
Advertise on podcast: Mongabay Indonesia Podcast
This podcast has
35 episodes
Language
IndonesianPublisher
Mongabay IndonesiaExplicit
No
Date created
2020/07/11
Latest episode
2026/02/02
Average duration
41 min.
Release period
17 days
Description
Bicara soal alam
Unlock Mongabay Indonesia Podcast podcast Email contact info,
Listeners & Audience details
Email contact information
Direct podcast contact details

Listeners
Audience numbers & engagement insights

Audience details
Podcast Insights

Podcast episodes
Check latest episodes from Mongabay Indonesia Podcast podcast
Mongabay Snaps: Cerita dari Spesies Terancam hingga Warga Melawan
2026/02/02
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
Mongabay Snaps: 10 Artikel Pilihan Pembaca Tahun 2025
2026/01/09
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
Mongabay Snaps:
2025/12/19
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
Habitat yang Tak Pernah Tercatat: Mengungkap Populasi Orangutan di Tempat Tak Terduga
2025/12/15
Hutan Lumut selama ini hanya dipandang sebagai hamparan gambut biasa di pinggiran lanskap besar Sumatra, jauh dari pusat perhatian konservasi. Namun sebuah penemuan lapangan mengubah cara pandang itu: orangutan Tapanuli ternyata hidup dan bertahan di sana, di luar kawasan utama Batang Toru yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya rumah mereka.
Di tengah pepohonan gambut yang lembap dan sunyi di Desa Lumut Maju, jejak kehadiran orangutan Tapanuli menyingkap kemampuan adaptasi yang tak banyak diketahui. Mereka tidak hanya hidup di hutan pegunungan yang rapat dan sejuk, tetapi juga mampu bertahan di ekosistem yang sangat berbeda, dengan struktur vegetasi, ketersediaan pakan, dan tantangan ekologis yang lain sama sekali. Cerita ini menggugurkan anggapan lama bahwa spesies ini memiliki toleransi habitat yang sempit, sekaligus memperlihatkan betapa pengetahuan manusia tentang alam masih penuh celah.
Namun kisah ini bukan hanya tentang penemuan, melainkan juga tentang kerentanan. Berbeda dengan Batang Toru yang memiliki status konservasi lebih jelas, Hutan Lumut berada di ruang abu-abu: kawasan tanpa perlindungan formal, rawan pembukaan lahan, tumpang tindih kepentingan, dan minim pengawasan. Di sinilah orangutan harus berbagi ruang dengan aktivitas manusia, menghadapi risiko perburuan, konflik, dan fragmentasi habitat yang bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Temuan ini menjadi titik awal diskusi mendalam melalui program Bincang Alam yang digelar Mongabay Indonesia bersama Syafrizaldi Jpang, Direktur Eksekutif Orangutan Information Centre (OIC), yang membuka kisah tentang habitat yang luput dari peta, data, dan kebijakan.
Mongabay Snaps: Di Tengah Krisis Ekologi, Warga Bergerak dan Melawan
2025/12/12
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
Mongabay Snaps: Lima Cerita Kerentanan di Tengah Geliat Pembangunan
2025/12/05
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
Mongabay Snaps: Perebutan Ruang Hidup Atas Nama Pembangunan
2025/11/28
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
2025/11/21
Mongabay Snaps merupakan program berupa live instagram secara spontan setiap minggunya, pada Jumat pukul 16.00. Program ini akan membahas lima artikel dalam sepekan.
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
2025/11/14
Mongabay Snaps merupakan program berupa live instagram secara spontan setiap minggunya, pada Jumat pukul 16.00. Program ini akan membahas lima artikel dalam sepekan.
Menyiapkan Suara Masyarakat Sipil Indonesia untuk COP30 Brasil
2025/11/07
Konferensi Para Pihak (COP) selalu menjadi pertemuan besar yang mempertemukan berbagai kepentingan: politik, ekonomi, dan lingkungan. Isu perubahan iklim terus menjadi perhatian global, terutama menjelang Konferensi Para Pihak (COP30) yang akan digelar di Belém, Brasil, pada November 2025. Forum ini diharapkan menjadi momentum penting bagi negara-negara dunia untuk memperkuat komitmen pengurangan emisi, meninjau hasil Global Stocktake dari COP sebelumnya, serta menegaskan langkah konkret menuju transisi energi yang berkeadilan.
Menjelang COP30 juga, berbagai organisasi masyarakat sipil tengah bersiap memperkuat posisi dan kontribusi Indonesia dalam forum global tersebut, salah satunya Madani Berkelanjutan (Madani). Bagi Madani, kehadiran masyarakat sipil di forum ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan narasi. Lembaga ini berfokus pada tata kelola guna lahan yang berkelanjutan, serta mendorong percepatan transisi menuju energi terbarukan dan pembangunan rendah karbon. Keberlanjutan tidak bisa hanya diukur dari target emisi, tetapi juga dari sejauh mana perubahan itu menghadirkan keadilan sosial dan ekonomi bagi masyarakat di akar rumput.
Dalam persiapan menuju COP30 di Brasil, Madani bersama koalisi masyarakat sipil menyerukan tiga tuntutan utama, sebagai langkah menuju masa depan yang lebih berkeadilan bagi planet ini. Apa saja tuntutan tersebut? Simak diskusi bersama Nadia Hadad yang merupakan Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan sebagai narasumber dalam episode "Bincang Alam" yang membahas bagaimana agenda COP30 dapat mencakup mitigasi, adaptasi, dan mekanisme pasar karbon yang dapat selalu dikawal agar berpihak pada lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar kepentingan bisnis global.
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
2025/11/01
Mongabay Snaps merupakan program berupa live instagram secara spontan setiap minggunya, pada Jumat pukul 16.00. Program ini akan membahas lima artikel dalam sepekan.
Teknologi Genomik Pelacak DNA Satwa Laut: Inovasi Pelacakan Akurat untuk Produk Perikanan
2025/10/27
Inovasi terbaru di bidang perikanan menunjukkan bahwa di balik sepiring hasil laut yang kita nikmati, tersembunyi tantangan besar terkait keaslian spesies dan keberlanjutan ekosistem. Tim riset dari IPB University di bawah kepemimpinan Prof. Asadatun Abdullah telah mengembangkan teknologi genomik bernama "Hi‑Par Meter" dan "True Portunus" yang memungkinkan identifikasi spesies laut (khususnya hiu, pari, dan rajungan) dengan cepat, bahkan dari produk olahan yang sudah sulit dikenali morfologinya.
Kedua alat ini memanfaatkan teknik DNA barcoding, PCR, LAMP dan teknologi sequencing untuk mendeteksi spesies secara akurat dan portabel, sehingga bukan hanya mempermudah industri perikanan, tapi juga memainkan peran penting dalam pelestarian spesies terancam dan pemenuhan regulasi internasional seperti CITES.
Dengan langkah ini, kita melihat persimpangan penting antara teknologi, keamanan pangan, kejujuran rantai pasok, dan konservasi laut: bukan hanya soal "apakah ikan ini benar spesies yang tertulis" tetapi juga "apakah cara kita menangkap, mengolah, dan memperdagangkannya ramah lingkungan dan sah".
Simak diskusi mendalam bersama Prof. Asadatun Abdullah sebagai narasumber dalam episode "Bincang Alam" yang membahas bagaimana riset dan invovasi ini bisa diterjemahkan ke lapangan—mulai dari pelabuhan, pasar tradisional hingga ekspor—dalam upaya mewujudkan rantai produk perikanan yang transparan, berkelanjutan, dan bertanggung-jawab.
Foto: Rekam Nusantara Foundation
Danau Sentani: Ruang Hidup, Temuan Arkeologi, dan Penelusuran Jejak Leluhur Papua
2025/10/19
Danau Sentani di Papua bukan sekadar hamparan air yang memesona dari pesawat ketika mendarat di Jayapura. Ia adalah ruang hidup yang memadukan sejarah panjang, kearifan ekologis, dan tradisi budaya yang masih berdenyut hingga kini.
Dari rumah panggung yang terapung di tepian, hutan sagu yang menjadi sumber pangan, hingga lukisan kulit kayu yang merekam jejak leluhur — danau ini menghadirkan kisah keterhubungan manusia dengan alam yang jarang ditemui di tempat lain.
Namun, di balik keindahan ini, terdapat tantangan yang menggerus jantung ekosistem Danau Sentani. Pencemaran dari limbah rumah tangga, beralih fungsi kawasan hutan sagu, serta tekanan pengembangan tambang nikel di pegunungan sekitarnya menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan ekologi dan budaya danau ini.
Simak diskusinya bersama Hari Suroto, Peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam sesi "Bincang Alam" yang membahas masa lalu, tantangan saat ini, dan strategi pelestarian masa depan Danau Sentani.
Konservasi di Tengah Tantangan Fragmentasi Habitat Orangutan Tapanuli
2025/10/16
Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) adalah satu dari kera besar paling langka di dunia, dengan populasi kurang dari 800 individu yang kini tersebar dalam metapopulasi Blok Barat dan Blok Timur di ekosistem Batang Toru. Sebagai spesies endemik dan sangat rentan, mereka menghadapi tekanan berat akibat fragmentasi habitat, terutama dari proyek PLTA, tambang emas, serta ekspansi perkebunan dan infrastruktur.
Meski demikian, adaptasi ekologisnya luar biasa: hidup di elevasi 300–1.300 m di atas permukaan laut, memanfaatkan berbagai sumber pakan alternatif ketika buah langka, dan bertahan dalam kondisi isolasi genetik tinggi. Peran ekologis orangutan Tapanuli sangat penting, mereka menjaga kesehatan hutan melalui penyebaran biji dan menjaga dinamika komunitas tumbuhan.
Namun upaya konservasi tidak hanya soal teknik pelestarian. Konsep koeksistensi (manusia dan satwa hidup berdampingan) menjadi kunci, ketimbang solusi radikal seperti relokasi massal. Dukungan sosial, kebijakan publik, riset genetik dan spasial, serta penguatan kapasitas lokal juga sangat dibutuhkan untuk menjaga integritas populasi dan mencegah degradasi habitat lebih lanjut.
Simak diskusi mendalam bersama Panut Hadisiswoyo, pendiri Yayasan Orangutan Sumatera Lestari / Orangutan Information Centrem sebagai narasumber dalam pembahasan ini, tentang tantangan, peluang, dan makna moral konservasi orangutan Tapanuli di masa depan.
Nikel: Mimpi Orang Kota, Mimpi Buruk Bagi Pulau
2025/06/17
Episode perdana BTS: Berita Tanpa Sensor dari Mongabay Indonesia, jurnalis Lusia Arumingtyas dan Riza Salman membedah realitas getir dari hilirisasi tambang nikel di pulau-pulau kecil Indonesia, khususnya Sulawesi dan Raja Ampat. Bukan sekadar soal logam untuk baterai mobil listrik, ini adalah kisah tentang rusaknya ekosistem, lenyapnya ruang hidup, dan hancurnya harapan warga pulau. Satu baterai mobil listrik setara dengan hilangnya satu hektar kebun cengkeh produktif yang dulunya mampu menghidupi beberapa generasi.
Riza bercerita pengelaman jurnalistiknya yang sangat membekas, mulai dari pencemaran air, anak-anak sakit kulit, mata pencaharian musnah, dan konflik sosial meretakkan keluarga. dia melihat langsung bagaimana pertambangan telah memutuskan generasi. Satu hektar lahan cengkeh produktif, yang dulu bisa menyekolahkan anak-anak dan menghidupi beberapa turunan, kini berubah menjadi debu, lumpur, dan konflik sosial.
"Laut adalah ibu bagi masyarakat pesisir yang oleh perempuan pesisir itu tidak perlu repot untuk mendapatkan sumber pakan ketika air surut ada namanya, meti mereka menangkap Habitat habitat di pesisir itu sudah nggak ada lagi," ujar Riza.
Di tengah semua itu, hukum sering kali hanya jadi formalitas. Secara hukum, pulau-pulau kecil di bawah 2.000 km² tidak boleh ditambang. Namun, celah administratif—penggunaan batas wilayah kecamatan, bukan pulau—dimanfaatkan untuk menerbitkan izin tambang. Misalnya saja saat masyarakat mengugat PT Gema Kreasi Perdana, anak usaha Harita Group di Pulau Wawonii. Lima kali warga Wawonii menang di pengadilan, tapi tambang tetap beroperasi.
Lebih jauh, sedimentasi dari tambang terbukti mencemari laut hingga ratusan kilometer jauhnya, mengancam ekosistem laut Banda yang jadi jantung segitiga karang dunia.
Riza juga menyinggung tentang genosida ekologis terhadap Suku Bajo—masyarakat laut yang kehidupannya sangat bergantung pada ekosistem pesisir. Mereka kehilangan ruang hidup, tidak bisa bertani, dan kini hanya bisa mengandalkan laut yang semakin miskin.
Di sinilah letak ironi besar: energi hijau yang katanya ramah lingkungan justru menghancurkan kehidupan masyarakat lokal.
Di tengah isu Save Raja Ampat yang kini viral, episode ini jadi pengingat bahwa banyak pulau lain yang sunyi dan tanpa sorotan publik tengah mengalami nasib serupa. Kini giliran kita bersuara. Karena kalau kita tak mampu menyelamatkan pulau-pulau kecil, bagaimana bisa kita melindungi negeri ini secara utuh?
Podcast reviews
Read Mongabay Indonesia Podcast podcast reviews
Podcast sponsorship advertising
Start advertising on Mongabay Indonesia Podcast relevant audience podcasts
You may also like to advertise on these Podcasts

4.4371061566
The Megyn Kelly Show
SiriusXM

4.888901269
Fearless with Jason Whitlock
Blaze Podcast Network

4.8118931000
Mind Pump: Raw Fitness Truth
Sal Di Stefano, Adam Schafer, Justin Andrews, Doug Egge

4.8102131585
Tara Brach
Tara Brach

4.541561215
Something You Should Know
Mike Carruthers | OmniCast Media

4.513841343
Strictly Anonymous Confessions
Kathy Kay

4.8292781897
Fantasy Footballers - Fantasy Football Podcast
Fantasy Football

4.62382612
Football Weekly
The Guardian

4.45387666
Two Judgey Girls
Two Judgey Girls

3.8258501152
The Viall Files
Nick Viall