. Hal ini sangat tidak selaras dengan nilai menghormati ibadah shalat yang sangat agung. Makanya ketika tidak ada kebutuhan atau desakan keadaan untuk mengubah niat, kita tidak boleh mengubah niat. Pada masalah pertama ini bisa terjadi karena desakan keadaan. Misalnya ada orang yang telat datang ke masjid, jama’ah sudah selesai shalat. Dia menunggu orang ternyata tidak ada orang yang datang lagi. Akhirnya diapun shalat fardhu sendiri. Ditengah-tengah shalat fardhunya ada rombongan yang belum shalat fardhu datang. Orang ini di antara dua pilihan; menyelesaikan shalat fardhunya tapi ketinggalan jamaah itu, pilihan kedua mengganti niat menjadi shalat sunnah mutlak kemudian setelah itu dia...
more
Mengingkari Kemungkaran Adalah Konsekuensi Iman
2022/06/27
Mengingkari Kemungkaran Adalah Konsekuensi Iman merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 26 Dzul Qa’dah 1443 H / 26 Juni 2022 M. Kajian sebelumnya: Rasa Malu Semuanya Baik Kajian Hadits Mengingkari Kemungkaran Adalah Konsekuensi Iman Kita masih di bab termasuk iman adalah mengingkari yang mungkar dengan tangan, lisan dan hati. Hadits nomor 35: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ “مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”. قَالَ أَبُو رَافِعٍ فَحَدَّثْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ فَأَنْكَرَهُ عَلَيَّ فَقَدِمَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَنَزَلَ (بِقَنَاةَ) فَاسْتَتْبَعَنِي إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يَعُودُهُ فحدّثت عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ فَلَمَّا جَلَسْنَا سَأَلْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَحَدَّثَنِيهِ كَمَا حَدَّثْتُ ابْنَ عُمَرَ. Dari Abdullah bin Mas’ud -semoga Allah meridhainya- bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun yang Allah utus pada umat sebelumku kecuali ia memiliki para pembela dan sahabat dari umatnya. Dimana mereka memegang sunnah Nabi tersebut dan mereka mengikuti perintahnya. Kemudian sesungguhnya datang setelah mereka sebuah generasi-generasi yang mengucapkan apa yang mereka tidak lakukan (ulama su’) dan melakukan apa-apa yang tidak diperintahkan (bid’ah). Maka siapa yang menjihadi (mengingkari) mereka dengan tangannya maka dia mukmin, dan siapa yang menjihadi mereka dengan lisannya maka ia mukmin, dan siapa yang menjihadi mereka dengan hatinya maka ia mukmin. Dan tidak ada setelah itu dari keimanan sebesar biji sawi pun juga.” Berkata Abu Rafi’: “Lalu menyampaikan hadits ini kepada Abdullah bin Umar, namun beliau mengingkarinya. Datanglah Abdullah bin Mas’ud lalu singgah Qanah. Abdullah bin Umar meminta kepadaku untuk ikut menjenguknya dan aku pun menyampaikan kepada Abdullah bin Umar tentang hadits tersebut, lalu aku pun pergi bersamanya. Ketika kami duduk aku bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang hadits tersebut, muka kemudian Abdullah bin Mas’ud pun menyampaikan kepadaku hadits seperti yang aku sampaikan kepada Abdullah bin Umar.” (HR. Muslim) Pembela Nabi Setiap Nabi Allah jadikan untuk mereka para sahabat dan para pembela. Namun kata para ulama ini dibawa kepada kebanyakannya demikian. Karena seakan-akan ada hadits yang bertabrakan dengan hadits ini, yaitu disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النبيَّ ومعهُ الرُّهَ
more
Tempat-Tempat Diperbolehkannya Ghibah
2022/06/26
Tempat-Tempat Diperbolehkannya Ghibah merupakan kajian Islam ilmiah oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 25 Dzul Qa’dah 1443 H / 25 Juni 2022 M. Kajian Islam Tentang Tempat-Tempat Diperbolehkannya Ghibah Kita sampai pada pembahasan tentang tempat-tempat yang diperbolehkan kita melakukan ghibah padanya serta mengkritik orang yang melakukan kesalahan menurut para ulama Islam. Ini adalah pembahasan terakhir dari kitab ini. Ketika para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegakkan nasihat dalam rangka menjaga kemurniannya Islam, dalam rangka untuk menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya untuk membersihkan agama ini dari kotoran orang-orang yang ingin mengaburkan pemahaman agama yang benar, atau pentakwilan dari orang-orang yang jahil, atau penyelewengan makna ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari orang-orang yang melampaui batas, maka ternyata ini merupakan perkara yang memang ditunjukkan dalilnya dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan telah ada penjelasan dari para ulama terdahulu tentang hal ini. Pengertian ghibah kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang shahih: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ “Kamu menyebutkan hal-hal yang tidak disukai oleh saudaramu tentang dia dibelakangnya.” Hukum asalnya dalam Islam jelas diharamkan dan termasuk dosa besar. Tetapi karena ada kemaslahatan yang lebih besar, para ulama menetapkan ada tempat-tempat atau pengecualian dari keharaman ghibah. Dimana ditempat-tempat ini diperbolehkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai perkataan buruk tentang orang lain yang disebutkan secara terang-terangan kecuali orang yang didzalimi. Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa'[4]: 148) Ini juga menunjukkan bahwa menceritakan tentang keburukan orang lain di depan orang lain yang bukan untuk nasihat langsung tidak diperbolehkan. Hanya dikecualikan di sini orang yang didzalimi. Kalau kita merujuk kepada tafsir Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala, ada pendapat dari Imam Mujahid Rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyebutkan bahwa ayat ini berkenaan dengan seseorang yang didzalimi haknya. Yakni ada seorang yang bertamu ke rumah saudaranya sesama muslim. Ternyata sampai di rumah tersebut dia tidak mendapatkan pelayanan yang sebagaimana mestinya. Akhirnya setelah dia pulang dari rumah tersebut dia menceritakan kepada orang lain bahwa Si Fulan (tuan rumah) itu tidak memperlakukan aku dengan jamuan yang pantas. Ini orang yang didzalimi, haknya tidak ditunaikan dengan sebaik-baiknya oleh tuan rumah. Padahal bisa jadi tuan rumah memang kondisinya mungkin sedang kesulitan sehingga dia tidak bisa memberikan pelayanan yang maksimal. Tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan membicarakan kejelekan tuan rumah disampaikan kepada orang lain karena orang ini adalah orang yang didzalimi. Kalau ini berhubungan dengan kemaslahatan seorang tamu perkara ini dibolehkan dan dijadikan pengecualian dari ghibah yang diharamkan. Apalagi ketika itu berhubungan dengan kemaslahatan penjagaan agama, kemaslahatan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar tidak dibawa kepada pemahaman-pemahaman yang menyimpang.
more
Orang Berilmu adalah Orang Kepercayaan Allah
2022/06/23
Orang Berilmu adalah Orang Kepercayaan Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 23 Dzul Qa’dah 1443 H / 23 Juni 2022 M. Kajian sebelumnya: Empat Golongan Manusia Perusak Islam Ceramah Agama Islam Tentang Orang Berilmu adalah Orang Kepercayaan Allah Kita telah sampai pada segi ke-112 dari keutamaan dan kemuliaan ilmu. Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan orang-orang yang memahami ilmu agama sebagai orang-orang yang terpercaya untuk menjaga agama dan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah meridhai mereka untuk menjaga agama ini, menegakkannya dan membelanya. Subhanallah, mereka benar-benar hamba-hamba Allah yang dipilih untuk menegakkan tugas yang mulia ini karena siapa yang menjaga agama setelah wafatnya para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam, siapa yang mendakwahkan dan mengajak manusia untuk berpegang teguh dengannya? Tentu para ulama Ahlus Sunnah. Maka cukuplah ini menunjukkan kepada kita tentang kemuliaan yang agung bagi orang-orang yang membawa agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ‎﴿٨٨﴾‏ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَٰؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ ‎﴿٨٩﴾ “Itulah petunjuk Allah, yang Allah berikan petunjuk itu kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Seandainya mereka melakukan perbuatan syirik maka sungguh akan gugur amal-amal yang dulu mereka kerjakan. Merekalah orang-orang yang Kami berikan Al-Kitab, hukum dan kenabian. Kalau orang-orang kafir itu mengingkarinya, maka sesungguh telah Kami berikan kepercayaan untuk membawa ilmu agama ini kaum yang mereka itu tidak mengingkarinya.” (QS. Al-An’am[6]: 88-89) Jelas sekali Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan jika ada orang-orang kafir yang menentang dan tidak mau menerima petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah telah memilih hamba-hamba yang diistimewakanNya untuk menerima agama ini, membawa, menegakkan, membela dan menyebarkannya kepada manusia. Inilah yang disebutkan dalam ayat ini untuk menggambarkan kemuliaan para ulama yang mengikuti jalannya para Nabi para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Ada yang menafsirkan ayat ini bahwa yang dimaksud dengan “satu kaum” yang mereka akan membawa agama ini, yaitu maksudnya mereka-mereka ini adalah para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Ada juga yang menafsikan mereka ini adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada juga yang menafsirkan setiap orang beriman yang memahami agama, mengamalkan, menegakkan, dan membelanya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ulama tentang tafsir ayat ini setelah banyak pendapat yang bercabang-cabang tentang siapakah yang dimaksud dengan kaum tersebut. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini.. Download MP3 Kajian a style="color: #cccccc; text-decoration: none;" title="Radio Rodja 756AM" href="https://soundcloud.
more
Hukum Beristi’adzah dengan Selain Allah Subhanahu wa Ta’ala
2022/06/23
Hukum Beristi’adzah dengan Selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 15 Dzulqa’dah 1443 H / 15 Juni 2022 M. Kajian Tentang Hukum Beristi’adzah dengan Selain Allah Subhanahu wa Ta’ala Kita telah sampai pada باب من الشرك الاستعاذة بغير الله (bab termasuk kesyirikan beristi’adzah dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala). Yang dimaksud dengan bab ini adalah penjelasan bahwa perbuatan beristi’adzah dengan selain Allah termasuk dari kesyirikan. Bahkan dia adalah perbuatan syirik akbar. Penulis Kitab Tauhid Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan dalil, yaitu surah Al-Jin ayat 6. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jinn[72]: 6) Isti’adzah adalah berlindung dan bersandar. Oleh sebab itulah Dzat yang dimintai isti’adzah dinamakan معادا atau ملجأ. Maka seorang yang meminta perlindungan dengan Allah sungguh ia telah lari dari apa yang menyakitinya atau membinasakannya kepada Rabbnya dan Rajanya (yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala). Dan dia meminta penjagaan dan perlindungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan juga bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah permisalan saja, padahal apa saja yang hati seseorang bersandar kepada Allah, minta perlindungan kepada Allah, menyerahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasa fakir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasa hina untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini semua adalah perkara yang tidak bisa diungkapkan. Ibnu Katsir berkata bahwa isti’adzah adalah bersandar kepada Allah dan menempel dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala agar terlindung dari setiap keburukan. Dan yang dimaksud dengan minta perlindungan adalah untuk menolak keburukan. Jadi untuk menolak keburukan disebut العياذ, sementara untuk meminta kebaikan disebut اللّياذ. Semua ini wajib diberikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Isti’adzah adalah termasuk salah satu dari jenis-jenis ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan hamba-hambaNya untuk beristi’adzah hanya kepada Allah. Seperti perintah Allah di dalam surah Fussilat ayat 36: وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fussilat[41]: 36) Begitu juga dalam surah Al-A’raf ayat 200, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf[7]: 200) Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk beristi’adzah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini menunjukkan bahwa isti’adzah adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ayat-ayat yang semisal dengan hal itu di dalam Al-Qur’an sangatlah banyak. Sebagaimana juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
more
Keistimewaan Shalat Ashar – Surah Al-Baqarah 238-239
2022/06/22
Keistimewaan Shalat Ashar – Surah Al-Baqarah 238-239 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 21 Dzul Qa’dah 1443 H / 21 Juni 2022 M. Download kajian sebelumnya: Hukum Mentalak Sebelum Menyentuh Keistimewaan Shalat Ashar – Surah Al-Baqarah 238-239 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ‎﴿٢٣٨﴾‏ فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ۖ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ ‎﴿٢٣٩﴾ “Jagalah oleh kalian dengan sungguh-sungguh shalat lima waktu terutama shalat wustha (ashar). Dan berdirilah kepada Allah dengan penuh kekhusyu’an. Jika kalian dalam keadaan sangat takut, silahkan shalat sambil berjalan atau sambil berkendara. Kemudian apabila kalian aman, maka ingatlah Allah sebagaimana Allah telah ajarkan kalian apa-apa yang sebelumnya kalian tidak mengetahuinya..” (QS. Al-Baqarah[2]: 238-239) Dari ayat ini kita ambil faedah: Menjaga shalat lima waktu Ayat ini menunjukkan wajibnya benar-benar menjaga shalat lima waktu. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman حَافِظُوا (jaga dengan benar-benar), yaitu dengan memperhatikan rukunnya, kewajibannya, syarat-syaratnya, waktu-waktunya. Maka kita berusaha sekuat tenaga untuk menjaga shalat, jangan diremehkan. Sifat orang munafik bermalas-malasan untuk shalat. Sebagaimana Allah berfirman ketika mensifati orang munafik: وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ “Apabila mereka berdiri menuju shalat, mereka berdiri dengan malasnya.” (QS. An-Nisa'[4]: 142) Allah juga berfirman: فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ‎﴿٤﴾‏ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ‎﴿٥﴾ “Celaka buat orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalat mereka.” (QS. Al-Ma’un[107]: 4-5) Keistimewaan shalat ashar Ayat ini menunjukkan keistimewaan shalat ashar. Karena Allah disini mengkhususkan shalat ashar setelah Allah menyebutkan shalat lima waktu. Berarti itu menunjukkan bahwa shalat ini hendaknya lebih kamu perhatikan karena ada keistimewaan tersendiri. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: من صلَّى البَردينِ دخلَ الجنَّةَ “Siapa yang shalat di dua waktu yang dingin (ashar dan subuh) dia masuk surga.” (Muttafaqun ‘alaihi) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda: فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا “Jika kalian tidak lemah untuk melaksanakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam maka lakukan.” (HR. Bukhari) Berarti ada dua shalat yang sangat penting sekali, yaitu shalat ashar dan subuh. Wajibnya berdiri dalam shalat Ayat ini juga meunjukkan wajibnya berdiri dalam shalat wajib. Adapun pada shalat sunnah tidak wajib berdiri. Maka kalau ada orang shalat sunnah sambil duduk diperbolehkan, tapi pahalanya setengah dari pahala orang yang berdiri. Adapun kalau shalat wajib, maka wajib berdiri kecuali kalau tidak mampu. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: صلِّ قائمًا، فإن لم تستطع فقاعدًا، فإن لم تستطع فعلى جنبٍ “Shalatlah sambil berdiri, kalau tidak mampu sambil duduk, kalau tidak mampu sambil berbaring.” (HR. Bukhari) Wajib mengikhlaskan ibadah kepada Allah Ayat ini juga menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah kepada Allah.
more
Kewajiban Berpuasa Dibulan Ramadhan
2022/06/21
Kewajiban Berpuasa Dibulan Ramadhan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 21 Dzul Qa’dah 1443 H / 21 Juni 2022 M. Kajian sebelumnya: Hadits Wajibnya Zakat Kewajiban Berpuasa Dibulan Ramadhan وعنهُ أَنَّ رسولَ اللَّهِ ﷺ قالَ: مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَين في سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْواب الجَنَّةِ: يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ، فَمَنْ كَان مِنْ أَهْلِ الصَلاةِ دُعِي منْ بَابِ الصَّلاةِ، ومَنْ كانَ مِنْ أَهْلِ الجِهَادِ دُعِي مِنْ بَابِ الجِهَادِ، ومَنْ كَانَ مِنْ أَهْل الصِّيامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ، ومنْ كَانَ مِنْ أَهْل الصَّدقَة دُعِي مِنْ بَابِ الصَّدقَةِ قَالَ أَبُو بكرٍ : بأَبي أَنت وأُمِّي يَا رسولَ اللَّه مَا عَلى مَنْ دُعِي مِنْ تِلكَ الأَبْوابِ مِنْ ضَرُورةٍ، فهلْ يُدْعى أَحدٌ مِنْ تلك الأَبْوابِ كلِّها؟ قال: نَعَم، وَأَرْجُو أَنْ تكُونَ مِنهم متفقٌ عَلَيْهِ. Juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang menginfakkan satu pasang kebaikan dijalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.’ Maka barangsiapa yang dia benar-benar rajin dalam shalat, maka dia akan dipanggil dari pintu shalat. Dan barangsiapa yang dia tergolong orang-orang yang selalu berjihad di jalan Allah, maka akan dipanggil dari pintu jihad. Dan barangsiapa dia adalah termasuk orang yang banyaku berpuasa, maka akan dipanggil dari pintu ar-rayyan. Dan barangsiapa termasuk orang yang banyak bersedekah, maka akan dipanggil dari pintu shadaqah.” Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu bertanya: “Aku jadikan ayah dan ibuku sebagai tebusan Ya Rasulullah, apakah mungkin seorang dipanggil dari pintu-pintu itu? Apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu-pintu itu?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Iya, ada. Dan aku berharap engkau salah satu di antara mereka yang dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits ini menjelaskan kepada kita keutamaan orang yang melakukan amal-amal kebaikan dengan bermacam-macam bentuk. Dan di antara nikmat Allah ‘Azza wa Jalla kepada umat ini yaitu Allah menjadikan banyak pintu-pintu kebaikan yang itu merupakan cabang-cabang keimanan. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيقِ، والْحَياءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمانِ “Iman itu lebih dari 60 atau lebih dari 70 cabang. Cabang iman yang paling tinggi adalah kalimat Laa ilaaha illallah, dan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu adalah salah satu dari cabang-cabang iman.” (HR. Muslim) Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang amal-amal kebaikan yang banyak jumlahnya. Makanya Islam tidak perlu tambahan-tambahan, bid’ah-bid’ah dalam Islam tidak diperlukan. Karena ibadah-ibadah dan amal-amal shalih yang telah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya sangat banyak jumlahnya. Seandainya seorang hamba ingin melakukan semua amal-amal kebaikan itu, maka mereka tidak akan mampu. Macam-macam amal-amal ibadah ini ada yang wajib, seperti bertauhid, shal
more
Empat Perkara Untuk Menjaga Kesehatan Hati
2022/06/21
Empat Perkara Untuk Menjaga Kesehatan Hati merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 21 Dzul Qa’dah 1443 H / 21 Juni 2022 M. Kajian sebelumnya: Kehidupan Hati Adalah Kunci Sabar Empat Perkara Untuk Menjaga Kesehatan Hati Pada kesempatan yang lalu telah kita jelaskan bahwa menahan amarah itu berkaitan kesehatan dan kehidupan hati. Ketika hati gersang, berpenyakit, lemah atau mati, maka menahan amarah ini merupakan salah satu perkara yang berat. Kita tidak mampu menahan amarah karena ada sesuatu pada hati kita. Mungkin hati kita berpenyakit, mungkin hati kita gersang, mungkin hati kita tertelungkup, mungkin hati kita mati. Maka perhatikanlah kehidupan hati, itu akan memudahkan kita untuk dapat melaksanakan salah satu perintah Nabi: لاَ تَغْضَبْ “Jangan marah.” Lihat juga: Hadits Arbain ke 16 – Hadits Larangan Marah Perlu kekuatan untuk dapat melakukannya. Bukan kekuatan otot, tapi kekuatan hati. Maka berikut ini kita akan jelaskan empat perkara yang harus kita perhatikan untuk menjaga kesehatan hati. 1. Memberikan makanan dan asupan gizi yang dibutuhkan hati Makanan dan asupan gizi yang dibutuhkan hati yaitu mempelajari ilmu yang bermanfaat. Inilah makanan hati, yaitu ilmu yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan ini hati akan mendapatkan kesehatan dan menjadi kuat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ketahuilah dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala hati akan tenang.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 28) Berilah asupan gizi berupa ilmu yang bermanfaat ini. Maka dari itu salah satu doa yang selalu dibaca Nabi ketika pagi hari setelah shalat subuh adalah: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً “Ya Allah aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” Lihat juga: Bacaan Dzikir Pagi – Meminta Ilmu, Rezeki dan Amal Di sini ada dua kebutuhan pokok manusia; rohani dan jasmaninya. Ilmu yang bermanfaat adalah makanan rohani/hati. Sedangkan rezeki yang baik/halal adalah makanan jasmani. Tiada hari tanpa ilmu, itu motto seorang mukmin. Setiap hari harus ilmu yang bermanfaat yang dia dapatkan. Bukan hanya di majelis ilmu, tapi dia bisa membaca Al-Qur’an, membaca buku-buku Islam, bisa mendengarkan nasihat, bisa dzikrullah, ini akan menghidupkan hatinya. Maka perhatikan asupan gizi bagi hati kita. Kalau tidak maka hati akan kurus kering kerontang, hati yang mati dan gersang, hati yang tidak dipenuhi dengan cahaya dua wahyu (Al-Qur’an dan hadits). 2. Melatih diri melakukan ketaatan ketaatan Agar hati tetap bugar yaitu dengan melatih diri melakukan ketaatan-ketaatan dan ibadah-ibadah. Ini namanya riyadhatul qulub (latihan hati). Seperti kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: إِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ “Sesungguhnya kesantunan itu dapat kita raih dengan melatih diri untuk santun.” وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ “Barangsiapa yang melatih diri untuk sabar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kesabaran kepadanya.” Artinya hati juga perlu dilatih.
more
Saat Kehilangan Buah Hati
2022/06/20
Saat Kehilangan Buah Hati ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 20 Dzul Qa’dah 1443 H / 20 Juni 2022 M. Kajian Tentang Saat Kehilangan Buah Hati Tidak ada orang tua yang mengharapkan kehilangan anak. Bahkan sekalipun anak itu nakalnya luar biasa. Apalagi ibu-ibu, meskipun anaknya nakal, dia tetap merasa bahwa anak merupakan buah hatinya. Apalagi seandainya anak itu baik dan shalih. Tidak ada orang tua yang mau kehilangan anaknya. Bahkan membayangkannya saja sudah menakutkan. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan apapun yang Dia kehendaki. Sebesar apapun upaya orang tua agar anaknya tidak meninggal dunia, apabila sudah ditakdirkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk meninggal dunia maka anak itu akan meninggal pula. Walaupun dia mengumpulkan dokter sebanyak apapun, walaupun dia berusaha dan berdoa semaksimal apapun, kalau memang saatnya anak itu meninggal maka akan meninggal juga. Tentunya ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan adanya anak-anak yang meninggal walaupun orang tuanya keberatan, pasti ada hikmah kebaikan dibalik musibah tersebut. Andaikan ada manusia yang pantas untuk terbebas dari ujian, niscaya manusia tersebut adalah yang paling dicintai oleh Allah, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi ternyata Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengalami banyak ujian. Salah satu ujian untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kehilangan anak. Dan tidak tanggung-tanggung seluruh putra-putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dunia saat beliau masih hidup kecuali satu saja, yaitu Fatimah Radhiyallahu ‘Anha. Bagaimana sedihnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Sekedar kehilangan anak saja sudah sedih. Namun yang dihadapi oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan hanya itu, tapi juga diolok-olok oleh Musyrikin Quraisy. Mereka menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena anaknya meninggal semua, tidak ada penerusnya (terputus). Sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmanNya: إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kausar[108]: 3) Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya bersikap ketika kehilangan buah hati. Salah satu yang terekam ketika beliau kehilangan putranya adalah ketika Ibrahim. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bercerita: “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunggui Ibrahim putra beliau yang sedang dalam keadaan sakaratul maut.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menangis sampai air matanya bercucuran. Saat itu di samping Nabi ada Abdurrahman bin Auf. Ketika melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menangis, Abdurrahman pun bertanya: “Wahai Rasulullah, engkau menangis?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ “Wahai Abdurrahman, tangisan ini adalah pertanda adanya kasih sayang.” Jadi ketika anak atau orang tua kita meninggal lalu kita menangis, itu pertanda bahwa kita punya rasa sayang. Ini manusiawi. Baru setelah itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan sikap yang seharusnya dilakukan ketika orang kehilangan manusia yang dia sayangi. Beliau bersabda: إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إبراهيم لَمَحْزُونُونَ
more
Hukum Bernadzar Untuk Selain Allah
2022/06/17
Hukum Bernadzar Untuk Selain Allah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 15 Dzulqa’dah 1443 H / 15 Juni 2022 M. Kajian Tentang Hukum Bernadzar Untuk Selain Allah Termasuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bernadzar untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah bab ke-12 yang dibawakan oleh penulis dan yang dimaksud dengan bab ini adalah penjelasan tentang hukum haramnya bernadzar untuk selain Allah. Dan kesyirikan yang dimaksud adalah kesyirikan akbar. Adapun hubungan bab dengan tauhid adalah menunjukkan contoh perbuatan syirik akbar, yaitu bernadzar untuk selain Allah. Karena di dalam perbuatan bernadzar untuk selain Allah ada sikap menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang khusus milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nadzar sendiri itu adalah salah satu jenis ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan dalam syariat Islam. Seperti mewajibkan puasa selain puasa Ramadhan, mewajibkan bersedekah selain zakat wajib, mewajibkan shalat selain shalat-shalat wajib. Hal ini disebut dengan nadzar. Penulis Kitab Tauhid membawakan beberapa dalil. Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا “Mereka menunaikan nadzar…” (QS. Al-Insan[76]: 7) Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَمَا أَنفَقْتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُم مِّن نَّذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ… “Apa yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya…” (QS. Al-Baqarah[2]: 270) Penulis kitab Fathul Majid mengatakan bab termasuk kesyirikan bernadzar untuk selain Allah. Hal ini karena nadzar adalah ibadah, wajib untuk menunaikan nadzar tersebut jika ia bernadzar untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka berarti bernadzar untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kesyirikan dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka menunaikan nadzar dan mereka takut akan suatu hari yang keburukannya merata…” (QS. Al-Insan[76]: 7) Maka ayat ini menunjukkan wajibnya menunaikan nadzar. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji siapa yang melakukan itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam Ibnu Katsir berkata bahwa Allah mengetahui seluruh apa yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan dari kebaikan berupa sedekah, penunaian nadzar. Dan mengandung hal itu semua adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pahala dengan sebesar-besarnya bagi orang yang mengamalkan nadzar-nadzar tersebut. Jika engkau mengetahui akan hal itu, maka nadzar-nadzar yang dilakukan oleh orang-orang yang beribadah kepada kuburan, mendekatkan diri kepada orang-orang yang sudah meninggal agar orang-orang sudah meninggal tersebut mengabulkan hajat mereka, agar orang-orang sudah meninggal tersebut memberikan syafaat kepada mereka, maka ini semua adalah bentuk kesyirikan di dalam ibadah tanpa ada keraguan. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya. Download mp3 Kajian Radio Rodja 756AM · a style="color: #cccccc; text-decoration: none;" title="Hukum Bernadzar Untuk Selain Allah" href="https://soundcloud.
more

Podcast Reviews

Read Radio Rodja 756 AM podcast reviews

4 out of 5
8 reviews
Abu Avicenna 2013/10/08
Manfaat yang luar biasa
sambil kerja sambil denger tausiyah. Alhamdulillah… ^_^
Sip213ono 2012/09/23
Subhanallah, sangat bagus
Assallamualikum WR. WB. Sangat bagus, ditunggu episode selanjutnya
Dr AbiSaffa 2012/02/15
Jazakallah...
Salam..barakallah hu fikum Sangat bermanfaat cuma harap dapat diupload fail2 secara lengkap seperti di website Jazakallah Abu sabrina
Reza's Family 2012/02/03
Harus Punya
Allahu Akbar, dakwah syar'i berdasarkan ahlussunah wal jama'ah yg berjalan diatas salafush sholeh ada di Radio ini. Gamblang, terbuka dan amar ma'ruf ...
more

PODCAST SPONSORSHIP ADVERTISING

Start advertising on Radio Rodja 756 AM & relevant audience podcasts

What do you want to advertise?

In what period are you looking for the advertisement to be published?

Do you already have an advertisement or sponsorship message?

Do you want to get promoted on more relevant podcasts?

What's your campaign budget?

Business Details