Truth Daily Enlightenment

Advertise on podcast: Truth Daily Enlightenment

Rating
5
from
2 reviews
This podcast has
20 episodes
Language
Publisher
Explicit
No
Date created
2017/03/10
Last published
2022/06/27
Average duration
-
Release period
2 days

Description

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan tuntunan-Nya untuk hidup kita. A daily devotional containing a brief teaching along with the applications, read by Dr. Erastus Sabdono. The messages will equip you and bring you to better understand God, His kingdom, His will, and His guidance in our lives.

Podcast episodes

Check latest episodes from Truth Daily Enlightenment podcast

Someone Bagi Tuhan
2022/06/27
Kita harus selalu mengingat bahwa manusia bukanlah makhluk gratis. Maksudnya, Allah memberi kehidupan kepada manusia, bukan tanpa alasan. Ingat, bahwa kita itu dari tidak ada menjadi ada. Bisa saja kita tidak diadakan oleh Tuhan, tetapi Allah mengadakan makhluk ini. Allah memiliki alasan. Allah memiliki rancangan. Oleh sebab itu, setiap kita ini sebenarnya someone; someone bagi Tuhan. Tapi bukan someone bagi diri kita sendiri atau siapa pun. Someone artinya seseorang yang tidak dikenal; atau pengertian yang lain dari someone adalah seorang yang penting dan memiliki otoritas. Allah memandang penting sehingga mengadakan kita, dan Allah memberi kita otoritas. Jadi, semua kita harus mengerti bahwa kita ini penting, dan Tuhan memberikan otoritas untuk melakukan sesuatu, memenuhi rencana Allah.  Allah memandang kita ini penting. Penting menurut kehendak dan rencana-Nya, bukan kehendak dan rencana kita. Maka kalau orang memandang dirinya someone bagi dirinya sendiri atau someone bagi orang lain yang dia mau, dia pasti seorang pemberontak. Dia berkhianat kepada Allah yang mengadakan dirinya. Allah memberi kehidupan kepada manusia agar manusia melakukan apa yang Allah kehendaki, dan memenuhi dan menggenapi apa yang Allah rencanakan. Maka, makhluk ini luar biasa. Sama seperti orangtua itu memandang anaknya penting. Dan orangtua pasti memberikan otoritas. Dan untuk itu anak-anak diberi pendidikan, diberi kecakapan supaya bisa mandiri. Atau orangtua yang memiliki usaha, bisa dipercayakannya kepada anaknya.  Manusia memiliki hak, dan ini anugerah. Hak ini anugerah. Manusia bisa menikmati apa yang Allah ciptakan, tetapi manusia juga diberi tanggung jawab. Dan tanggung jawab ini juga anugerah. Sebab kalau manusia memenuhi apa yang Allah kehendaki, maka dia bisa menikmati semua hak yang diberikan-Nya. Jadi, hak dan kewajiban ini tidak terpisahkan, dan keduanya adalah anugerah. Allah memberi hak, dimana manusia memiliki pikiran dan perasaan. Dan Allah memberi kebebasan manusia untuk menikmati pikiran dan perasaannya. Tetapi manusia juga diberi tanggung jawab untuk menjadi serupa dengan Allah. Sehingga manusia dapat membuahkan keinginan-keinginan yang sesuai dengan kehendak Allah. Dan jika hal itu terwujud, maka manusia menjadi anak-anak Allah.  Jadi kalau manusia memenuhi tanggung jawabnya, maka manusia menjadi anak-anak Allah yang menikmati segala apa yang Allah ciptakan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan di dalam kekekalan. Seandainya Adam dan Hawa tidak jatuh dalam dosa, maka Adam dan Hawa memiliki keadaan segambar dan serupa dengan Allah, maka anak cucu Adam dan Hawa semua juga segambaran dan serupa dengan Allah. Jadi idealnya, manusia pertama ini beranak cucu setelah ia segambar dan serupa dengan Allah, agar keturunannya juga dapat segambar dan serupa dengan Allah. Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia harus tetap beranak cucu. Tetapi beranak cucu yang tidak ideal, tidak sesuai rancangan Allah semula. Maka Kejadian 5:3 mengatakan, “Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa (tselem) dan gambarnya (demuth), lalu memberi nama Set kepadanya.” Menurut rupa dan gambar siapa? Adam. Tidak ada model manusia segambar dan serupa dengan Allah. Dan anak cucunya semua juga menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Adam. Inilah yang dikatakan dalam Roma 3:23, “semua manusia telah jatuh dalam dosa,” artinya meleset (Yun. Hamartia); tidak presisi, tidak tepat, dan kurang atau kehilangan kemuliaan Allah. Maka kalau kita menerima Dia, bukan hanya mengakui menerima, namun kita harus ‘menelan’ kebenaran, makan buah kehidupan. Supaya kodrat kita diubah, sebab Tuhan pun berkata, “Kamu bukan berasal dari dunia ini.”  Di sini setan menyesatkan orang percaya; “Sudah terima Yesus, selamat.” Padahal Alkitab mengatakan, “Pada mulanya Firman; Firman itu menjadi Manusia.” Yang kita terima apa? Firman-Nya. Sementara orang merasa sudah menerima Yesus,
more
Tidak Berharga
2022/06/26
Tidak berlebihan kalau kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa betapa jahatnya Iblis atau setan itu; melampaui yang kita duga dan pikirkan. Dia adalah kejahatan itu sendiri. Kejahatan puncak, kejahatan klimaks, kejahatan absolut. Dan tentu kebalikannya, adalah Allah yang Mahabaik, yang kebaikan-Nya tidak terduga; melampaui yang kita duga dan pikirkan. Berbicara mengenai Iblis atau setan yang jahat itu, kita dapat menghubungkannya dengan sikap dari oknum ini yang tidak menghargai manusia. Setan atau Iblis ini tidak menghargai manusia; tidak memandang manusia sebagai berharga. Ini kebalikan dari Allah yang memandang manusia sebagai makhluk yang berharga di mata-Nya. Iblis tidak memandang manusia sebagai makhluk yang berharga, karenanya Iblis berusaha untuk membinasakan. Membinasakan artinya membuat hidup manusia menjadi tidak bernilai.  Bicara mengenai hidup kekal, sebenarnya bukan hanya bermaksud mau menunjukkan hidup terus-menerus secara waktu nanti atau mengenai panjangnya hidup, melainkan dalamnya atau kualitas hidup itu. Hidup kekal artinya hidup yang berkualitas atau bermutu. Dan itu dimulai dari sekarang, bukan nanti. Maka, Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, tidak akan mati tetapi beroleh hidup yang kekal.” Artinya bukan hanya secara waktu atau ditinjau dari waktu, nanti mengalami kesadaran terus-menerus, tapi sejak di bumi, kita sudah memiliki hidup kekal itu. Sama seperti keselamatan itu bukan hanya nanti pada waktu kita sudah di surga, keselamatan juga bisa ditinjau dari waktu sekarang. Justru orang yang memiliki keselamatan sejak sekarang ini, maka dia akan mengalami keselamatan kekal. Jika seseorang tidak memiliki hidup yang berkualitas sejak sekarang ini, ia tidak akan memiliki hidup yang berkualitas di dalam kekekalan.  Iblis tidak menghargai manusia; ia membuat hidup manusia menjadi tidak bernilai, sejak di bumi ini, sekarang ini. Membuat hidup manusia tidak di dalam persekutuan dengan Allah; dan sebaliknya, supaya hidup manusia itu dalam persekutuan dengan dirinya. Sebab Iblis juga mau menggunakan manusia untuk kemuliaan dirinya. Sebab sebenarnya Iblis itu tidak bermaksud mau masuk neraka. Siapa yang mau masuk neraka? Neraka itu mengerikan. Iblis memang menghendaki surga, namun surga di mana dia menjadi pemimpinnya. Dan itulah sebabnya, ia memberontak kepada Allah. Ia menyeret malaikat-malaikat untuk masuk dalam persekutuan dengan dirinya untuk memuliakan dirinya. Padahal, dia tidak berhak. Dan dia tidak bisa memberikan kehidupan. Dia tidak berhak menerima kemuliaan, dan dia tidak mampu memberi kehidupan. Berbeda dengan Allah; Allah menghargai manusia, Allah membimbing manusia untuk memiliki hidup yang berkualitas sejak sekarang ini. Dan sebagai Sang Khalik, Dia layak dimuliakan dan Dia dapat memberi kehidupan kepada manusia. Jadi kalau seseorang mau jadi gubernur, tidak salah. Tapi bukan kedudukan gubernur itu yang mestinya dia bidik, melainkan tanggung jawab yang dia penuhi. Tidak salah menjadi pendeta, gembala sidang, atau ketua sinode. Tapi, jangan karena kedudukan itu, melainkan untuk tanggung jawab dimana ia sebagai pendeta benar-benar bisa membimbing umat kepada jalan kehidupan, jalan kebenaran yang membawa umat kepada kehidupan. Dunia sudah begitu rusak, sehingga orang masuk sekolah teologi, memikul gelar, ia memiliki kehormatan dari gelar itu, lalu ingin menjadi gembala, ketua wilayah, ketua provinsi, atau ketua sinode. Ini adalah karakter dan gairah Lusifer. Dalam kegiatan-kegiatan yang nirlaba, organisasi, yayasan, juga di gelanggang politik, kita melihat itu.  Yohanes 1:3-4 mengatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Dia adalah The Owner; Dia Pemiliknya. “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Terang (Yun. phos φῶς) kalau bagi orang Yahudi sebenarnya lambang kebahagiaan. Jadi di dalam kitab Mazmur kita menemukan kalimat,
more
Menantikan Kebangkitan
2022/06/25
Ada dua hal yang mestinya menggelisahkan kita. Yang pertama, mengapa kita tidak sungguh-sungguh memandang bahwa kebangkitan dari orang mati merupakan sesuatu yang luar biasa, yang berharga, yang mestinya kita rindukan dan kita nantikan. Sebab, kebangkitan dari antara orang mati akan membuat kita memiliki tubuh kemuliaan yang tidak mengalami sakit penyakit, proses penuaan; kesempurnaan fisik, kesempurnaan tubuh seperti rancangan Allah semula. Kalau kita sadar, kita tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang istimewa, yang luar biasa sehingga kita tidak merasa menantikan dengan sungguh-sungguh, berarti ada sesuatu yang salah di dalam hidup kita. Tuhan mengizinkan, Tuhan membiarkan gereja mula-mula mengalami penderitaan yang hebat. Namun hal itu ternyata memang mematangkan atau menyempurnakan iman Kristen, sekaligus menjadi ujian yang sangat tepat. Sebab dengan penderitaan yang mereka alami, mereka tidak memiliki kesempatan atau peluang sedikit pun menikmati kesenangan dan kebahagiaan di bumi ini. Mereka menantikan kebangkitan dari antara orang mati. Jadi, Tuhan mengondisi orang Kristen abad mula-mula itu untuk bisa memandang kebangkitan dari antara orang mati sebagai sesuatu yang bernilai, yang berharga, dan mereka menantikannya. Dunia kita hari ini mengondisi kita untuk tidak menantikan kebangkitan dari antara orang mati, karena kita bisa menikmati banyak kesenangan, kenyamanan hidup, sehingga kebangkitan bukan sesuatu yang berharga dan bernilai. Dan faktanya, hampir-hampir tidak ada orang yang menantikan kebangkitan itu. Tentu kita seharusnya mempersoalkan dan memperkarakan hal ini di dalam hidup kita pribadi. Dari pergumulan itu, kita menemukan satu hal, yaitu kalau kita masih mengharapkan ada kebahagiaan di dalam hidup kita, maka kita pasti tidak menantikan kebangkitan. Kita tidak memandang kebangkitan sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai. Kalau kita membiarkan kehidupan kita seperti ini, cepat atau lambat, kita dapat mengkhianati Tuhan.  Yang kedua, penyesatan yang tanpa disadari merusak kehidupan orang Kristen. Pandangan jika memercayai kebangkitan Yesus maka secara otomatis akan mengalami kebangkitan. Jadi, seakan-akan kebangkitan itu sudah menjadi hak, porsi yang pasti diterima. Dalam hal ini dikesankan bahwa kebangkitan dapat terjadi atas setiap orang Kristen dengan mudah. Jadi, tidak perlu dinantikan. Nanti dengan sendirinya akan mengalami kebangkitan. Sehingga kebangkitan dari antara orang mati itu menjadi murahan. Karena menjadi murahan, sehingga banyak yang gagal paham terhadap pengurbanan Yesus yang hebat untuk bisa mengalami kebangkitan. Kebangkitan Yesus terjadi karena kesalehan-Nya. Kalau Dia tidak saleh—artinya Dia juga berbuat salah—jangankan menebus dosa orang lain, Ia juga tidak bisa memikul dosa-Nya sendiri. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa untuk mengalami kebangkitan, seseorang harus memiliki kehidupan yang pantas untuk memperoleh kebangkitan. Dalam hal ini, ada syarat yang harus dipenuhi. Sangat jelas dalam kesaksian Rasul Paulus mengenai syarat yang harus dipenuhi untuk mengalami kebangkitan, yang tertulis di Filipi 3:7-11, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”  Kalau kita melihat per kata, per ayat, pasti penuh atau sarat dengan kebenaran. Tetapi paling tidak,
more
Menjadi Saksi
2022/06/24
Banyak agama menyaksikan dan mengajarkan mengenai Allah yang menciptakan langit dan bumi; Allah yang Mahakuasa, Mahatinggi, Mahabesar dan sederetan gelar lainnya. Mereka berusaha untuk membuktikan bahwa Allah yang mereka percayai bukan saja eksis, tetapi juga benar. Biasanya mereka bersikap skeptis terhadap kepercayaan agama lain, bahkan ada yang terang-terangan menentang dan menuduh sebagai sesat. Demi menyenangkan Allah yang mereka yakini sebagai Allah yang benar, mereka bisa melakukan tindakan yang irasional, melampaui batas-batas kemanusiaan. Mereka menunjukkan kesaksian-kesaksian untuk membuktikan keberadaan dan keperkasaan Allah yang mereka sembah. Dari hal ini, hendak dikesankan bahwa Allah yang paling kuat itu adalah Allah yang benar. Memang di abad-abad awal kekristenan dan di beberapa tempat khusus lainnya, untuk menunjukkan kebenaran Injil harus ada mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang menarik orang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus.   Namun hal itu bukanlah metode permanen dan umum, artinya tidak harus berlaku di semua tempat, kepada semua orang dan di sepanjang waktu. Buktinya, setelah masa keemasan zaman mukjizat, muncul masa aniaya. Dan Tuhan pun terkesan tidak membela orang percaya dan tidak berdaya sama sekali. Mereka menjadi orang yang “kalah.” Apalagi pada abad ke 6-8 ketika ekspansi agama besar dari Arab melanda seluruh Asia dan sebagian Eropa, kekristenan kalah sama sekali, bahkan nyaris punah. Banyak gereja yang berubah menjadi rumah ibadah agama lain. Di mana Allahnya orang Kristen pada waktu itu? Hal ini sudah dinubuatkan dalam Wahyu 13:7, bahwa orang-orang kudus dikalahkan oleh mereka. Tuhan membiarkan hal itu terjadi. Sungguh suatu kebijaksanaan Tuhan yang tidak bisa kita mengerti.  Kalau suatu ketika Tuhan tidak menggunakan cara atau metode mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau untuk menyampaikan kesaksian dalam pemberitaan Injil, tentu hal itu ada dalam pertimbangan Tuhan yang sempurna. Orang Kristen di abad yang berbeda, di tempat yang berbeda dengan objek yang berbeda belum tentu diperkenan memakai cara dan metode yang sama. Kalau Tuhan menggunakan cara atau metode mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau, biasanya hal ini dilakukan Tuhan di tempat di mana orang belum mengenal Injil sama sekali. Apalagi di wilayah agama suku yang menuntut bukti, maka pemberitaan Injil mutlak harus disertai dengan mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau yang bisa menarik orang percaya kepada Tuhan Yesus.   Namun kita tidak boleh memaksakan untuk menggunakan mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau tersebut tanpa komando Tuhan. Bila ada yang memaksa menggunakan cara tersebut, berarti ada maksud-maksud pribadi di balik proyek tersebut. Tuhan akan memenuhi janji-Nya, tetapi orang-orang yang bertindak di luar kehendak Bapa, akan menuai buahnya. Mereka bisa ditolak oleh Tuhan Yesus (Mat 7:21-23). Hal ini jelas menunjukkan bahwa karunia bukanlah ukuran kedewasaan dan perkenanan Tuhan. Penjelasan ini tidak bermaksud mengecilkan arti kuasa Tuhan dan hati orang percaya yang rindu bersaksi. Kita harus mengalir bersama dengan Roh Kudus dan selalu bertindak sesuai dengan kehendak Bapa. Dalam hal ini, yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk mengerti kehendak Allah supaya segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Kita tidak boleh terjebak menjual jasa dengan memakai nama Tuhan Yesus yang berkuasa untuk agenda-agenda pribadi yang terselubung. Cara orang Kristen menyaksikan Allahnya dan menjadi saksi bagi Kristus berbeda dengan zaman Perjanjian Lama. Fokus hidup umat Perjanjian Lama adalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan orientasi berpikirnya adalah dunia ini. Umat Perjanjian Baru berfokus pada manusia batiniah dan orientasinya adalah langit baru dan bumi yang baru. Mendemonstrasikan mukjizat, tanda heran dan kesaksian yang memukau bukanlah cara atau me...
more
Hari Terakhir
2022/06/23
Dalam 2 Petrus 3:10a tertulis, “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri.” Maksudnya, Tuhan tidak memberitahu dengan tepat tentang waktu kedatangan-Nya. Tuhan memberikan tanda-tanda bahwa kedatangan-Nya sudah dekat, tetapi tepat waktu kedatangan-Nya, Tuhan tidak memberitahu. Ayat ini mengajarkan agar kita memiliki sikap berjaga-jaga setiap saat. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar setiap saat telah berjaga-jaga, menyambut kedatangan Tuhan yang kita tidak tahu tepat waktu-Nya, atau hari kematian kita yang juga menjadi hari Tuhan yang khusus bagi kita, di mana kita akan menghadap Tuhan? Orang yang berpikir jika nanti mendekati hari kematian barulah ia akan sungguh-sungguh bertobat dan mencari Tuhan adalah orang yang sebenarnya meliciki Allah. Dia mau berbuat curang, dia tidak serius dengan Tuhan, dia meremehkan Tuhan. Kemungkinan kecil orang-orang seperti ini selamat. Sebab selama dalam masa sebelum mendekati hari kematiannya, selain ia juga tidak tahu kapan hari kematiannya, ia tidak bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Kita mungkin berkata, “Saya tidak seperti itu. Buktinya, saya datang ke gereja, berdoa puasa. Saya bukan seperti orang-orang yang bertobat dan mencari Tuhan nanti kalau sudah tua atau mendekati hari kematian.” Tetapi apakah kita sungguh-sungguh berjaga-jaga?  Sejujurnya, sangat sedikit orang yang berjaga-jaga, yang mau bertobat dan sungguh-sungguh mencari Tuhan. Kalau seseorang tidak sungguh-sungguh memiliki sikap berjaga-jaga, selain dia tidak memiliki kesiapan maksimal untuk menghadap takhta pengadilan Tuhan, dia pun tidak bertumbuh secara benar. Sebab sementara berjaga-jaga, setiap hari kita mengoreksi diri; kalau ada salah, kekeliruan, kejahatan yang kita lakukan. Kita akan mengenali keadaan diri kita sendiri. Seiring berjalannya waktu, ketika mengalami masalah, kita mengoreksi diri lagi apakah melewati pencobaan-pencobaan itu kita bereaksi dan bertumbuh dengan benar. Kita harus belajar untuk berpikir bahwa setiap hari bisa menjadi hari terakhir kita, sehingga kita akan memiliki sikap berjaga-jaga yang benar. Tuhan sudah memperingatkan kita bahwa kedatangan-Nya seperti pencuri, tapi sering kali kita menganggap ringan; “Belum, belum datang. Belum kiamat. Masih jauh. Saya masih hidup, belum meninggal dunia.” Jadi, kita tidak sungguh-sungguh memburu kesucian. Kalau kita berpikir dan sungguh-sungguh dalam memburu kesucian, barulah kita menghormati Tuhan.  Kita memang tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran moral berat yang membuat kita malu atau terpidana, tetapi kita tidak benar-benar berusaha untuk hidup sebersih-bersihnya. Kita harus sungguh-sungguh setiap hari datang kepada Tuhan, seakan-akan sedang mempertanggungjawabkan bagaimana kita mengisi hidup ini. Apakah ada tugas yang telah Tuhan percayakan bagi kita yang belum ditunaikan? Banyak orang sibuk dengan masalah pribadinya saja. Kalau kita sibuk dengan diri sendiri, maka kita tidak pernah sibuk dengan Tuhan. Sementara kita punya masalah, kita jalani hidup ini dengan bertanggung jawab, dan kita harus menemukan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Pasti tugas itu sangat spesifik, sangat khas. Memang, kuasa kegelapan akan berusaha mengacaukan hidup kita. Tetapi kita harus terus bertekun, tidak terganggu. Di situ nampak kepiawaian kita sebagai anak-anak Allah, kesetiaan kita kepada Bapa. Di tengah-tengah persoalan-persoalan berat yang kita hadapi, kita tetap berusaha untuk menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada kita.  Selanjutnya, 2 Petrus 3:10b, “Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” Mari kita membayangkan keadaan atau peristiwa dahsyat yang pasti akan terjadi, dan seakan-akan kita ada di dalam suasana itu. Banyak orang tidak mau memikirkan hal-hal yang mengerikan seperti itu, padahal itu pasti terjadi. Kuasa kegelapan berusaha untuk menutup-nutupi,
more
Bukan Hanya Dipertahankan
2022/06/22
Dalam 2 Petrus 3:15 tercatat, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.” Dalam teks aslinya, kalimat “sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat” adalah soterian geheisthe (σωτηρίαν ἡγεῖσθε). Hal itu jelas sekali menunjukkan bahwa keselamatan seseorang dapat diperoleh kalau seseorang mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Yesus mati di kayu salib, itu anugerah. Tetapi untuk memperoleh apa yang Allah sediakan melalui kurban-Nya tersebut, kita harus berusaha. Jadi bukan hanya sebuah format teologis bahwa yang percaya Yesus diperdamaikan dengan Allah. Kalau hidup seseorang tidak mengalami pertumbuhan dalam kesucian sesuai standar kesucian Allah, berarti ia mengarahkan diri kepada kebinasaan atau api kekal. Dalam hal ini jelas apakah seseorang nanti akan masuk surga atau masuk neraka—dimuliakan bersama Yesus atau tidak—itu sudah bisa dikenali dari kualitas hidupnya sekarang, sejak di bumi ini.  Sejatinya, doktrin yang benar tidak hanya menjadi konten di dalam pikiran atau buku-buku, tetapi akan mendesak orang untuk melakukan dan mengalami. Sebaliknya, ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil yang murni membuat orang damai dan puas tanpa mengalami. Sampai pada keyakinan bahwa dirinya yakin selamat dan betul-betul merasa dirinya anak Allah, padahal itu palsu; pseudo. Kalau keselamatan dimiliki seseorang hanya karena mengaku dengan mulut atau persetujuan pikiran, maka Iblis tidak akan bekerja keras mencobai orang percaya. Petrus juga tidak akan menulis suratnya di 1 Petrus 5:8-9, “sadarlah dan berjaga-jagalah, lawanmu si Iblis berjalan keliling, sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Ini nasihat bukan untuk orang di luar Kristen. Ini orang percaya. Harus dilawan, dengan iman yang teguh. “Sebab kamu tahu bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” Itulah sebabnya Paulus dalam Filipi 2:12 mengatakan, “…karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…” Keselamatan yang disediakan Allah itu harus diperjuangkan untuk dapat diraih dan dimiliki secara permanen. Dalam kehidupan orang percaya, keselamatan itu bukan hanya dipertahankan, melainkan juga harus dikembangkan atau ditumbuhkan. Dipertahankan artinya kesempatan untuk memperoleh keselamatan tidak disia-siakan. Dikembangkan atau ditumbuhkan artinya kehidupan sebagai anak Allah harus terus mengalami perubahan, sampai bisa berkodrat ilahi. Dengan cara apa? Jangan punya fokus yang lain, yang dikalimatkan oleh Tuhan Yesus di Lukas 17 sebagai “menoleh ke belakang.” Mempertahankan keselamatan adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Tuhan. Keselamatan adalah sesuatu yang progresif, artinya membuat seseorang hidup makin tidak bercacat, tidak bercela. Kuasa gelap berusaha untuk menghentikan progresivitas itu agar keselamatan tidak diperoleh seseorang. Kesempatan untuk meraih apa yang Allah sediakan banyak disia-siakan ketika seseorang mulai menghargai atau memberhalakan sesuatu atau seseorang—termasuk memberhalakan masalah—lebih dari penghargaannya kepada Tuhan. Kita harus mulai memikirkan hal ini dengan serius. Nanti di pengadilan Tuhan, semua akan dibuka, sampai hal paling detil dan tersembunyi, akan dibuka. Hal ini mengisyaratkan bahwa keselamatan yang dimiliki seseorang itu ditandai oleh kehidupannya yang mengalami progresivitas menunju kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Maka tadi dikatakan, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan...” Mari, jangan sia-siakan kesempatan; tidak boleh hilang. Memanfaatkan kesempatan inilah yang namanya mempertahankan keselamatan. “…bagimu untuk beroleh selamat” sama artinya dengan “supaya keselamatan menjadi milik yang pasti.” Dari hal ini, kita mengerti mengapa Yesus berkata
more
Terjerat dalam Kebodohan
2022/06/21
2 Petrus 3:13-14, “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.” Ayat-ayat ini ditulis oleh Rasul Petrus, seorang murid yang paling dekat dengan Tuhan Yesus. Dan tentu apa yang ditulis oleh Rasul Petrus ini ditulis di dalam atau oleh ilham Roh. Ketepatannya sempurna. Ia menulis bukan untuk mengancam dan menakut-nakuti pembacanya atau jemaat, tetapi untuk membuka pengertian jemaat guna mempersiapkan diri menghadapi realitas dahsyat yang akan terjadi nanti. Kedahsyatan, ketegangan, kegentingan situasi itu tidak bisa kita mengerti sekarang.   Dan kalau kita tidak sempat menyaksikan karena kita sudah meninggal dunia, kita tetap akan menghadapi kedahsyatan pengadilan Tuhan, indahnya Kerajaan Surga, dan kengerian api kekal. Ini pun juga tidak kalah dahsyatnya. Pada saat itu, orang baru mengerti bahwa: pertama, jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan diri sendiri saja seseorang tidak akan mampu. Hari ini kita memiliki begitu banyak urusan sampai kita lupa mengurus diri kita sendiri. Kuasa kegelapan akan membuat kita memiliki banyak fokus, sehingga kita gagal fokus untuk mencapai apa yang seharusnya kita capai; yaitu kesucian dan kesalehan di hadapan Allah yang merupakan harta kekal kita. Memang dalam hidup ini pasti kita memiliki banyak urusan, tanggung jawab, dan tugas yang harus kita penuhi. Tetapi satu hal yang harus kita penuhi lebih dari segala sesuatu adalah mengusahakan diri menjadi orang suci dan orang saleh-Nya Tuhan.  Seperti yang juga dikatakan di ayat 14, “berusaha supaya kedapatan tidak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya.” Kalau kita sudah mencapai kesucian dan kesalehan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, maka kita hidup dalam perdamaian dengan Dia, sehingga kita akan menjadi berkat bagi orang di sekitar kita. Sehingga ketika kita ada di hadapan Tuhan, di tengah-tengah kedahsyatan keindahan Kerajaan Surga, kita sudah tidak memikirkan diri sendiri, karena kita sudah menyelesaikan diri kita di hadapan Tuhan sejak di bumi. Ingat firman Tuhan, “dan hukum yang sama dengan itu ialah kasihi sesamamu seperti kamu mengasihi diri sendiri.” Di luar orang Kristen, mereka juga mengenal bagaimana memperlakukan orang dengan baik, sebagaimana dirinya juga mau diperlakukan. Tetapi standarnya adalah kebaikan menurut versinya. Tetapi kalau orang-orang yang ada di lingkungan umat pilihan, yang baik itu bukan sekadar memberi makan orang lapar, memberi pakaian orang telanjang, memperhatikan orang yang terpenjara, tetapi yang baik adalah hidup dalam perdamaian dengan Allah. Perdamaian kita dengan Allah yaitu mengusahakan hidup tak bercacat tak bercela, selanjutnya akan membuat kita mengusahakan perdamaian orang lain dengan Allah. Maka kalau kita mengasihi Tuhan, kita akan peka melihat semua kejadian dan peristiwa yang di dalamnya Allah memproses kita. Kesucian bukanlah sesuatu yang bersifat mistis, melainkan natural, praktis, teknis. Kalau kita fokus kepada kesucian, maka nanti kita akan mengusahakan kesucian untuk orang lain. Sementara kita melakukan kegiatan sehari-hari, Allah bekerja dalam segala hal, dan memakai semua keadaan itu untuk menghabisi saldo kodrat dosa kita. Kita tidak bisa melihat diri kita dengan benar, tetapi Tuhan yang tahu keadaan kita.  Yang kedua, usaha yang dilakukan untuk bisa lolos dari penghukuman Allah harus usaha paling maksimal. Lebih dari studi, karier, mempertahankan rumah tangga, dan segala sesuatu. Langkah yang harus dilakukan adalah selalu menyadari bahwa kita sedang ada dalam perjalanan waktu yang ketat. Oleh karena itu, kita harus menghargai setiap menit yang Tuhan percayakan. Waktu hidup harus diprogram dengan benar. Ukuran bersungguh-sungguh memang relatif, banyak orang sudah merasa bersungguh-sungguh men...
more
Hidup Hanya Untuk Mengenal Tuhan
2022/06/20
Kita harus mulai menetapkan filosofi hidup yang benar, yaitu hidup untuk menemukan Tuhan yang benar, mengenal-Nya dengan baik dan melakukan kehendak-Nya. Jadi, kehidupan selama 70-80 tahun adalah perjalanan untuk melakukan hal itu semata-mata, sampai seseorang menemukan kekasih abadi yang sejati, yaitu Tuhan sendiri. Hal-hal lain, khususnya yang menyangkut kebutuhan jasmani bukanlah sesuatu yang penting (walau perlu), karena tidak memiliki dampak kekekalan. Untuk memiliki hidup yang bermutu ini, seseorang harus berjuang meraih pengenalan akan Tuhan, tidak hanya menggunakan hati semata-mata, tetapi juga menggunakan pikiran. Dari pikiran yang mengenal Tuhan dengan benar, maka seseorang dapat memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Hal ini akan tecermin dalam seluruh perilakunya. Contohnya, para tokoh di Alkitab yang menemukan Tuhan melalui wahyu-wahyu khusus atau penyataan-penyataan-Nya.  Mereka belajar mengenal Tuhan melalui pengalaman hidup selama bertahun-tahun (2Tim. 3:16). Pengenalan akan Tuhan yang mereka miliki, mereka bayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu seluruh kehidupan. Dari pengalaman hidup mereka, dapat diperoleh kebenaran yang tidak ternilai harganya. Apakah kebenaran itu? Kata kebenaran dalam teks ini adalah alitheia. Kebenaran adalah segala sesuatu yang diajarkan Tuhan Yesus untuk diketahui agar manusia memperoleh keselamatan dari Tuhan atau memenuhi rencana-Nya. Dalam hal ini kebenaran adalah:  Pertama, semua butir-butir ajaran yang diajarkan Tuhan Yesus. Kebenaran adalah seluruh hal yang diajarkan Tuhan Yesus. Di sini, kebenaran adalah bulat atau utuh. Kalau seseorang hanya menangkap sebagian yang diajarkan Tuhan Yesus, berarti belum mengenal kebenaran. Kedua, buah pikiran atau ide yang membuat seseorang mengenal Allah yang benar. Ini adalah ide Allah. Untuk menyerap ide tersebut, seseorang harus menggunakan pikirannya semaksimal mungkin. Mengenal Allah bukan hanya berarti memiliki pengetahuan mengenai Allah, tetapi mengerti kehendak Tuhan apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Ketiga, tuntunan yang menggiring seseorang kepada keselamatan dalam Yesus Kristus. Tidak bisa dikatakan sebagai kebenaran, apabila tuntunan atau pembinaan dalam gereja tidak membuat orang percaya memiliki pertumbuhan ke arah kesempurnaan manusia yang dikehendaki oleh Allah dalam seluruh kehidupan.  Untuk ini ada beberapa catatan penting, yaitu: Pertama, seseorang harus memiliki keyakinan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran yang tidak perlu ditambah oleh sumber mana pun. Dengan prinsip ini, seseorang tidak memberi peluang terhadap sumber lain, seolah-olah dapat memberi masukan tambahan untuk mengenal kebenaran. Hal ini akan membuat seseorang fokus kepada Alkitab saja (1Tim. 4:13; 2Tim. 3:15-16). Sangat berbahaya kalau kesaksian pribadi seseorang dianggap bisa menjadi landasan iman atau kalau seseorang berkata bahwa ia bisa belajar langsung dari Tuhan. Di sini kewibawaan Alkitab dirongrong oleh oknum yang mengaku bahwa Tuhan mengizinkan seseorang mengabaikan isi Alkitab. Sesungguhnya pernyataan itu muncul dari orang-orang yang malas belajar Alkitab dengan benar. Dengan cara demikian, ia mengesankan bahwa orang percaya tidak perlu kerja keras dalam menggali kekayaan Alkitab.  Kedua, seseorang harus merasa lapar dan haus akan kebenaran. Tanpa kehausan dan kelaparan, seseorang tidak akan dapat dipuaskan (Mat. 5:6). Orang yang haus dan lapar akan mencari dan senantiasa memburu kebenaran. Mereka akan menggunakan kesempatan yang ada untuk menggali isi Alkitab guna menemukan kebenaran. Tuhan menjanjikan orang-orang seperti ini akan dipuaskan oleh Tuhan.  Ketiga, kesediaan untuk meninggalkan percintaan dunia (Luk. 16:11). Orang yang masih tidak benar dalam masalah harta tidak akan dipercayai “harta yang sesungguhnya.” Kata ‘harta yang sesungguhnya’ dalam teks aslinya adalah alithinon (ἀληθινὸν), yang mestinya lebih tepat diterjemahkan ‘kebenaran.
more
Mengembangkan Takut akan TUHAN
2022/06/19
Manusia itu rentan, lemah dan terbatas. Orang yang secara materi berlimpah pun tidak luput dari keadaan di mana mereka tidak mengalami kesejahteraan dan ketenangan. Entah karena penyakit yang mengancam nyawa mereka atau orang-orang yang mereka cintai. Atau ancaman dari pihak-pihak yang tidak suka kepada mereka dan lain sebagainya. Belum lagi kematian. Mestinya kita menyadari hal ini sepenuhnya. Jangan sombong. Kalau hanya kemiskinan, kegagalan dalam bisnis, studi, atau rumah tangga, itu masih belum menggetarkan jiwa. Tapi kalau sudah di ujung maut, sangat menggentarkan. Jadi, mestinya kita menyadari kerentanan dan ketidakberdayaan kita. Lalu kita memandang Tuhan dan mengatakan, “Aku membutuhkan Engkau, Tuhan.” Dalam Mazmur 34:9-10 tertulis, “Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik.”  Kenyataannya, banyak orang pergi ke gereja tetapi mereka tidak takut Tuhan. Menjadi aktivis, bahkan pendeta, tapi tidak takut Tuhan. Kita harus mengembangkan sikap dan perasaan takut akan Allah. Dan itu bisa terus bertumbuh sampai kita memiliki kegentaran akan Allah. Dan orang-orang seperti ini bisa menghormati Allah secara patut dan mencintai Dia secara tulus. Takut akan Allah itu membutuhkan waktu. Tetapi melalui perjalanan waktu, Tuhan mengajarkan bagaimana memiliki takut yang proporsional, yang semestinya kepada Allah sampai memiliki kegentaran akan Dia. Dan di situ, kita bisa menghormati Allah secara benar dan mencintai Dia dengan tulus.  Orang yang sungguh-sungguh mau belajar takut akan Allah, harus menghayati keberadaan Allah setiap saat. Jadi bukan hanya pada waktu-waktu tertentu. Biasanya, ketika seseorang ada dalam keadaan terjepit, baru ia mencari-cari wajah Tuhan. Demikian juga waktu kita berada di gereja, berdoa bersama, kita berusaha menghayati Allah itu hidup dan hadir. Tapi setelah keluar dari gereja, kita sudah tidak mampu menghayati kehadiran Allah. Ternyata, waktu di gereja sebenarnya kita tidak menghayati kehadiran Allah dengan benar; kita hanya tercekam oleh situasi liturgi, suasana khidmat kebaktian, tetapi bukan kehadiran Allah. Banyak orang seperti itu. Jadi, di gereja hanya fantasi sesaat.  Lalu mengapa kita tidak mencari Dia dengan sungguh-sungguh? Tapi karena sudah tidak terbiasa mencari wajah Tuhan, maka akibatnya tidak sanggup. Kita harus mencari Tuhan tanpa menunggu ada masalah yang mendesak. Jadi, ketika kita mencari Tuhan kita mengatakan, “Aku membutuhkan Engkau Tuhan,” jangan sambil berpikir ada masalah apa. Yang kita pikir adalah: “Engkau menjadi Kekasihku. Aku menjadi kekasih-Mu. Aku menjadi milik-Mu, Engkau jadi milikku, itu yang kuperlu.” Adapun, masalah-masalah yang lain (apa pun) jangan kita persoalkan. Dan untuk menjadi kekasih Tuhan, kita harus menjadi orang kudus. “Takutlah akan TUHAN, hai orang kudus.” Kita dapat belajar dari pengalaman hidup. Kita minta perlindungan Tuhan dari, pertama, kuasa gelap. Yang kedua, diri sendiri, karena daging atau manusia lama ini masih menuntut dan kalau kita puaskan, kita berkhianat kepada Tuhan. Yang ketiga, pengaruh dunia sekitar. Yang keempat, malapetaka yang tidak mendewasakan. Yang kelima, orang-orang yang bermaksud jahat. Hidup dalam kekudusan itu tidak mudah. Banyak godaan di sekitar kita yang bisa membuat kita jatuh. Tapi kalau kita diam di kaki Tuhan setiap hari, kita memiliki kegentaran akan Dia, dan itu yang membuat kita bisa menghayati kehadiran Allah setiap saat, di mana kita bisa membangun hidup kudus. Dan Firman Tuhan mengatakan, “… tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!” Perhatikan, orang-orang yang sejak dahulu sudah hidup dalam takut akan Tuhan, mencari Tuhan sungguh-sungguh, maka anak cucunya berbeda dengan mereka yang tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jangan menunggu Tuhan mendisiplin kita.
more
Keterbatasan dan Kerentanan Manusia
2022/06/18
Inilah kenyataan hidup, bahwa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu menit ke depan. Banyak orang yang tidak pernah memperhitungkan bahwa segala sesuatu bisa terjadi di luar dugaan manusia. Seseorang yang mengalami kecelakaan, bertanya, “Bagaimana ini bisa terjadi?” Atau ketika dokter berkata bahwa kita mengidap penyakit yang belum ada obatnya. Yang lain tidak pernah menduga kalau palu hakim berkata, “Anda dikenakan hukuman seumur hidup.” Tetapi inilah hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu menit ke depan. Mengutip apa yang dikatakan Tuhan Yesus di Lukas 17:26-29, “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.” Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk sombong. Sadarlah bahwa kita adalah manusia yang sangat terbatas. Menyadari keterbatasan dan kerentanan manusia, maka kita harus sungguh-sungguh berurusan dan berperkara dengan Tuhan. Kesombongan seseorang berangkat dari sikap yang tidak merasa membutuhkan Allah.  Terutama mereka yang tidak memiliki masalah, semua berjalan lancar. Kalaupun mereka punya banyak masalah, yang mereka butuhkan adalah pertolongan atau berkat Tuhan untuk mengatasi masalah, bukan pribadi Tuhan itu sendiri. Ketika dalam kehidupan hari-harinya, ia tidak membiasakan diri mencari wajah Tuhan, maka ketika dalam keadaan krisis, ia tidak akan bisa menemukan Tuhan. Tuhan tidak bisa dipermainkan seperti itu. Maka, jangan hanyut dalam kesenangan-kesenangan hidup dan kenyamanan sampai gagal fokus ke Tuhan.  Di luar sana, banyak orang tidak peduli Tuhan; mereka sombong, apalagi kalau banyak harta, mobil bagus, rumah mewah, punya kenalan pejabat tinggi dan aparat keamanan. Padahal, segala sesuatu bisa terjadi! Mungkin kita memang bukan siapa-siapa, tapi bersyukurlah karena kita sadar bahwa yang kita butuhkan hanya Tuhan. Ini sangat realistis dan logis. Kita harus berubah, dan melalui pesan ini kiranya kita disadarkan dan sejak sekarang bener-benar mengalokasikan waktu untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita memperkarakan diri kita dengan Tuhan. Kalau Allah itu hidup, Allah itu ada, maka kita harus menemui Dia. Justru ketika kita hidup, kita lakukan persiapan, sebab ketika kita sudah meninggal, kita tidak punya waktu lagi. Dunia ini jahat sekali; khususnya bagi kaum muda. Jika kalian terbawa oleh filosofi, cara berpikir dan prinsip-prinsip hidup anak-anak dunia, kalian akan terhilang dan tidak pernah bisa berubah. Maka sebelum rusak, cari Tuhan. Jangan kalian merasa sekarang belum waktunya. Kalau tidak mencari Tuhan hari ini, kalian akan tertelan dunia, habis. Biarlah kalian menjadi anak yang merupakan hadiah Tuhan untuk mama papamu. Berkelakuan baik, hormat orangtua, kerja keras.  Coba kita perkarakan, sejatinya, “apakah saya percaya Tuhan?” Dan, apakah Tuhan merasa bahwa Ia dipercayai oleh kita? Jangan sampai kita tidak pernah mempersoalkan hal ini. Sebagaimana kita juga punya pengalaman yang sama dengan seseorang. Terutama ketika kita ingin berbisnis dengannya, maka perlu ada rasa saling percaya. Percaya bukan hanya keyakinan di dalam pikiran, melainkan suatu tindakan. Harus ada bukti dari percaya kita. Dan kalau kita percaya Tuhan, maka kita harus menuruti kehendak-Nya. Dengan kata lain, kalau kita percaya Tuhan, maka kita harus hidup sesuai apa yang Tuhan kehendaki; berkenan di hadapan Tuhan. Kalau tidak, berarti kita tidak atau belum percaya Tuhan dengan benar. Jangan sampai ketika Tuhan datang atau kita meninggal dunia, kita masih belum atau tidak sanggup fokus mencari Allah. 
more
Meliciki Tuhan
2022/06/17
Allah itu benar-benar hidup dan nyata. Tetapi, tidak banyak orang yang sungguh-sungguh telah mengalami keberadaan Allah. Pada umumnya, orang hanya berteori tentang Allah dari pengetahuannya semata. Dan Allah seperti membiarkan hal ini. Sama dengan banyak orang yang percaya tidak percaya adanya setan atau kuasa kegelapan. Dan kuasa gelap—setan dan roh-roh jahat—itu juga tidak selalu terang-terangan tampil. Apalagi di negara-negara Barat yang semua harus dilogikakan. Segala sesuatu yang tidak terverifikasi atau tidak terbukti ala sains dianggap nonsense, sehingga manusia menjadi rasionalistis. Di sinilah terbangun filsafat nihilistis atau nihilisme. Nihilisme adalah filsafat yang menyatakan bahwa Allah atau dewa-dewa itu tidak ada atau tidak perlu ada. Sehingga tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mau ekstrem untuk mengalami Tuhan. Biasanya terbentur pada satu titik, dan tidak mau meneruskan perjuangan untuk mengalami Tuhan.  Sebab ketika seseorang berjuang untuk mau mengalami Tuhan, dia melihat bahwa orang yang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan, sepertinya sama saja dengan dirinya. Dan Allah sepertinya sukar diraih, sukar dicapai. Padahal kalau kita melihat dunia kegelapan, orang yang mencari ilmu kesaktian, kekebalan tubuh, kedigdayaan, mereka mencari kuasa gelap, itu pun tidak mudah. Namun ada orang yang betul-betul nekat. Puasa, tidur di kuburan, pergi ke tempat keramat masuk hutan berminggu-minggu, sampai berbulan-bulan, makan dedaunan. Dan kenyataannya, mereka bisa bertemu dengan kuasa-kuasa tertentu. Tidak mudah juga ternyata untuk mendapatkan kanuragan; ilmu kesaktian atau apa pun namanya. Jadi, ada orang yang setengah-setengah; kesaktiannya setengah-setengah atau tidak mendapatkan sama sekali. Tapi ada yang nekat, gila-gilaan, sungguh-sungguh, maka dia juga bisa mendapatkan kesaktian yang sungguh-sungguh juga.  Allah kita bukan Allah yang murahan. Allah melihat seberapa kita memiliki kesungguhan untuk mencari Dia. Dan harga untuk menemukan Allah adalah segenap hidup kita. Sejatinya, “segenap hidup” kita kalau dihargai, itu pun belum cukup untuk membayar harga menemukan Allah. Tetapi di dalam kemurahan-Nya, Allah mau ditemukan. Walaupun harga yang dipersembahkan itu belumlah memadai, belumlah cukup. Di Lukas 14 Tuhan Yesus berkata, “hitung dulu anggarannya kalau kamu mau ikut Aku,” artinya hitung dulu anggarannya, berapa harga yang kita harus bayar untuk menemukan Allah. “Sebab Akulah jalan;” hodosh. “Akulah kebenaran;” truth; alitheia, “dan Akulah hidup;” zoe; hidup yang berkualitas. “Tidak seorangpun sampai kepada Bapa, kecuali melalui Aku.” Harus melalui Yesus. Berapa harganya? Paulus mengatakan dalam Filipi 3:7-9, “aku melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Segenap hidup. Ini terkait dengan Matius 19, ketika orang kaya berkata, “Tuhan, aku mau memperoleh hidup yang kekal.” Tuhan berkata, “kamu tahu berapa harganya? Segenap hidupmu.” “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datanglah ke mari, ikutlah Aku.” Tapi orang itu tidak sanggup karena hatinya sudah terpasung, terbelenggu oleh kekayaan.  Tetapi Tuhan kemudian berkata, “Bagi manusia, mustahil. Bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Kalau kamu mau saja, bersedia saja, maka belenggu-belenggu dalam jiwamu tahap demi tahap akan dilepaskan.”  Bersyukur, Tuhan mengerti kita tidak bisa langsung membayar dengan seluruh hidup. Kita perlu proses belajar kebenaran, mengalami Tuhan lewat doa. Sampai akhirnya kita berkata, “segenap hidupku Engkau ambil, Tuhan,” “Engkau gairah hidupku.” Sekarang gairah kita masih macam-macam. Gairah karier, studi, berumah tangga dan lain sebagainya. Bukan tidak boleh studi, karier atau berumah tangga, tapi semua kita lakukan untuk Tuhan. Bayangkan seandainya kita sekarang berada di ujung maut, sekarat, dan pasti mati, jangan-jangan saat itu kita baru berani berkata, “Tuhan, kuserahkan hidupku kepada-Mu.” Tapi itu tidak bisa
more
Menikmati Dunia
2022/06/16
Masalah penting yang harus kita tahu adalah bagaimana menempatkan segala hal pada tempatnya. Kuncinya terletak pada berapa harga atau nilai yang diberikan kepada Tuhan. Ini masalah value dan price (nilai dan harga). Selama ini banyak orang berpikir seakan-akan sudah menghargai Tuhan atau memberi nilai yang pantas, padahal belum atau tidak sama sekali. Kalau hanya beragama dan melakukan kegiatan agama belum tentu sudah menghargai Tuhan secara pantas. Mengapa banyak orang sulit menurunkan harga terhadap dunia ini agar dapat menghargai Tuhan secara pantas? Sebab hal memberi nilai terhadap segala hal di dunia ini bukan hanya menyangkut pengertian (walau ini sangat penting dan menentukan), tetapi juga menyangkut “taste” atau cita rasa jiwa.  Sama seperti kalau seseorang sudah menyukai satu jenis makanan sejak kecil, maka sangat sulitlah merubah taste atau cita rasa lidahnya. Mengubah kebiasaan menyukai satu jenis makanan membutuhkan waktu dan perjuangan yang berat. Inilah yang menjadi penyebab mengapa orang sulit menurunkan berat badannya. Seorang yang terkena penyakit diabetes miletus, harus mengubah pola makannya. Kalau tertumbuk pada jenis makanan yang berkadar manis tinggi, maka harus memandang bahwa itu racun bagi dirinya. Ini sama dengan seorang yang kadar kolesterolnya tinggi, setiap kali bertemu dengan makanan yang berkadar kolesterol tinggi, maka harus memandang sebagai makanan yang berbahaya bagi dirinya. Pola pikirnya yang diubah dulu, maka cita rasa lidahnya juga akan diubah.  Banyak orang yang tidak mau mengubah pola berpikirnya karena memanjakan diri. Ia berkata bahwa dirinya tidak bisa makan sayuran. Yang lain menyatakan bahwa ia tidak bisa minum kalau tidak manis. Mereka tidak peduli apakah itu membahayakan dirinya atau tidak. Akhirnya, hal cita rasa lidah ini menjadi ikatan yang tidak mudah dilepaskan.  Mengubah cita rasa lidah saja tidak mudah, apalagi kalau cita rasa jiwa, tentu saja jauh lebih sulit. Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup adalah cita rasa jiwa yang harus digantikan dengan cita rasa jiwa yang benar, yaitu melakukan kehendak Bapa atau memuaskan hati-Nya (1Yoh. 2:15-17). Ini yang dimaksud dengan kasih akan Bapa.  Keinginan daging selain soal makan minum juga soal seks. Keinginan mata menyangkut hasrat ingin memiliki apa yang orang lain miliki. Sedangkan keangkuhan hidup menunjuk pada kenikmatan dipuji dan dihormati orang lain. Kita harus memandang keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup sebagai sesuatu yang membahayakan. Lebih tegasnya dipandang sebagai racun. Kita tidak bisa mengalami perubahan cita rasa jiwa ini secara otomatis. Perubahan ini bisa terjadi hanya melalui usaha yang benar-benar serius dan dengan segala pengorbanan. Pada dasarnya, berhala sama artinya dengan allah yang arti sempitnya adalah objek yang disembah dan dipuja. Kalau objek itu adalah Tuhan semesta alam, maka disebut sebagai Allah; tetapi untuk objek yang lain disebut berhala.  Jadi siapakah allah bagi seseorang dialah berhalanya atau siapakah berhala seseorang dialah allahnya. Kata berhala dalam teks Ibrani ada beberapa, di antaranya yang sering digunakan adalah elil (אֱלִיל), yang artinya nought (tidak ada hasil), tidak mencukupi (insufficiency), tidak bernilai (worthlessness). Dalam teks bahasa Yunani untuk kata berhala adalah idololatres (εἰδωλολάτρης). Idololatres bertalian dengan kata latria (λατρεία), yang artinya pengabdian atau pelayanan. Dalam hal ini berhala adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang untuk melakukan pengabdian atau pelayanan. Adapun pengertian berhala dalam arti luas adalah sesuatu atau satu pribadi yang dianggap paling berharga sebab mendatangkan kesenangan atau kebahagiaan, keuntungan dan keamanan. Tentu saja berhala bagi seseorang adalah pusat kehidupan di mana seseorang bergantung dan jiwanya melekat.  Seseorang tidak akan merasa lengkap tanpanya. Kehidupan ini akan menjadi sepi dan kosong tanpanya.
more

Podcast Reviews

Read Truth Daily Enlightenment podcast reviews

5 out of 5
2 reviews

PODCAST SPONSORSHIP ADVERTISING

Start advertising on Truth Daily Enlightenment & relevant audience podcasts

What do you want to advertise?

In what period are you looking for the advertisement to be published?

Do you already have an advertisement or sponsorship message?

Do you want to get promoted on more relevant podcasts?

What's your campaign budget?

Business Details