
Advertise on podcast: Mongabay Indonesia Podcast
This podcast has
53 episodes
Language
IndonesianPublisher
Mongabay IndonesiaExplicit
No
Date created
2020/07/11
Latest episode
2026/10/01
Average duration
34 min.
Release period
15 days
Description
Bicara soal alam
Unlock Mongabay Indonesia Podcast podcast Email contact info,
Listeners & Audience details
Email contact information
Direct podcast contact details

Listeners
Audience numbers & engagement insights

Audience details
Podcast Insights

Podcast episodes
Check latest episodes from Mongabay Indonesia Podcast podcast
Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu
2026/10/01
Jejak kehidupan manusia purba tidak hanya tersimpan dalam artefak batu atau lukisan gua. Tulang belulang yang terkubur selama ribuan tahun juga dapat menyimpan informasi genetik tentang asal-usul, migrasi, dan perjumpaan antarpopulasi manusia. Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, DNA purba sangat sulit bertahan karena suhu, kelembapan, air, dan mikroorganisme dapat mempercepat kerusakannya.
Karena itu, temuan rangka perempuan muda di Leang Panninge, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memiliki arti penting. Rangka yang ditemukan pada 2015 tersebut diberi nama Bessé, sebutan yang umum digunakan untuk perempuan dalam masyarakat Bugis. Ia diperkirakan meninggal ketika berusia 17–18 tahun dan hidup sekitar 7.200–7.300 tahun lalu.
Bessé hidup dalam lingkungan budaya Toalean, kelompok pemburu dan peramu yang berkembang di selatan Sulawesi sekitar 8.000 hingga 1.500 tahun lalu. Jejak kebudayaan mereka antara lain terlihat melalui mata panah bergerigi yang dikenal sebagai Maros Point, mikrolit, dan alat dari tulang. Kebudayaan ini sejauh ini hanya ditemukan di wilayah selatan Sulawesi.
Analisis terhadap tulang telinga Bessé berhasil mengungkap DNA yang bertahan selama lebih dari tujuh milenium. Hasilnya memperlihatkan hubungan genetik dengan populasi Papua dan Aborigin Australia, sekaligus jejak percampuran dengan Denisovan, kelompok manusia purba yang pertama kali dikenali melalui temuan di Siberia. Temuan tersebut membuka pertanyaan baru tentang perjalanan manusia menuju Wallacea serta perjumpaan berbagai populasi pada masa lalu.
Siapakah Bessé dan bagaimana DNA-nya dapat bertahan di lingkungan tropis? Apa hubungan perempuan Toalean ini dengan Denisovan dan manusia yang hidup di Indonesia sekarang?
Mongabay Indonesia membahasnya bersama Basran Burhan, arkeolog dan kandidat doktor Griffith University, Australia, saat diskusi berlangsung. Percakapan ini menelusuri penemuan Bessé, kebudayaan Toalean, migrasi manusia purba, serta pentingnya menjaga Leang Panninge sebagai situs ilmu pengetahuan yang tak ternilai.
Mongabay Snaps: Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal
2026/10/01
Mongabay Snaps merupakan program Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel penting. Program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian.
Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan
2026/09/25
Hutan lindung tidak hanya berfungsi menjaga pepohonan dan satwa. Kawasan ini juga menjadi sistem penyangga kehidupan yang mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta mempertahankan kesuburan tanah. Namun, perlindungan hutan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dan memahami bentang alam tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Gambaran itu terlihat di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kawasan seluas sekitar 10 ribu hektare ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi habitat orangutan kalimantan, termasuk lokasi pelepasliaran individu yang telah direhabilitasi. Hutan ini dapat dimasuki melalui beberapa kampung, salah satunya Desa Lesan Dayak yang dihuni masyarakat Dayak Ga'ay.
Dalam kegiatan penelitian dan ekowisata, masyarakat tidak sekadar menjadi pelengkap. Mereka terlibat sejak persiapan, menyediakan rumah singgah dan kawasan perkemahan, menyambut pengunjung, serta bekerja sebagai pemandu lokal. Pengetahuan mereka mengenai jalur hutan dan lokasi perjumpaan satwa membantu penelitian burung, mamalia, kupu-kupu, herpetofauna, kelelawar, vegetasi, serta cadangan karbon.
Penelitian selama hampir tiga bulan mencatat 55 jenis herpetofauna, 38 jenis mamalia darat, 112 jenis kupu-kupu, 187 jenis burung, dan 15 jenis kelelawar. Hasil tersebut memperlihatkan pentingnya Sungai Lesan bagi keanekaragaman hayati Kalimantan. Kegiatan ini juga menghasilkan buku panduan kupu-kupu yang dapat digunakan masyarakat untuk mengenalkan kekayaan hutan kepada pengunjung.
Meski berstatus hutan lindung, Sungai Lesan menghadapi tekanan pembukaan lahan dan dikelilingi perkebunan sawit. Koridor yang menghubungkannya dengan kawasan hutan lebih luas juga berisiko dialihfungsikan. Dalam situasi ini, penelitian dan ekowisata berbasis masyarakat diharapkan memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat alasan untuk mempertahankan hutan.
Bagaimana masyarakat dapat ditempatkan sebagai pelaku utama penelitian dan konservasi? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Nanda Indah Dian Lestari, peneliti dari Operation Wallacea. Percakapan ini mengulas kerja sama antara peneliti, masyarakat, pemerintah, dan organisasi konservasi dalam menjaga Hutan Lindung Sungai Lesan. Diskusi ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan sains berjalan bersama untuk melindungi hutan sekaligus memperkuat penghidupan masyarakat di sekitarnya.
Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak
2026/09/18
Bagi masyarakat Fakfak, Papua Barat, pala bukan sekadar tanaman perkebunan yang menghasilkan pendapatan. Pohon yang dapat hidup hingga puluhan bahkan seratus tahun ini melekat pada sejarah keluarga, identitas marga, praktik adat, dan hubungan masyarakat dengan alam. Pala bahkan menjadi ikon daerah yang tergambar dalam lambang Kabupaten Fakfak.
Pala Fakfak (Myristica argentea), yang dalam bahasa lokal disebut hengi, memiliki ciri berbeda dari pala Banda. Buahnya cenderung lonjong dan berparuh, dengan aroma daging buah yang khas. Tanaman ini mulai produktif pada usia sekitar enam tahun. Kebun yang dipanen hari ini banyak diwariskan oleh generasi terdahulu, sehingga keberadaannya menjadi penghubung antara leluhur, masyarakat sekarang, dan generasi mendatang.
Kedekatan tersebut terlihat dalam seluruh proses pengelolaannya. Pembukaan lahan dilakukan tanpa membakar dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pohon pala dirawat tanpa pupuk kimia, sementara tanaman betina tidak boleh ditebang karena dipandang sebagai personifikasi perempuan yang memberi penghidupan. Masyarakat juga mengenal sasi, yaitu larangan memanen dalam periode tertentu untuk menjaga kualitas pala. Waktu panen ditentukan melalui tanda-tanda alam, termasuk pasang surut air laut dan buah yang mulai jatuh. Panen umumnya dilakukan melalui masuhi atau gotong royong.
Namun, kebutuhan ekonomi, perubahan pasar, dan praktik panen terburu-buru dapat mengancam pengetahuan lokal tersebut. Lalu, bagaimana menjaga pala Fakfak sebagai komoditas sekaligus identitas adat?
Mongabay Indonesia membahasnya bersama Greg R. Daeng, Manajer Legal dan Tata Kelola Yayasan INOBU. Percakapan ini menelusuri sejarah, praktik budidaya, tradisi panen, tantangan pasar, serta pentingnya kolaborasi antara masyarakat adat, petani, pemerintah, pendamping, dan sektor swasta untuk menjaga pala Fakfak beserta nilai budaya yang menyertainya. Diskusi ini mengingatkan bahwa menjaga pala berarti merawat hutan, pengetahuan antargenerasi, dan kebanggaan masyarakat Fakfak terhadap tanahnya sendiri.
Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap?
2026/09/10
Industri dan bisnis membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Namun, ketika kebutuhan tersebut masih bergantung pada energi fosil, peningkatan konsumsi listrik turut menambah emisi karbon dioksida.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi tenaga surya yang besar karena memperoleh sinar matahari sepanjang tahun. Sayangnya, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya [PLTS] masih belum optimal. Industri dan sektor bisnis dapat berperan penting karena mengonsumsi sekitar separuh pasokan listrik nasional serta memiliki banyak bangunan beratap luas.
Atap pabrik, pusat perbelanjaan, dan gedung perkantoran dapat dimanfaatkan untuk memasang panel surya. Selain menghasilkan listrik tanpa emisi saat beroperasi, PLTS atap tidak menimbulkan suara, membutuhkan perawatan relatif rendah, dan berpotensi mengurangi biaya listrik perusahaan.
Meski demikian, pemasangannya memerlukan kajian mengenai kondisi atap, kebutuhan listrik, intensitas matahari, kualitas peralatan, serta ketepatan instalasi. Lalu, seberapa besar peran korporasi dalam mempercepat pemanfaatan energi surya? Apakah PLTS atap benar-benar menguntungkan secara ekonomi?
Mongabay Indonesia membahasnya bersama Philip Effendy, Vice President of Operations PT Xurya Daya Indonesia. Percakapan ini mengulas potensi tenaga surya Indonesia, manfaat atap gedung sebagai sumber energi, skema pemasangan, biaya investasi, serta peran dunia usaha dalam mengurangi emisi. Diskusi ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada keputusan industri dan korporasi dalam menentukan sumber listrik yang mereka gunakan.
Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa
2026/09/03
Laut dalam menyimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Ketika kekayaan laut Indonesia sering dikaitkan dengan terumbu karang, ikan, atau penyu, berbagai organisme di dasar perairan justru luput dari perhatian. Penemuan "kecoak laut raksasa" di perairan Selat Sunda dan selatan Jawa membuka jendela untuk memahami dunia yang tersembunyi tersebut.
Meski disebut kecoak laut, satwa ini bukan serangga. Hewan dari marga Bathynomus tersebut merupakan isopoda, kelompok krustasea yang berkerabat dengan udang, kepiting, dan lobster. Tubuhnya yang pipih dan beruas membuatnya diasosiasikan dengan kecoak. Sebutan populer ini membantu masyarakat membayangkan penampilannya, tetapi juga dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami identitasnya.
Spesies bernama Bathynomus raksasa ini ditemukan melalui South Java Deep-Sea Biodiversity Expedition pada 2018, penelitian bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI, atau sekarang BRIN] dan National University of Singapore. Ekspedisi tersebut mengumpulkan sekitar 12.000 spesimen yang diperkirakan mewakili 800 spesies. Temuan ini memperlihatkan bahwa perairan di sekitar Jawa masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terdokumentasi.
Dengan panjang tubuh mencapai sekitar 36 sentimeter, Bathynomus raksasa menarik perhatian bukan hanya karena ukurannya. Sebagai pemakan bangkai, satwa ini memanfaatkan sisa ikan, sotong, dan organisme lain yang jatuh ke dasar laut. Perannya menunjukkan bahwa hewan yang asing bagi manusia tetap menjadi bagian penting dalam jejaring kehidupan.
Namun, menemukan spesies baru bukan sekadar menjumpai hewan yang belum pernah terlihat. Peneliti perlu memeriksa karakter tubuh dan membandingkannya dengan spesies yang telah dikenal. Proses ini menegaskan pentingnya taksonomi sebagai dasar untuk memahami keanekaragaman hayati.
Lalu, bagaimana peneliti memastikan identitas Bathynomus raksasa? Mengapa satwa ini jarang ditemukan nelayan, dan apa ancaman bagi kehidupannya?
Mongabay Indonesia membahasnya bersama Conni Margaretha Sidabalok, peneliti yang saat diskusi berlangsung bekerja di Pusat Penelitian Biologi LIPI. Percakapan ini menelusuri proses penemuan, peran ekologis, dan pentingnya penelitian laut dalam untuk mengenali sekaligus menjaga kekayaan hayati Indonesia. Diskusi ini juga mengingatkan bahwa perlindungan laut perlu mencakup kehidupan yang jauh dari pandangan manusia.
Mongabay Snaps: Alarm Lingkungan dari Berbagai Penjuru Indonesia
2026/09/01
Mongabay Snaps merupakan program Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel penting. Program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian.
Ketika Ruang Hidup Kobra Beririsan dengan Manusia
2026/08/27
Kemunculan ular kobra di kawasan permukiman hampir selalu memicu kepanikan. Ketika seekor ular ditemukan di pekarangan, saluran air, gudang, atau bahkan di dalam rumah, satwa tersebut kerap dianggap sengaja memasuki ruang hidup manusia untuk mencari mangsa atau menyerang. Ketakutan semakin besar ketika beberapa anak kobra muncul dalam waktu berdekatan. Situasi ini kemudian melahirkan anggapan bahwa populasi kobra sedang meledak dan permukiman warga tengah menghadapi "serbuan" ular berbisa.
Namun, kemunculan kobra di sekitar manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai serangan satwa liar. Ular telah menghuni bentang alam Indonesia jauh sebelum kawasan tersebut berubah menjadi persawahan, perkebunan, jalan, dan perumahan. Ketika habitat mengalami perubahan, ruang hidup manusia dan satwa semakin beririsan. Sebagian satwa tidak mampu bertahan, sementara jenis tertentu, termasuk kobra, dapat beradaptasi dengan lingkungan yang telah dimodifikasi manusia.
Permukiman bahkan dapat menyediakan berbagai kebutuhan hidup ular. Tikus, katak, kadal, burung, dan ular lain menjadi sumber makanan. Sementara itu, semak yang tidak terawat, tumpukan kayu, sampah, saluran air, serta celah pada bangunan menawarkan tempat berlindung. Kehadiran kobra dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan perubahan habitat, tetapi juga kondisi lingkungan permukiman yang secara tidak langsung menyediakan makanan dan ruang persembunyian.
Kemunculan anak kobra dalam jumlah banyak juga berhubungan dengan siklus reproduksi. Telur yang menetas pada awal musim hujan membuat anakan menyebar untuk mencari tempat aman dan mangsa. Pada saat bersamaan, berkurangnya predator alami, seperti biawak, garangan, dan elang ular bido, dapat mengganggu pengendalian populasi di alam. Perubahan pada satu bagian rantai makanan akhirnya memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Lalu, mengapa kobra dapat bertahan di tengah permukiman? Benarkah bentuk kepala dapat digunakan untuk membedakan ular berbisa dan tidak berbisa? Apakah garam efektif mengusir ular? Apa yang harus dilakukan ketika kobra masuk ke rumah, dan bagaimana manusia dapat mengurangi risiko perjumpaan tanpa harus memusnahkannya?
Mongabay Indonesia membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut bersama Dr. Amir Hamidy, peneliti herpetologi dari Pusat Penelitian Biologi BRIN. Diskusi ini mengajak kita memahami kobra tidak semata-mata sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang keberadaannya berkaitan erat dengan perubahan bentang alam, ketersediaan mangsa, hilangnya predator alami, dan cara manusia mengelola lingkungan tempat tinggalnya.
Mongabay Snaps: Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi
2026/08/02
Mongabay Snaps merupakan program Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel penting. Program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian.
Mongabay Snaps: Dari Jejak Tambang Illegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan
2026/06/29
Mongabay Snaps merupakan program Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel penting. Program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian.
Mongabay Snaps: Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda
2026/05/28
Mongabay Snaps merupakan program Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan, sebulan atau setahun.
Selina Aurora, Upaya Merawat Ingatan Papua
2026/05/20
Selina Aurora merawat ingatan tentang Papua melalui tulisan yang berangkat dari pengalaman hidupnya di Merauke, Waropen, dan Manokwari. Dia menulis tentang rawa, mangrove, laut, perempuan adat, serta masyarakat yang hidup dekat dengan alam. Dia punya mimpi agar cerita Papua tidak hanya dibaca dari sudut konflik atau pembangunan semata.
Bagi Selina, menulis adalah cara untuk menjelaskan Papua secara lebih utuh dan jernih. Melalui sastra, ekoteologi, dan suara perempuan, dia mengajak pembaca melihat Papua sebagai rumah bersama yang menyimpan pengetahuan, martabat, dan perjuangan untuk menjaga kehidupan.
Mongabay Snaps: Suara dan Perjuangan Warga untuk Keadilan Iklim
2026/04/30
Mongabay Snaps merupakan program Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan, sebulan atau setahun.
Mongabay Snaps: El-Nino Godzilla, Alarm Krisis Iklim di Depan Mata
2026/04/07
Mongabay Snaps merupakan program dua mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan, sebulan atau setahun.
Mongabay Snaps: Lima Cerita Lingkungan yang Menemani Perjalanan Mudikmu
2026/03/18
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan, sebulan atau setahun.
Podcast reviews
Read Mongabay Indonesia Podcast podcast reviews
Podcast sponsorship advertising
Start advertising on Mongabay Indonesia Podcast relevant audience podcasts
You may also like to advertise on these Podcasts

4.240683
To Be The Man
Podcast Heat | Cumulus Podcast Network

4.41511132000
The Ben Shapiro Show
The Daily Wire

4.2155648
TENNIS.com Podcast
TENNIS.com Podcast/Tennis Channel Podcast Network

4.611599506
The Bulwark Podcast
The Bulwark

4.711443386
Matt and Shane's Secret Podcast
Matt McCusker & Shane Gillis

4.975103743
Small Town Murder
James Pietragallo, Jimmie Whisman

4.8583398
Didn't I Just Feed You
Stacie Billis and Meghan Splawn

4.4503509
Warfare
History Hit

4.8296431971
Fantasy Footballers - Fantasy Football Podcast
Fantasy Football

4.712822542
True Crime All The Time
Emash Digital