
Advertise on podcast: Sajak Kini
This podcast has
131 episodes
Language
IndonesianPublisher
Sajak KiniExplicit
No
Date created
2020/05/26
Latest episode
2026/05/11
Average duration
6 min.
Release period
8 days
Description
Podcast Sajak Kini adalah sebuah sajak tercipta yang selalu berangkat dari kegelisahan dan gelisah harus di sampaikan melalui akun @podcastdajakkini yang rutin tayang setiap hari Sabtu | Jika Ingin ceritamu di buatkan literasi, tapi tak ingin rahasianya diketahui, ingin sekedar curhat atau meluapkan kegelisahan, kirim segera cerita menarikmu. Email : [email protected] Instagram : @podcastsajakkini
Unlock Sajak Kini podcast Email contact info,
Listeners & Audience details
Email contact information
Direct podcast contact details

Listeners
Audience numbers & engagement insights

Audience details
Podcast Insights

Podcast episodes
Check latest episodes from Sajak Kini podcast
Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu
2026/05/11
✨ Sajak Kini – “Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu”
Semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika orang lain terlihat sudah sampai ke tujuan, sementara kita masih sibuk memahami arah sendiri. Pertanyaan tentang pekerjaan, rencana, dan masa depan kadang terasa menyesakkan—bukan karena tidak punya mimpi, tetapi karena proses setiap orang memang berbeda.
Di fase ini, kita belajar menerima bahwa belum berhasil bukan berarti gagal. Tetap bangun, tetap mencoba, dan tetap bertahan juga bagian dari perjalanan yang sering tidak terlihat. Tidak menjadi siapa-siapa dulu bukan hal yang memalukan, melainkan ruang untuk tumbuh pelan-pelan tanpa harus terburu-buru menjadi sempurna.
Dan kalau hari ini kamu masih berada di fase “belum”, tidak apa-apa. Kamu tidak tertinggal. Kamu hanya sedang berjalan dengan ritmemu sendiri.
🎧 Sajak Kini – “Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Riky Yulianto
Di Balik Papan Tulis yang Sunyi
2026/05/02
✨ Sajak Kini – “Di Balik Papan Tulis yang Sunyi”Tidak semua perjuangan datang dengan sorotan. Ada yang berlangsung diam-diam, setiap hari, di ruang kelas sederhana—di mana satu suara terus hadir, menjelaskan, mengulang, dan bertahan, meski tidak selalu didengar. Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tapi tentang memahami bahwa setiap anak datang dengan cara yang berbeda. Di situlah kesabaran bekerja, pelan-pelan, tanpa banyak suara. Ada lelah yang tidak selalu terlihat—tentang pulang dengan suara yang habis, tentang pikiran yang tetap tinggal di kelas bahkan setelah hari selesai. Namun di balik itu, ada harapan-harapan kecil yang terus dijaga: satu anak yang mulai mengerti, satu perubahan yang mungkin tampak biasa bagi orang lain, tapi berarti besar bagi mereka yang memilih untuk tetap percaya.Tidak semua usaha langsung terlihat hasilnya. Ada pelajaran yang baru dipahami bertahun-tahun kemudian, ada nasihat yang baru terasa ketika waktu sudah berjalan jauh. Dan mungkin, saat itu, guru tidak lagi ada di sana—tapi jejaknya tetap tinggal, dalam cara berpikir, dalam sikap, dalam keputusan-keputusan kecil yang membentuk hidup seseorang. Menjadi guru adalah tentang menanam tanpa tahu kapan akan tumbuh, memberi tanpa selalu menerima kembali. Namun mereka tetap datang, membuka buku, menyapa kelas, dan melanjutkan apa yang sudah dimulai. Karena bagi mereka, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekadar kalimat—melainkan sesuatu yang dijalani, perlahan, setiap hari.🎧 Sajak Kini – “Di Balik Papan Tulis yang Sunyi”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Miftah Alfiah Ulum
Memaafkan Diri yang Pernah Salah
2026/04/24
✨ Sajak Kini – “Memaafkan Diri yang Pernah Salah”
Semakin dewasa, kita makin lihai menyimpan kesalahan—bukan kesalahan orang lain, melainkan milik kita sendiri yang diam-diam terus diingat, terutama saat malam terlalu sunyi. Kita mudah berkata “tidak apa-apa” pada orang lain, mudah memahami dan memaklumi mereka, namun saat berhadapan dengan diri sendiri, kita berubah menjadi hakim yang paling keras—mengulang-ulang kejadian lama, menyesali pilihan, dan terjebak pada kalimat “seharusnya” yang tak pernah selesai. Ada rasa malu yang tidak pernah diceritakan, penyesalan yang disimpan rapi di balik senyum, sementara hidup tetap berjalan seperti biasa.
Dewasa akhirnya mengajarkan bahwa terus-menerus menyalahkan diri sendiri tidak membuat segalanya membaik. Ada titik di mana kita perlu berhenti dan bertanya: berapa lama lagi kita akan menghukum diri sendiri? Karena memaafkan diri bukan tentang melupakan, melainkan memahami bahwa kita pernah melakukan yang terbaik dengan versi diri kita saat itu—yang sedang belajar, bukan sengaja menyakiti. Pelan-pelan, kita belajar berbicara lebih lembut pada diri sendiri, hingga akhirnya ada kelegaan kecil saat kita berani berkata: aku boleh salah, aku boleh lelah, aku boleh belum selesai—dan dunia tidak runtuh karenanya.
🎧 Sajak Kini – “Memaafkan Diri yang Pernah Salah”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati
Tunggu Aku Sukses Nanti
2026/04/18
✨ **Sajak Kini – “Tunggu Aku Sukses Nanti”**
Ada fase dalam hidup ketika kita tidak banyak bicara—bukan karena kehilangan mimpi, tapi karena sedang sibuk mengejarnya. Semakin dewasa, kita mulai mengenal diam yang penuh arti: bekerja tanpa banyak pengakuan, jatuh tanpa banyak diketahui, dan bangkit tanpa perlu diumumkan. Dulu kita ingin dimengerti, didengar, dan diakui, tapi sekarang kita lebih memilih menyimpan banyak hal sendiri, karena tidak semua perjalanan butuh penonton. Menjadi dewasa ternyata bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang bertahan—tentang tetap bangun meski lelah belum selesai, tetap melangkah meski arah kadang terasa kabur. Ada hari-hari ketika kita merasa tertinggal, melihat orang lain sudah sampai lebih dulu, sementara kita masih berjalan di tempat yang sama. Tapi entah kenapa, langkah ini tetap bergerak—pelan, namun tidak berhenti.
Di dalam diam itu, ada satu kalimat yang terus kita ulang: *“tunggu aku sukses nanti.”* Bukan untuk membalas siapa-siapa, melainkan sebagai janji kecil pada diri sendiri—bahwa semua lelah dan jatuh ini tidak sia-sia. Perjalanan ini memang tidak selalu indah; ada ragu, takut, dan malam-malam panjang yang hanya diisi oleh pikiran sendiri. Namun justru di situlah kita belajar bahwa kekuatan tidak selalu terlihat, dan orang yang tampak biasa saja bisa saja sedang membawa mimpi yang luar biasa. Jika hari ini kamu masih berjuang dan merasa jauh dari tujuan, ingatlah: kamu tidak tertinggal, kamu hanya sedang berada di jalurmu sendiri. Dan selama kamu masih bertahan, masih mencoba, dan masih percaya—itu sudah cukup. Suatu hari nanti, kamu akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa kamu tidak pernah benar-benar berhenti.
🎧 **Sajak Kini – “Tunggu Aku Sukses Nanti”**
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Miftah Alfiah Ulum
Bertahan Tanpa Tepuk Tangan
2026/04/10
✨ Sajak Kini – “Bertahan Tanpa Tepuk Tangan”
Semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa tidak semua perjuangan datang dengan sorotan. Ada hari-hari yang berjalan diam-diam—tanpa penonton, tanpa pengakuan—ketika kita tetap bangun, menjalani peran, dan menjawab “baik” meski hati sedang menahan banyak hal. Tidak semua keberanian terlihat seperti kemenangan besar; kadang ia hanya berupa keputusan kecil untuk tidak menyerah hari ini. Dewasa mengajarkan bahwa bertahan di hari-hari sunyi pun adalah bentuk keberanian. Dan meski dunia tidak selalu memberi tepuk tangan, setiap langkah yang kamu jaga tetaplah berarti.
🎧 Sajak Kini – “Bertahan Tanpa Tepuk Tangan”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati
Waktu yang Mengubah Cara Mencintai
2026/04/03
✨ Sajak Kini – Waktu yang Mengubah Cara Mencintai
Semakin dewasa, kita mulai menyadari bahwa cinta tidak lagi datang dengan tergesa. Ada hati yang kini belajar berjalan pelan, bukan karena kurang rasa, tetapi karena sudah tahu betapa sakitnya jatuh terlalu cepat. Dulu kita mencintai dengan gegabah, memberi segalanya tanpa sempat bertanya apakah kita juga dijaga. Kita percaya bahwa rasa saja cukup, bahwa niat baik pasti berbalas baik—meski pada akhirnya tidak selalu demikian. Dari luka, dari janji yang tak sempat ditepati, dan dari perpisahan yang sunyi, kita mulai belajar menahan diri, bukan untuk menjauh, melainkan untuk melindungi.
Kini, cara kita mencintai berubah menjadi lebih tenang dan sadar. Kita lebih hati-hati memilih, lebih pelan membuka diri, dan lebih selektif memberi ruang—bukan karena takut mencinta, tapi karena mengerti bahwa cinta yang baik tidak membuat kita kehilangan diri sendiri. Kita tidak lagi mencari yang paling menggebu, melainkan yang konsisten hadir, yang tetap tinggal bahkan saat keadaan tidak sempurna. Karena pada akhirnya, mencintai tidak harus melelahkan. Cinta bisa tumbuh pelan, tanpa drama, tanpa rasa cemas yang terus-menerus. Dan jika kita memilih mencintai lagi, itu bukan karena lupa pada luka, tetapi karena kita sudah berdamai dengannya—membiarkan waktu menjadikan cinta lebih jujur, dan lebih aman untuk ditinggali.
🎧 Sajak Kini – “Waktu yang Mengubah Cara Mencintai”
✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara: Rizqa Fajria
Tetap Lembut di Dunia yang Keras
2026/03/29
✨ Sajak Kini – Tetap Lembut di Dunia yang Keras
Semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa dunia tidak selalu ramah. Ada hari-hari di mana bersikap keras terasa lebih aman, lebih melindungi, apalagi setelah luka, kecewa, dan harapan yang berkali-kali jatuh di tengah jalan. Pelan-pelan kita membangun dinding, menjaga jarak, bahkan mengurangi rasa—semua demi bertahan. Dunia pun seakan mengajarkan hal yang sama: untuk cepat, tegas, dan tidak terlalu peduli. Menang terasa lebih penting daripada mengerti, terlihat kuat lebih dihargai daripada jujur merasa, sampai kita hampir percaya bahwa menjadi lembut adalah sebuah kelemahan.
Padahal, tetap lembut justru adalah bentuk keberanian yang tidak semua orang mampu. Berani tetap peduli meski pernah disakiti, berani tetap merasa meski tahu risikonya nyata, dan memilih tidak membalas kerasnya dunia dengan cara yang sama. Menjadi lembut bukan berarti membiarkan diri disakiti, tetapi tentang tidak kehilangan diri sendiri di tengah luka yang datang. Mungkin ada hari di mana empati terasa melelahkan, tapi di situlah kita sedang menjaga bagian paling jujur dari diri kita. Karena pada akhirnya, dunia mungkin tidak berubah, tapi kita selalu punya pilihan untuk tetap lembut—dan itu adalah keberanian yang paling sunyi, sekaligus paling berarti.
🎧 Sajak Kini – “Tetap Lembut di Dunia yang Keras”
✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara: Rizqa Fajria
Rindu yang Tidak Dicari Obatnya
2026/03/13
✨ Sajak Kini – “Rindu yang Tidak Dicari Obatnya”
Semakin dewasa, kita mulai mengenal rindu dengan cara yang berbeda. Ia tidak selalu datang dengan keinginan untuk kembali, tidak pula selalu ingin dipenuhi. Kadang rindu muncul begitu saja—saat sebuah lagu lama terdengar tanpa sengaja, saat melewati jalan yang dulu terasa akrab, atau ketika sebuah percakapan lama tiba-tiba terulang di kepala. Ia tidak mengetuk, tidak meminta izin; hanya hadir pelan dan duduk diam di sudut hati. Ada wajah yang tidak lagi kita cari, namun masih kita kenali di ingatan. Dulu kita mengira setiap rindu harus disembuhkan, harus dicari ujungnya dan diberi jawaban. Tapi waktu mengajarkan bahwa sebagian rindu tidak datang untuk diselesaikan—ia hanya ingin diakui keberadaannya.
Dan di situlah dewasa bekerja: kita belajar hidup berdampingan dengan rindu tanpa harus mengejarnya kembali. Kita tidak selalu ingin bertemu lagi, tidak selalu ingin mengulang semuanya; kadang kita hanya ingin tahu bahwa apa yang pernah ada itu nyata. Bahwa kebahagiaan pernah singgah, meski tidak menetap. Rindu lalu menjadi cara kita menerima jarak—bahwa tidak semua yang berarti harus dimiliki selamanya. Jika hari ini kamu merindukan sesuatu tanpa ingin kembali ke sana, tidak apa-apa. Tidak semua rindu butuh obat; sebagian hanya ingin dirasakan sebentar, sebelum akhirnya pergi dengan sendirinya.
🎧 Sajak Kini – “Rindu yang Tidak Dicari Obatnya”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Riky Yulianto
Teman yang Tidak Lagi Setiap Hari
2026/03/06
✨ Sajak Kini – “Teman yang Tidak Lagi Setiap Hari”
Semakin dewasa, kita mulai menyadari bahwa yang berubah bukan hanya waktu, tapi juga cara kita menjaga pertemanan. Dulu ada nama yang selalu berada di urutan teratas daftar chat—bertemu tanpa rencana, bercerita tanpa batas, tertawa tanpa melihat jam. Kita merasa waktu selalu cukup, dan kedekatan akan selamanya terasa seperti itu. Lalu hidup berjalan; pekerjaan datang, tanggung jawab bertambah, dan waktu tak lagi bebas dimiliki. Obrolan panjang berubah jadi pesan singkat, tawa lepas berganti emoji, dan rindu sering kali ditunda karena sama-sama lelah—bukan karena tak peduli, justru karena terlalu mengerti bahwa masing-masing sedang berjuang.
Namun dewasa mengajarkan bahwa tidak semua kedekatan harus hadir setiap hari untuk tetap berarti. Ada pertemanan yang bertahan lewat pengertian, bukan intensitas; tidak lagi ramai, tapi lebih tenang—tidak lagi sering, tapi tetap hangat. Jika hari ini kamu merindukan teman yang dulu selalu ada, tidak apa-apa. Tidak semua jarak adalah perpisahan; sebagian hanya tanda bahwa kita sedang tumbuh ke arah yang berbeda, tanpa benar-benar saling meninggalkan.
🎧 Sajak Kini – “Teman yang Tidak Lagi Setiap Hari”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati
Pulang, Tanpa Harus ke Mana-Mana
2026/02/27
✨ Sajak Kini – “Pulang, Tanpa Harus ke Mana-Mana
Semakin dewasa, kita sadar pulang bukan soal alamat—melainkan rasa. Rasa aman. Rasa diterima. Rasa tidak perlu menjelaskan kenapa kita berubah.
Ternyata pulang bisa sesederhana duduk sendirian tanpa rasa bersalah, mematikan notifikasi tanpa alasan, dan berkata dalam hati, “Aku cukup seperti ini.”
Kalau hari ini kamu ingin berhenti sejenak dan tidak ke mana-mana, tidak apa-apa. Mungkin kamu hanya sedang pulang.
🎧 Sajak Kini – “Pulang, Tanpa Harus ke Mana-Mana”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa
Diri Sendiri yang Pelan-Pelan Berubah
2026/02/21
✨ Sajak Kini – “Diri Sendiri yang Pelan-Pelan Berubah”
Semakin dewasa, kita sering berhenti di depan cermin—bukan untuk memastikan penampilan, tapi untuk bertanya, “Sejak kapan aku jadi seperti ini?” Dulu kita lebih mudah tertawa, lebih berani bermimpi, yakin hidup akan mengikuti mau kita. Lalu hidup memberi jeda. Ada rencana yang gagal, ada orang yang pergi tanpa penjelasan. Kita belajar menahan kata, menurunkan ekspektasi, menyimpan banyak hal sendiri—bukan karena tak peduli, tapi karena terlalu sering kecewa.
Namun dewasa mengajarkan sudut pandang yang berbeda. Diam bisa jadi bentuk kehati-hatian. Tenang bisa jadi tanda belajar. Kita tidak kehilangan diri, hanya sedang menjadi lebih sadar tentang apa yang layak diperjuangkan dan apa yang harus dilepas. Jika hari ini kamu merasa asing dengan dirimu sendiri, tidak apa-apa. Kamu tidak hilang—kamu hanya sedang bertumbuh, dengan cara yang lebih sunyi.
🎧 Sajak Kini – “Diri Sendiri yang Pelan-Pelan Berubah”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati
Capek yang Tidak Perlu Dijelaskan
2026/02/14
✨ Sajak Kini – “Capek yang Tidak Perlu Dijelaskan”
Di usia dua puluh sampai tiga puluh, kita mulai mengenal jenis lelah yang tidak terlihat. Bukan lelah karena kurang tidur, bukan juga karena pekerjaan yang menumpuk. Tapi lelah karena terlalu sering menahan perasaan, terlalu lama berusaha terlihat kuat, dan terlalu jarang benar-benar didengarkan. Kita tetap bangun pagi, menjalani rutinitas yang sama, tersenyum di tempat yang sama—meski di dalam hati ada beban yang sulit dijelaskan.
Capek ini tidak selalu dramatis. Ia tidak datang dengan tangis keras atau cerita panjang. Ia hanya hadir diam-diam, mengisi ruang kecil di kepala yang biasanya kita abaikan. Capek karena harus kuat. Capek karena harus mengerti. Capek karena harus terlihat baik-baik saja di depan banyak orang. Dan tidak semua lelah perlu diterangkan panjang lebar—kadang cukup kita sendiri yang tahu bahwa hari ini kita tidak apa-apa, tapi juga belum sepenuhnya baik.
Padahal capek bukan tanda gagal. Ia hanya tanda bahwa kita sedang berjalan jauh. Bahwa kita sudah berusaha sejauh yang kita mampu, dengan versi diri yang kita punya hari ini. Kalau hari ini kamu merasa lelah tanpa tahu harus menjelaskannya ke siapa, tarik napas pelan-pelan. Berhenti sebentar tidak apa-apa. Kamu tidak harus kuat setiap waktu. Ada capek yang tidak perlu dijelaskan—cukup diakui, dan dibiarkan beristirahat.
🎧 Sajak Kini – “Capek yang Tidak Perlu Dijelaskan”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa
Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Akan Tinggal
2026/02/08
✨ Sajak Kini – Tentang Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Akan Tinggal
Semakin dewasa, kita mulai mengerti bahwa tidak semua orang yang datang akan tinggal. Teman yang dulu dekat pelan-pelan menjauh, percakapan yang dulu hangat kini terasa asing, dan hubungan-hubungan yang dulu penting perlahan kehilangan bentuknya. Bukan karena kita atau mereka menjadi buruk, tetapi karena hidup terus bergerak, dan tidak semua orang tumbuh ke arah yang sama.
Kehilangan memang terasa sunyi, tapi sering kali justru memberi ruang: ruang untuk mengenal diri sendiri, memilih hubungan yang lebih sehat, dan berhenti memaksakan kehadiran yang tidak lagi saling menguatkan. Tidak semua yang pergi adalah kegagalan—sebagian hanya selesai, dengan caranya sendiri, dan diam-diam membawa kita lebih dekat kepada diri kita yang sebenarnya.
🎧 Sajak Kini – “Tentang Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Akan Tinggal"
✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara: Rizqa Fajria
Diam-Diam Kita Sudah Bertumbuh
2026/01/31
Kita sering merasa hidup hanya berjalan begitu saja, sibuk, lalu lupa melihat diri sendiri. Padahal di balik hari-hari biasa itu, kita sedang berubah: belajar menahan amarah, memilih tenang, dan memaafkan demi hati yang lebih damai. Di situlah kedewasaan tumbuh, pelan dan sunyi.
Mungkin tak terlihat, tapi lihat caramu kini menjaga diri, memilih yang sehat, dan tetap bertahan. Kamu tidak berhenti di tempat. Kamu sedang tumbuh—pelan, pasti, dan dengan cara yang indah.
🎧 Sajak Kini – “Diam-Diam Kita Sudah Bertumbuh”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Dinda Rahmatya
Insecure yang Tidak Pernah Kita Ceritakan
2026/01/23
✨ Sajak Kini – “Insecure yang Tidak Pernah Kita Ceritakan”
Di usia dua puluh sampai tiga puluh, kita sering hidup dengan perasaan “harusnya sudah lebih jauh”. Insecure datang pelan-pelan—saat melihat pencapaian orang lain, mendengar kabar teman seangkatan, atau menerima komentar tentang usia dan hidup yang terasa belum ke mana-mana. Kita tersenyum di luar, tapi di dalam kepala ada suara yang bertanya apakah kita tertinggal, apakah kita cukup, apakah semua usaha ini akan benar-benar sampai ke sesuatu.
Padahal hampir semua orang menyimpan kecemasannya sendiri. Insecure bukan kelemahan, melainkan tanda bahwa kita ingin hidup ini berarti. Bahwa kita masih peduli dan ingin bertumbuh. Perjalanan tidak harus cepat, tidak harus sama dengan siapa pun. Kalau hari ini kamu merasa tertinggal, tarik napas pelan-pelan—kamu sedang berjalan di ritmemu sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup.
🎧 Sajak Kini – “Insecure yang Tidak Pernah Kita Ceritakan”
✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari
🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa
Podcast reviews
Read Sajak Kini podcast reviews
Podcast sponsorship advertising
Start advertising on Sajak Kini relevant audience podcasts
You may also like to advertise on these Podcasts

4.922732003
First15 Devotional
First15

4.917101564
DarrenDaily On-Demand
Darren Hardy LLC

4.721771394
Motivation Daily by Motiversity
Motiversity

4.6137831999
The Rubin Report
Dave Rubin

4.732721977
The President's Daily Brief
The First TV

4.920431996
Brant & Sherri Oddcast
Brant Hansen

4.629942059
Optimal Living Daily - Personal Development and Self-Improvement
Justin Malik

4.813862000
Daily Tech News Show
Tom Merritt

4.847102000
Pat Gray Unleashed
Blaze Podcast Network

511861059
Somos Los Pichy Boys
Sonoro | Los Pichy Boys