1511174429
Kencan Dengan Tuhan

Advertise on podcast: Kencan Dengan Tuhan

Rating
★★★★★
5
from
2 reviews
This podcast has
2000 episodes
Language
Indonesian
Explicit
No
Date created
2020/05/01
Latest episode
2026/10/17
Average duration
6 min.
Release period
1 days

Description

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email [email protected]

Unlock Kencan Dengan Tuhan podcast Email contact info,
Listeners & Audience details

Email contact information

Direct podcast contact details

Listeners

Audience numbers & engagement insights

Audience details

Podcast Insights

Podcast episodes

Check latest episodes from Kencan Dengan Tuhan podcast


Edisi Hari Minggu- 18 Oktober 2026 - Rajinlah bekerja dan taat akan Tuhan
2026/10/17
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 18 Oktober 2026 Bacaan: "Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya." (Kejadian 39:22) Renungan: Mereka yang tidak mau bekerja tidak akan mendapat apa-apa, bahkan Rasul Paulus berkata bahwa jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Keengganan untuk bekerja akan menyebabkan kemiskinan yang berkepanjangan dan menimbulkan berbagai masalah seumur hidup. Sebaliknya, Tuhan senang dan melimpahkan berkat-Nya kepada orang-orang yang rajin. Ke mana kerajinan akan membawa seseorang? Kita akan mendapat jawaban atas pertanyaan itu dari perjalanan karier yang dialami Yusuf si pemimpi. Pertama, pada usia tujuh belas tahun, Yusuf bekerja melakukan tugas yang diberikan ayahnya kepadanya. "Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun - jadi masih muda - biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya." (Kejadian 37:2b). Pada usia muda Yusuf sudah bertanggung jawab atas tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Kedua, kita melihat ke tahap selanjutnya, yaitu pada waktu Yusuf bekerja sebagai budak yang kemudian diangkat menjadi kepala pelayan di rumah Potifar. Yusuf bekerja dengan rajin dan hati yang bersungguh-sungguh, sehingga Potifar memberikan kepercayaan besar kepadanya untuk mengurus seisi rumahnya. "Maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf." (Kejadian 39:4). Ketiga, kerajinan Yusuf juga terbukti ketika ia mendekam di penjara karena fitnah yang dilemparkan oleh isteri Potifar. Kerajinannya telah membuat kepala penjara mengangkatnya sebagai wakil yang mengawasi para tahanan dan pekerjaan di dalam penjara. "Sebab itu kepala penjara memercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya." (Kejadian 39:22). Keempat, pada usia tiga puluh tahun dia menjadi Perdana Menteri Mesir. Kerajinan dan hikmat dari Allah telah membawa Yusuf ke puncak karirnya. "Berkatalah Firaun kepada Yusuf: Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorang pun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir. Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. (Kejadian 41:44, 46). Tuhan tidak akan membiarkan orang yang rajin bekerja terus-menerus berada di bawah, sebaliknya la justru akan membawa mereka ke tingkat karir yang lebih tinggi lagi. Mau mencapai puncak karir seperti Yusuf? Rajinlah bekerja, takutlah akan Tuhan dan kerjakan apa yang ditemukan oleh tanganmu dengan tekun, niscaya Tuhan akan mempromosikanmu ke tingkat karir yang lebih tinggi lagi. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, bantulah aku untuk melaksanakan setiap tugas yang dipercayakan padaku bukan untuk mendapat penilaian manusia, tetapi semata-mata untuk memuliakan nama-Mu. Amin. (Dod).
Edisi Hari Sabtu, 17 Oktober 2026 - Hati seorang hamba yang rendah hati
2026/10/16
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 17 Oktober 2026 Bacaan: "Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6) Renungan: Seorang yang hidupnya dekata dengan Tuhan berkata, "Di dalam usaha untuk semakin serupa dengan Kristus, musuh utama yang kita hadapi bukanlah Iblis, melainkan diri kita sendiri." Sifat kedagingan yang ada di dalam diri kita kadangkala terlalu kuat untuk dikalahkan, tetapi kita harus berusaha selangkah demi selangkah untuk mengalahkannya. Tidak mudah menekan harga diri, tetapi itulah cara terbaik untuk belajar menjadi rendah hati dan melepaskan diri dari belenggu kesombongan. Orang yang sombong selalu sakit hati atas banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, tetapi orang yang rendah hati tidak mudah terluka. Kita perlu menyadari bahwa kesombongan mendasari banyak kekacauan mental dan emosi, tetapi kerendahan hati memerdekakan kita. Seorang yang menyebut dirinya hamba, harus menunjukkan hati seorang hamba. Seorang hamba harus belajar mengabaikan harga dirinya dan belajar rendah hati. Ia selalu menganggap orang lain lebih utama, memberi penghargaan kepada mereka yang lebih rendah darinya, tidak banyak menuntut, tidak selalu minta dimengerti, emosinya tidak terpancing dan ia tidak marah karena hal itu. Sebaliknya ia mengucap syukur untuk semuanya karena ia tahu bahwa ia adalah hamba. Seperti kata firman Tuhan bahwa seseorang akan dikenal dari buah yang dihasilkannya, demikian pula orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus akan dikenal orang dari sikap hidupnya setiap hari. Dengan pertolongan Roh Kudus, marilah kita menanggalkan kesombongan yang begitu mengikat selama ini, sehingga kita tidak bisa menjadi berkat bagi sesama. Kalau selama ini kita selalu menuntut untuk dimengerti dan diutamakan, saat ini marilah kita belajar untuk mengerti dan mengutamakan orang lain. Jika kita menyebut diri hamba, tunjukkan bahwa kita juga mempunyai hati seorang hamba dan dengan kerendahan hati, akan banyak orang di sekitar kita yang dapat kita bawa untuk mengenal Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, lepaskanlah kesombongan dari dalam diriku dan gantikan dengan rahmat kerendahan hati seperti diri-Mu sendiri. Amin. (Dod).
Edisi Hari Jumat, 16 Oktober 2026 - Hadirkan Damai, Kasih, dan Pengampunan dalam hidupmu
2026/10/15
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 16 Oktober 2026 Bacaan: "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." (Kolose 3:13) Renungan: Ada begitu banyak alasan untuk menyimpan kepahitan. Seorang pria tidak bisa memaafkan dan melupakan kepahitan yang dialaminya pada masa kecilnya, karena ayahnya memperlakukan dia dengan kejam. Seorang wanita tidak bisa lepas dari kebencian karena suaminya telah berselingkuh. Seorang pemuda tidak bisa melupakan penolakan atas cintanya, dll. Adalah hal yang dapat dimengerti jika kita marah kepada orang yang bersalah atau berlaku tidak adil kepada kita, akan tetapi kita tidak boleh membiarkan kemarahan singgah lama dalam hati kita, sehingga kemarahan itu berubah menjadi kebencian. Dalam hal melepaskan kebencian, kita harus belajar dari Daud yang selalu melepaskan pengampunan bagi orang-orang yang telah menyakiti hatinya. Suatu hari, hati Daud galau, ia sedang dalam pelarian dari Absalom anaknya, tiba-tiba tampillah Simei mengutukinya. "Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu." Kondisi yang sedang dialami Daud şebenarnya mendukungnya untuk membenci Simei, tetapi Daud tidak memberi kesempatan pada kebencian untuk singgah di dalam hatinya. Menanggapi komentar anak-anak Zeruya yang berusaha memanas-manasi Daud untuk membenci dan membalas perbuatan Simei, maka Daud berkata demikian, "Tetapi kata raja: Apakah urusanku dengan kamu, hai anak2 Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: Mengapa engkau berbuat demikian? Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini." (2 Samuel 16:10, 12). Kita harus segera menetralkan "racun" kemarahan yang akan mencemari hati dan cenderung mematikan kasih dalam hidup kita, yaitu dengan cara melepaskan pengampunan. Mengampuni bukan berarti toleransi terhadap kesalahan orang lain, tetapi memberikan kesempatan kepada orang yang berbuat salah untuk bertobat. Orang yang tidak mau mengampuni akan membuat dirinya "berkubang" pada pengalaman pahit di masa lampau. Melepaskan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita merupakan cara untuk melepaskan diri dari "kubangan" kebencian, dan kunci untuk menikmati damai sejahtera yang Tuhan sediakan. Kebencian menjadikan kita tawanan kepahitan masa lampau, padahal Yesus siap memerdekakan kita dari kebencian itu. Di sisi yang lain, pengampunan akan menciptakan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki hubungan yang sempat rusak atau terputus dengan orang yang seharusnya tetap kita kasihi. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, lepaskanlah dari dalam diriku semua dendam, kemarahan, kebencian dan kepahitan terhadap seseorang. Jangan biarkan damai-Mu hilang dari dalam hatiku karena kekerasan hatiku yang tidak bisa mengampuni. Amin. (Dod).
Edisi Hari Kamis, 15 Oktober 2026 - Menjadi Sahabat dan Saudara yang baik
2026/10/14
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 15 Oktober 2026 Bacaan: "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Amsal 17:17) Renungan: Bo Laoma adalah seorang tukang sol sepatu yang mengalami kelumpuhan dari pinggang hingga ke bawah. la terbilang sangat beruntung, karena dalam kondisinya yang demikian, ia memiliki sahabat yang begitu setia mendorong kursi rodanya menuju tempat reparasi sepatu di mana ia bekerja. Jalanan menuju ke tempat kerja juga menjadi perjuangan yang berat bagi sahabat Bo Laoma untuk mendorong kursi roda, sebab jalanannya menanjak, sehingga membutuhkan tenaga yang besar agar dapat mendorong kursi roda Bo Laoma. Bagi Bo, ia dan sahabatnya tidak akan bisa terpisahkan. Mereka saling menyayangi dan melengkapi satu sama lainnya. Namun, siapa sangka bahwa sosok sahabat yang begitu hebat di mata Bo itu ternyata adalah seekor anjing! Kehadiran sahabat berekornya sangat melengkapi kesendirian Bo, yang harus menghadapi kerasnya hidup dalam dunia ini. Bo menyayangi sahabatnya dan sebaliknya sahabatnya juga menyayanginya dan menjadi penolong dalam kesulitan Bo. Baginya, anjing tersebut jauh lebih pintar dari anjing yang biasa tampil di televisi. Ketika berkisah tentang sahabat, adakah seseorang yang terlintas dalam pikiran kita? Sudahkah kita memiliki sahabat, atau adakah seseorang yang menganggap kita sahabatnya? Kita dapat berbagi suka-duka dan dapat menceritakan apa pun tanpa takut ia membuka rahasia kita. Sahabat adalah seseorang yang memahami segala sesuatu tentang kelebihan dan kekurangan kita tetapi masih tetap mengasihi kita. Walau demikian pentingnya persahabatan itu, namun yang namanya "sahabat", saat ini sudah menjadi "barang langka" yang sulit ditemukan. Ini adalah akibat dari pembunuhan terhadap persahabatan itu dengan sikap yang egois dan tanpa kasih, sehingga lambat laun tanpa disadari persahabatan itu pun bisa punah. Bahkan beberapa orang berkata, "Mencari uang lebih mudah dibandingkan mencari sahabat sejati." Kini, kitalah yang bertanggung jawab untuk melestarikan hubungan persahabatan ini lagi. Hubungan dengan sesama harus dipupuk dengan kasih yang tulus sehingga persahabatan itu mulai bertumbuh kembali. Mari kita sama-sama mendemonstrasikan pelestarian sahabat di dalam dunia ini, sehingga ia tidak lagi menjadi barang langka yang sulit ditemukan. Jadikan diri kita sebagai pelestari persahabatan dengan cara menjadi sahabat yang setia bagi orang lain. Dengan demikian persahabatan tidak akan berakhir sebagai sejarah tetapi tetap bertumbuh di dalam dunia ini. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih telah mengingatkanku tentang persahabatan. Jadikan aku sahabat yang baik dan setia bagi para sahabatku. Amin. (Dod).
Edisi Hari Rabu, 14 Oktober 2026 - Mengendalikan diri, jauhi Narkoba
2026/10/13
Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 14 Oktober 2026 Bacaan: "Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh." (Efesus 5:18) Renungan: Sangat menyedihkan jika kita melihat seseorang yang telah berusia dewasa, bahkan menginjak usia tua, namun bertingkah kekanak-kanakan, di mana setiap harinya bermain dengan permainan anak-anak pada umumnya. Hal ini dialami oleh seorang wanita bernama Karli Mitchell, yang ketika berusia 43 tahun di tahun 2016, ia masih bermain boneka dan menyimpan koleksi stiker Hello Kitty. Tingkah lakunya masih kekanak-kanakan. Dalam pertumbuhannya, Karli mengalami banyak kesulitan motorik dan keterlambatan bicara. Penyebabnya diketahui bahwa Karli menderita fetal alcohol syndrome karena ibunya mencandu alkohol ketika mengandung dirinya. Fetal alcohol syndrome atau sindrom alkohol pada janin adalah kondisi yang diakibatkan oleh karena sang ibu mengonsumsi alkohol terlalu banyak selama mengandung. Alkohol masuk ke aliran darah dan mencapai janin dengan cara melewati plasenta. Dengan demikian alkohol akan mengganggu pengiriman oksigen dan nutrisi lain yang optimal bagi perkembangan jaringan dan organ tubuh bayi, termasuk otaknya. Hal ini menyebabkan sang anak mengalami cacat fisik, keterbelakangan mental, gangguan belajar, dan gangguan penglihatan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan tahun 1973, tahun yang sama saat Karli lahir. Semasa kehamilan, ibunya Karli, yakni Kathy telah mengonsumsi alkohol, bahkan setelah melahirkan Karli, Kathy pun mulai mencandu heroin. Karena itu, anaknya yang keempat dan kelima mengalami gangguan kesehatan dan tidak bertahan lama hidup di dunia ini. Di usianya yang ke-30, Kathy masuk rehabilitasi dan terlepas dari candu alkohol dan heroin. Pada akhirnya, Kathy, saat berusia 61 tahun, menjadi Presiden National Organization on Fetal Alcohol Syndrome di sebuah yayasan nirlaba. Misinya adalah mengingatkan bahaya alkohol pada kehamilan. Ia berkata, "Saya percaya, saya akan menjadi orang yang lebih buruk lagi, jika tidak mengingatkan orang lain akan bahaya mencandu alkohol, jika saya tidak berusaha mencegah anak-anak lain mengalami hal seperti Karli." Pengalaman Kathy di atas, tentu bisa menjadi referensi bagi kita untuk mengingatkan orang lain, bahkan kepada para anak muda agar tidak mengonsumsi alkohol dan narkoba. Jelaslah bahwa Alkitab bukan tanpa alasan melarang orang percaya mengonsumsi minuman keras. Sebab, tidak akan ada keuntungan apa pun dalam meminum minuman keras, bahkan akan kehilangan akal sehat dan menimbulkan persoalan karena tidak bisa mengontrol diri. Lebih parah lagi, dapat merusak kesehatan, menyebabkan sindrom alkohol pada janin bagi sang buah hati, dan merenggut nyawa. Bukankah kita sering mendengar ada sekian banyak orang yang meninggal akibat mengonsumsi minuman keras dan obat terlarang? Karena itu, ajarkanlah firman Tuhan kepada banyak orang dan cegahlah mereka mencandu alkohol dan narkoba. Dan jagalah agar keluarga dan orang terdekat kita, tidak terjerumus di dalamnya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, pakailah aku menjadi alat-Mu untuk mengingatkan generasi gereja dan generasi bangsa untuk tidak mengonsumsi alkohol dan narkoba. Amin. (Dod).
Edisi Hari Selasa, 13 Oktober 2026 - Peka, peduli dan jadi berkat untuk sesama
2026/10/12
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 13 Oktober 2026 Bacaan: "Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!" (Filipi 4:5) Renungan: Ada istilah mengatakan bahwa kepintaran dapat kita peroleh di bangku sekolah, tetapi kearifan. kebijaksanaan, kebaikan hati, disb, hanya dapat kita pelajari dari kehidupan ini. Dengan lebih seringnya kita melihat ke sekeliling, kita akan dapat menyaksikan masih ada banyak hal baik yang dapat kita teladani. Suatu hari ada seorang mahasiswa naik angkutan umum yang dikemudikan oleh seorang anak muda. Di dalam angkutan tersebut ada 6 orang penumpang termasuk sang mahasiswa. Tidak seperti sopir angkutan umum lainnya yang mengemudi secara ugal-ugalan, sopir angkutan umum yang ditumpanginya merupakan salah satu pengemudi yang baik. Sopir tersebut mengemudi dengan kecepatan rata-rata, sehingga penumpang merasa aman. Dari kejauhan sang mahasiswa melihat ada seorang ibu dengan tiga anaknya, yang satu masih bayi, berdiri di tepi jalan. Beberapa angkutan umum yang ugal-ugalan mendahului kami, hanya berhenti di depan mereka, tetapi tidak mengangkut ibu tersebut dengan anak-anaknya. Akhirnya mobil angkutan yang ditumpanginya berhenti di depan ibu tersebut. "Mas, lewat stasiun ya?" tanya ibu itu. Tentu saja sopir itu menjawab, "Ya." Namun ibu itu tidak lekas naik. Dengan nada sedikit gemetar ia berkata, "Maaf Mas, tetapi saya tidak punya ongkos." Sambil tersenyum sopir itu menjawab, "Nggak apa-apa Bu, naik saja." Tetapi ibu tersebut seperti nampak ragu, sehingga sopir itu berkata lagi untuk meyakinkannya, "Ayo Bu, naik saja, tidak apa-apa," ucap sopir tersebut. Perlakuan sopir tersebut membuat sang mahasiswa menaruh apresiasi besar terhadapnya. Sebab, di saat sopir-sopir yang lain berlomba-lomba mencari penumpang, anak muda itu justru merelakan beberapa tempat untuk diberikan secara gratis. Akhirnya, tibalah ibu tersebut di tempat tujuannya, dan kami melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari tempat pemberhentian ibu yang tadi, seorang pria paruh baya turun dari mobil angkutan tersebut. Pria itu memberikan uang 50 ribu. Ketika sopir hendak memberi kembalian, pria tersebut berkata, "Tidak usah. Uang itu untuk membayar tumpangan saya beserta ibu dan anak-anaknya yang tadi. Teruslah berbuat baik, Dik." Sungguh peristiwa yang mahal harganya bagi seorang ibu yang jujur dengan keadaannya, seorang anak muda yang baik hati, dan seorang pria yang berbudi. Berbuat jahat atau baik adalah pilihan! Siapa saja bisa memilih apakah ingin berbuat jahat atau berbuat baik. Alkitab memang mengatakan bahwa manusia akhir zaman akan hidup dengan mencintai dirinya sendiri, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu mengasihi, tidak suka berbuat baik, dlsb. (2 Tim 3:1-5), dan di masa ini kita sudah menyaksikannya. Namun hal itu janganlah menahan kita untuk berbuat kebaikan. Melakukan kebaikan tidak melulu dengan materi, tetapi bisa dengan senyuman, perkataan yang menghangatkan, atau dengan mendahulukan lansia untuk duduk saat bis yang ditumpangi penuh. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar peka dengan keadaan mereka yang membutuhkan. Beriku hati yang tulus untuk menolong sesamaku. Amin. (Dod).
Edisi Hari Senin, 12 Oktober 2026 - Menjadi Anak yang Berbakti
2026/10/11
Kencan Dengan Tuhan - Senin, 12 Oktober 2026 Bacaan: "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi." (Efesus 6:1-3) Renungan: Jean, seorang wanita muda yang telah mandiri. Seperti biasa, setelah seharian beraktivitas, ia langsung merebahkan diri di atas kasur, menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya, dan tidak lupa terhadap jam alarm yang selalu membangunkannya tepat waktu di pagi hari. Namun malam itu, jam alarmnya tidak berfungsi karena baterainya habis. Merasa telah nyaman berada di bawah selimut yang hangat, Jean jadi malas untuk beranjak pergi membeli baterai, apalagi di luar cuacanya begitu dingin. Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon ibunya, dan meminta ibunya untuk membangunkannya besok pagi, karena ia khawatir jika ia membuat alarm di handphonenya, alarm tersebut tidak akan berfungsi dengan baik sebab telinganya tidak terbiasa dengan bunyi alarm tersebut. "Hai Ma, besok pagi, jam 5, bisakah Mama bangunkan aku? Sebab jam alarmku tidak berfungsi, sementara besok pagi-pagi aku harus tiba tepat waktu di kantor karena ada rapat penting," kata Jean di ujung telepon. "Oke sayang." terdengar suara sang Mama yang sepertinya sudah sempat tertidur. Pagi-pagi benar, suara telepon berdering, "Ayo bangun sayang, hari ini ada rapat." Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, Jean melihat ke arah jam dinding, yang ternyata menunjukkan pukul 4 pagi. Dengan nada yang sedikit kesal ia berkata kepada mamanya, "Ini masih jam 4 pagi, Ma. Bukankah aku bilang untuk membangunkanku jam 5? Seharusnya aku masih bisa tidur lebih lama lagi, tetapi Mama sudah membangunkanku. "Tidak ada respons di ujung telepon sana, Jean pun akhirnya menutup telepon dengan suasana hati yang kesal. Setelah bangun, ia mulai bersiap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa ia akan berjalan kaki ke halte bis. Dari kejauhan, ia melihat ada sepasang suami-istri yang telah lanjut usia berdiri di sana. Karena masih pagi, jadi tidak ada orang lain selain dia dan kedua orang tua itu yang menunggu bis di halte tersebut. Akhirnya bus tiba, Jean pun langsung naik. Ketika ia duduk, bis itu langsung jalan tanpa membiarkan kedua orang tua tadi naik. "Kenapa langsung jalan, dan tidak membiarkan kedua orang tua itu naik? Mereka telah menunggu sejak tadi," ucap Jean kepada supir bis itu. "Tidak apa-apa, mereka adalah orang tua saya, yang memang sengaja menunggu saya, karena hari ini hari pertama saya bekerja," jawab supir itu. Mendengar itu, Jean jadi terharu dan mengingat apa yang dilakukannya pagi ini kepada mamanya. Tidak lama kemudian, ia menerima pesan dari papanya, "Mamamu minta maaf karena sudah membangunkanmu terlalu pagi. Tetapi kamu harus tahu bahwa sepanjang malam ia tidak tidur nyenyak karena ia tidak ingin terlambat membangunkanmu." Jean pun tidak bisa menahan air matanya. Di balik ketidaktahuan kita, orang tua akan mengupayakan segala sesuatu demi memberikan yang terbaik kepada anaknya. Jadi, belajarlah menghargai hal sekecil apa pun yang orang tua kita lakukan bagi kita dan hormatilah mereka. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih karena telah memberikan orang tua terbaik padaku. Ajarlah aku menjadi anak yang berbakti lebih lagi kepada mereka. Amin. (Dod).
Edisi Hari Minggu, 11 Oktober 2026 - Orang tua yang menajdi teladan bagi anak
2026/10/10
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 11 Oktober 2026 Bacaan: "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4) Renungan: Marry adalah ibu dari dua orang anak yang bisa dikatakan berhasil dalam mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang sukses, terutama sukses dalam akhlak dan spiritual. Ketika temannya meminta berbagi rahasia keberhasilannya sebagai seorang ibu, Marry pun berkata, "Kuncinya ada di kata dan, serta tetapi." Ketika melihat kebingungan di mata temannya, Marry pun melanjutkan pembicaraannya. "Kata dan adalah jauh lebih baik dibandingkan kata tetapi. Kata dan bisa jadi pemacu bagi siapa saja untuk maju, terlebih bagi seorang anak. Dengan kata dan, kepercayaan diri seorang anak akan terbangun, sedangkan kata tetapi hanya akan menumpuk rasa kekecewaan di hati mereka," ucap Marry yang terlihat begitu bersahaja. Kemudian Marry mengajak temannya untuk merenungkan sesuatu, katanya, "Coba dengarkan perbedaan dari dua kalimat yang akan saya ucapkan ini, dan menurutmu manakah kalimat yang lebih baik?" Temannya pun mendengarkannya dengan saksama. "Joy, gurumu mengatakan semua nilaimu di rapor ini baik, tetapi bisakah kamu memperoleh nilai yang lebih baik lagi? Atau, Joy, gurumu mengatakan semua nilaimu di rapor ini baik. Ibu bangga padamu. Dan Ibu yakin ke depannya kamu akan mendapatkan nilai-nilai yang semakin baik." Belum sempat menjawabnya, Marry pun menambahkan contoh lain. "Anna, lukisanmu ini sangat indah, tetapi bisakah lukisanmu ini tidak terserak di berbagai tempat? Ataukah, Anna, lukisanmu ini sangat indah, dan akan semakin indah jika semua lukisanmu berada di tempat yang baik untuk dipandang." Ketika mendengarkan kedua contoh yang diberikan Marry, memang kata "dan" jauh lebih baik rasanya bila dibanding kata "tetapi". Temannya pun merasa diberkati dalam perjumpaan yang singkat dengan Marry. Kata "dan" serta "tetapi" memang adalah dua kata sederhana, namun kedua kata ini memiliki kekuatan yang tidak biasa dalam memengaruhi pikiran bahkan kehidupan anak kita di masa sekarang dan yang akan datang. Ingatlah, kata "tetapi" hanyalah kata tuntutan kita kepada sang buah hati, yang secara tidak kasat mata kita sedang menumpukkan beban di pundak mereka. Mari gunakanlah selalu hikmat-Nya di dalam mendidik anak-anak kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, mampukanlah aku menjadi orang tua yang dapat memberikan nasihat, didikan, terlebih teladan yang baik bagi anak-anakku. Amin. (Dod).
Edisi Hari Sabtu, 10 Oktober 2026 - Mengasihi dan Merawat Orang tua sebagai tanda bakti
2026/10/10
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 10 Oktober 2026 Bacaan: "Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman." (1 Timotius 5:8) Renungan: Ketika berkunjung ke salah satu panti jompo dan melihat kondisi para lansia yang tinggal di sana, mungkin seperti inilah isi hati mereka jika dituangkan dalam sebuah surat. "Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dahulu. Bukan hanya kulitku yang keriput, tenagaku pun rasa-rasanya mulai melemah. Aku tak lagi sekuat dahulu Ingatanku pun tak setajam dahulu. Untuk itu aku minta maaf karena telah merepotkanmu. Maafkan aku karena mengganggu waktu makanmu bersama keluarga kecilmu ketika tanpa sengaja aku mengotori pakaianku dengan makanan yang kumakan, sehingga kamu harus membersihkannya. Maafkan aku karena telah membuang waktumu yang berharga itu untuk menjawab pertanyaan yang kuulang-ulang. Maafkan aku menambah pekerjaan rumahmu untuk memandikan aku. Belum lagi setiap kali aku susah untuk berdiri dari tempat tidurku, maka aku akan memanggilmu. Maafkan aku, karena sudah merepotkanmu, Nak." Memasuki usia senja yang hampir malam, tidak banyak orang dapat menebarkan senyum kebahagiaan di wajahnya. Rasa khawatir dan takut ada di benak mereka. Banyak lansia menjadi khawatir dan takut membebani orang-orang terdekat karena keberadaan mereka. Mereka mungkin takut menjadi sedih jika suatu saat mendengar keluh kesah dari orang-orang terdekat karena lelah mengurusi mereka yang telah menua. Oleh karenanya, banyak yang memilih panti jompo sebagai solusi terbaik. Sebagai seorang anak, mungkin kita akan menganggap reaksi ini sebagai sesuatu yang berlebihan. Pikir kita, tidaklah mungkin kita akan berlaku kasar kepada orang tua yang telah membesarkan kita. Namun, cobalah untuk memahami perasaan orang tua kita yang telah lanjut usianya, dengan cara menjaga, merawat, dan memerhatikan mereka dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Jika kita sungguh-sungguh yakin dapat menjadi anak yang berbakti kepada mereka hingga ujung usia mereka, maka yakinkanlah mereka akan hal itu. Dengan demikian, hati mereka pun menjadi tenang, sehingga mereka dapat menikmati masa tua mereka dengan berbahagia bersama kita dan keluarga kecil kita. Tidaklah rugi jika kita diberi kesempatan untuk merawat orang tua kita yang telah lanjut usia. Ingatlah bagaimana pengorbanan mereka! Telah banyak keringat dan air mata yang mereka cucurkan dalam merawat dan membesarkan kita. Apa yang kita berikan kepada mereka saat ini, tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah mereka berikan kepada kita. Jadi sayangilah dan berikanlah pelayanan terbaik kita kepada mereka. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, ampunilah aku karena selama ini, baik yang kusadari ataupun tidak, telah menyakiti hati orang tuaku. Amin. (Dod).
Edisi Hari Jumat, 9 Oktober 2026 - Pakailah Aku Tuhan menjadi AlatMu
2026/10/08
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 9 Oktober 2026 Bacaan: "Ketika Daud sampai ke puncak, ke tempat orang sujud menyembah kepada Allah, maka datanglah Husai, orang Arki, mendapatkan dia dengan jubah yang terkoyak dan dengan tanah di atas kepala. " (2 Samuel 15:32) Renungan: Setiap manusia, termasuk kita yang percaya kepada Tuhan, pasti menginginkan agar doa-doanya dijawab oleh Tuhan. Atau setidaknya Tuhan memberikan seorang penolong bagi kita untuk dapat membantu menyelesaikan masalah yang sedang kita alami. Namun, pernahkah kita meminta kepada Tuhan agar diri kita sendiri yang dipakai Tuhan untuk menjadi penolong bagi orang lain atau menjadi jawaban doa bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan? Husai merupakan orang yang dipakai oleh Tuhan untuk menolong Daud saat Daud berada dalam kesulitan. Meskipun Daud adalah seorang raja, namun yang namanya manusia pasti dia juga memiliki rasa khawatir akan keselamatannya. Itulah yang dialaminya ketika Absalom, yang adalah anaknya sendiri memberontak kepadanya. Absalom berhasil mencuri hati sebagian rakyat untuk berpihak kepadanya. Perasaan Daud pun semakin tidak keruan ketika mengetahui bahwa salah seorang penasihatnya, yaitu Ahitofel, telah bersekongkol dengan Absalom untuk melengserkan dia. Persekongkolan ini membuat semakin banyak rakyat yang berpihak kepada Absalom. Maka, sangat wajar jika Daud merasa khawatir karena kedudukan dan nyawanya terancam. Daud bersama sejumlah pengikut yang setia kepadanya, keluar dari Yerusalem. Mereka berjalan menuju ke Bukit Zaitun. Di dalam perjalanan itu, Daud sempat berdoa memohon kepada Tuhan agar Tuhan menggagalkan nasihat Ahitofel. Ketika menunggu jawaban Tuhan atas doanya, datanglah Husai menemui Daud. Apakah ini merupakan jawaban Tuhan atas doanya? Alkitab tidak mengatakan secara tegas! Tidak dijelaskan alasan Husai menemui Daud. Mungkin saja hanya karena simpati, terlihat dari jubah yang terkoyak yang dikenakannya dan dengan tanah di atas kepalanya. Tetapi, melihat apa yang dilakukan Husai selanjutnya, maka bisa dikatakan bahwa inilah jawaban Tuhan. Di sini kita bisa melihat ketulusan hati yang dimiliki oleh Husai untuk membantu Daud, sebab tidak ada unsur paksaan dari Daud. Daud hanya berkata, "Jika engkau...." Dan, tanpa membantah sedikit pun Husai langsung menuruti apa yang diamanatkan raja kepadanya. Melalui tokoh Husai ini, marilah kita belajar agar tidak menjadi manusia yang egois. Jangan hanya meminta agar harapan kita saja yang dipenuhi, namun selipkanlah juga di dalam doa kita, agar kita dimampukan untuk memberikan diri atau hidup kita menjadi alat Tuhan, yaitu sebagai jawaban doa bagi orang-orang yang juga sebenarnya masih memiliki pengharapan di dalam hidup mereka. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, pakailah aku sebagai alat-Mu untuk membantu orang lain yang mengalami kesusahan. Amin. (Dod).
Edisi Hari Kamis, 8 Oktober 2026 - Berserah dan Percaya PadaNya
2026/10/07
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 8 Oktober 2026 Bacaan: "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7) Renungan: Berserah dan pasrah adalah dua kata yang sering diartikan atau digunakan secara sama. Namun, sebenarnya ada perbedaan makna. Berserah adalah kata kerja aktif, yang bermakna menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia akan memelihara dan mengatur segalanya. Pasrah merupakan kata kerja pasif yang mencerminkan sikap menyerahkan segalanya kepada Tuhan karena sudah tidak berdaya lagi atau telah menyerah kalah dalam menghadapi situasi. Berserah merupakan tindakan iman untuk melepaskan kendali dan mempercayakan kepada Tuhan. Ini mencerminkan keyakinan bahwa rencana-Nya pasti terbaik. Ketika seseorang berserah, ia tidak hanya melepaskan kendali, tetapi juga meyakini bahwa Tuhan akan ikut campur. Hal ini memberi kedamaian dan kelegaan. Orang yang berserah cenderung menerima segala sesuatu dengan lapang dada, bahkan jika hasilnya tidak sesuai keinginannya. Mereka yakin bahwa keputusan Tuhan pasti terbaik dan bersedia menerima apa pun yang diberikan-Nya. Pasrah lebih condong pada keputusasaan dan menyerah pada keadaan. Mereka mungkin putus asa sehingga tidak lagi berjuang untuk berubah atau mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Pasrah sering disertai frustasi dan ketidakpuasan terhadap hasil akhir yang terjadi. Dalam konteks beban dan persoalan hidup, ada saat-saat ketika seseorang terjebak dalam situasi sulit dan cenderung pasrah atau berserah. Namun, penting untuk membedakan antara kedua konsep tersebut agar dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi tantangan hidup. Karena itu, beban, yang terjadi dalam kehidupan kita seberat apapun itu, jangan jadikan diri kita sebagai orang yang pasrah, tetapi berserahlah kepada Tuhan. Berserahlah kepada Tuhan karena Dia yang akan memberi kelegaan dan penghiburan kepada kita dari beban permasalahan. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk berserah pada-Mu saat persoalan hidupku sepertinya tidak ada jalan keluarnya. Aku percaya saat aku berserah mengangkat tanganku di hadapan-Mu, maka tangan-Mu yang berkuasa akan turun untuk menyelesaikan persoalan ku. Amin. (Dod).
Edisi Hari Rabu, 7 Oktober 2026 - Mengembangkan Potensi Diri seturut kehendakNya
2026/10/06
Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 7 Oktober 2026 Bacaan: Tetapi la berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan." (Markus 6:38) Renungan: Banyak orang gagal, karena tidak mampu menggali potensi yang ada di dalam dirinya maupun di luar dirinya. Louis Armstrong hidup sangat menderita dan serba kekurangan pada masa kecilnya. Sejak bayi, Louis sudah ditinggalkan oleh ayahnya. la baru bisa mengenyam pendidikan pada usia 12 tahun. Namun demikian, seorang guru musik Peter Davis menemukan potensi besar dalam diri Louis berupa kemampuan bermain terompet. Melihat potensi tersebut, Peter Davis mengasah bakatnya hingga Louis bisa sukses sebagai pemain terompet kelas dunia. Bacaan hari ini mengisahkan kesuksesan para murid Yesus dalam menjamu ribuan orang, yang dimulai dari potensi kecil dan situasi krisis. Dikatakan demikian, situasi pada saat itu ada lima ribu orang lebih yang mendengarkan khotbah Yesus, dan Yesus menyuruh para murid untuk memberi mereka makan, sementara di tempat tersebut tidak ada orang yang berjualan. Menanggapi perintah itu, murid-murid bertanya kepada-Nya, "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?" Kemudian Yesus berkata, "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Ternyata masih ada potensi lima roti dan dua ikan. Potensi yang ada itu dibawa kepada Yesus, lalu didoakan dan dipecah-pecahkan-Nya, kemudian diberikan kepada para murid untuk dibagikan kepada banyak orang itu (ay. 41). Akhirnya, semua orang bisa makan dan kenyang, bahkan masih ada sisa 12 bakul. Apakah saat ini kita sedang dalam kondisi krisis, atau sedang menghadapi masalah besar dan seolah kita tidak berdaya? Jangan putus asa! Cobalah kita periksa, cari dan temukan potensi yang ada dalam diri maupun di luar diri kita. Jika sudah menemukannya, bawalah kepada Tuhan Yesus dan kerjakan apa yang menjadi bagian kita. Tuhan Yesus pasti sanggup melipatgandakannya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kuserahkan keterbatasanku ke dalam tangan-Mu. Perbuatlah sekehendak-Mu atas diriku. Aku percaya jika aku berjalan bersama-Mu, maka hidupku akan menjadi berkat bagi banyak orang. Amin. (Dod).
Edisi Hari Selasa, 6 Oktober 2026 - Iman yang teguh dan mengandalkan kekuatan Tuhan
2026/10/05
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 6 Oktober 2026 Bacaan: "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN yang menaruh harapannya pada Tuhan!" (Yeremia 17:7) Renungan: Seorang penebang pohon dari desa terpencil membeli gergaji mesin karena orang-orang berkata gergaji itu akan membuat pekerjaannya lebih cepat dan rapi. Tapi, beberapa hari kemudian ia kembali ke toko yang menjual gergaji itu dengan marah. "Gergaji apa ini! Pekerjaan saya malah tidak selesai-selesai dan hasilnya buruk!" Pemilik toko mengamati gergaji itu. Apakah rusak? Pikirnya. la menarik tuasnya dan gergaji itu menyala lancar. Penebang pohon itu tersentak. "Suara apa itu?" Rupanya, selama ini ia memakai gergaji mesin itu seperti gergaji manual, tanpa dinyalakan mesinnya! Banyak kita sama saja seperti penebang pohon di cerita tadi. Ini terjadi saat kita mencoba mengubah hidup kita dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Ini terjadi ketika kita menghadapi masalah dan berusaha mengatasinya dengan cara kita sendiri. Pada akhirnya kita hanya akan kelelahan dan hasilnya pun jauh dari apa yang kita harapkan. Padahal, ada cara yang jauh lebih baik yaitu dengan mengandalkan kekuatan Tuhan. Jika gergaji mesin dapat memotong kayu jauh lebih cepat dan rapi karena memakai teknologi mesin, maka mengandalkan kekuatan Tuhan juga akan membuat hidup kita berubah dengan lebih sempurna. Ketika Daud terjepit dan tak ada yang bisa menolongnya lagi, ia menguatkan kepercayaannya kepada Allah (1 Sam. 30:6). Ketika Simson sudah kehilangan kekuatan dan penglihatannya, bahkan menjadi bahan olok-olokan orang Filistin, ia berdoa minta kekuatan dari Tuhan dan di momen itulah ia berhasil menewaskan lebih banyak orang Filistin dibanding saat ia masih kuat (Hak. 16:28-30). Paulus pun memiliki apa yang ia sebut sebagai "duri dalam daging". Namun, ia justru bisa bermegah dalam kelemahannya itu, karena ia tahu kuasa Kristus turun atasnya. (2 Kor. 12:7-10). Contoh-contoh itu menunjukkan betapa bodohnya jika berpikir kita bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Kita hanya akan kelelahan, depresi, putus asa, dan tak puas. Andalkan dan berharaplah pada Tuhan, sebab dari Dialah berkat itu datang. Turuti petunjuk-Nya karena Dia saja yang tahu masa depan kita dan berkuasa atas hidup kita! Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, tambahkanlah imanku sehingga aku tetap mengandalkan Engkau dalam setiap permasalahan hidupku. Amin. (Dod).
Edisi Hari Senin, 5 Oktober 2026 - Pasangan yang saling menghargai dan taat kepada Tuhan
2026/10/04
Kencan Dengan Tuhan - Senin, 5 Oktober 2026 Bacaan: Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak." (Kejadian 21:12) Renungan: Suami takut istri adalah istilah populer dan tentu sering kita dengar di keseharian. Ini adalah istilah cemoohan terhadap suami. Para suami yang seharusnya menjadi kepala, yang mengambil keputusan untuk ditaati istri, justru takut pada istri-istri mereka. Akibatnya, istri mereka tampak lebih berkuasa. Relasi antara suami dan istri dalam sebuah pernikahan memang kadang bisa menjadi sesuatu yang rumit, khususnya dalam hal ini. Di Alkitab, kita bahkan sudah melihatnya sejak awal. Kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa berawal dari Hawa yang terbujuk rayuan ular untuk makan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Kenapa Adam tidak mengingatkan atau melarang istrinya? Di catatan Alkitab, Adam tidak berkata apa-apa, bahkan ikut makan buah itu meski amat mungkin ia ada di dekat Hawa. Demikian pula dengan Abraham dan Sara. Satu saat Sara meminta Abraham untuk menghampiri budaknya, Hagar agar memiliki anak darinya. Abraham menuruti ide Sara itu. Uniknya, saat Hagar mengandung dan memandang rendah Sara, Abraham dipersalahkan Sara (Kej. 16:5). Dua kasus di atas memang menunjukkan dampak negatif akibat suami membiarkan istri mengambil alih peran sebagai pengambil keputusan. Namun, di bacaan hari ini, kita juga membaca bagaimana Tuhan justru meminta Abraham mengikuti keinginan Sara yang kembali ingin mengusir Hagar (dan Ismael). Suami memang kepala keluarga tapi bukan berarti suami tidak usah menggubris apapun nasihat dan pendapat istrinya. Suami yang tak pernah mendengarkan istrinya tidak lebih baik dari suami takut istri yang selalu mengikuti apapun kata istrinya. Suami tak seharusnya takut pada istrinya sendiri karena di dalam kasih tak ada ketakutan. Tapi, jangan juga suami lalu tak peduli masukan istrinya. Suami harus menghormati istri, termasuk pendapatnya. Jika masukan istri memang benar dan selaras kehendak Tuhan, itu bukan hanya nasihat yang baik tapi harus kita ikuti. Bagi para suami, ingatlah hal ini. Bagi istri, ingat juga untuk tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. Pendapat suami tak selalu benar, maka bantulah dia dengan memberikan masukan dengan baik, bukan dengan cara memaksa dan menuntut suami melakukan kehendak istri. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, jadikanlah kami suami dan istri yang taat pada-Mu dan dapat saling menghargai satu dengan yang lain sehingga kami dapat menjadi teladan seperti keluarga kudus di Nazareth. Amin. (Dod).
Edisi Hari Minggu, 4 Oktober 2026 - Bersandar pada hikmat Tuhan
2026/10/03
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 4 Oktober 2026 Bacaan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." (Amsal 3:5) Renungan: Di dalam sebuah buku yang berjudul "Mengatasi Persoalan Hidup", hadirnya masalah bukanlah satu-satunya penyebab depresi. Ada satu lagi aspek penting, yaitu persepsi atas masalah atau peristiwa itu. Kadang, persepsi itu lebih berpengaruh daripada peristiwanya sendiri. Seorang gadis tertarik pada seorang pemuda. Namun, tiap kali gadis itu mengirim chat, pemuda itu selalu lama membalas. la merasa pemuda itu kurang tertarik padanya. la berpikir itu pasti karena ia tidak cantik, tidak pintar, aneh, dsb. la lalu menjadi minder, tertekan, menutup diri dan takut menjalin hubungan dengan pria. Peristiwanya hanya chat yang lama dibalas, tapi persepsi gadis itulah yang membuatnya depresi. Dalam bahasa Inggris, orang yang sedih, tertekan, atau depresi disebut "feeling blue." Bukan karena tubuh mereka jadi berwarna biru, tapi mereka kini seolah melihat dunia dalam lensa biru (yang adalah simbol kehampaan dan kesendirian). Apa yang mereka lihat mungkin sama dengan orang lain, tapi persepsi mereka beda. Ini bukan meremehkan depresi atau menganggap mereka hanya membesar-besarkan masalah. Bukan juga berkata obat depresi cukup dengan berpikir positif. Depresi adalah hal serius yang sering kali muncul karena memang ada masalah yang serius. Namun, ketika kita mulai merasa tertekan, merasa hidup makin jauh dari kata indah, merasa diri begitu buruk dan orang lain begitu jahat, serta tak ada yang bisa diharapkan dalam hidup ini, coba periksa dulu persepsi kita. Yunus merasa dirinya orang baik yang diperlakukan tak adil, padahal ia sedang melawan Tuhan. Elia putus asa dan merasa sendiri, padahal ia baru mengalami kemenangan bersama Tuhan dan masih banyak orang mendukungnya. Bagaimana mereka bisa punya persepsi seperti itu? Ini terjadi saat mereka mulai mengandalkan pemikirannya sendiri. Karena itu, marilah kita senantiasa menyamakan persepsi kita dengan Tuhan. Lihat dari cara pandang-Nya. Cari tahu apa kehendak-Nya melalui segala peristiwa ini. Akuilah bahwa persepsi kita tidak selalu benar dan karenanya kita perlu belajar melihat dari persepsi lain. Dan karena tak ada persepsi yang lebih benar dari persepsi Tuhan, biarlah kita selalu mengecek dan membandingkan cara pandang kita dengan cara pandang-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kuduskanlah pikiranku agar apa yang kupikirkan sesuai dengan pikiran-Mu sendiri, sehingga hatiku tetap tenang. Amin. (Dod).

Podcast reviews

Read Kencan Dengan Tuhan podcast reviews


5 out of 5
2 reviews
★★★★★
clement cl 2021/01/10
Tuhan memberkati...
Renungan sangat membantu Intimasi dengan BAPA. TUHAN YESUS memberkati...
check all reviews on apple podcasts

Podcast sponsorship advertising

Start advertising on Kencan Dengan Tuhan relevant audience podcasts


What do you want to promote?